Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Tidak akan ku biarkan


__ADS_3

Kediaman Zayan


Di taman belakang mansion terlihat Zayan tengah sibuk memberi makan ikan ikan peliharaannya di kolam. Setelah Zayan pensiun tidak ada yang bisa ia kerjakan di rumah selain bermalas malasan seperti ini. Seulas senyum terlihat terbit dari wajahnya yang masih tampan walau sudah termakan oleh usia itu, ketika melihat ikan ikan miliknya berenang dengan cantik ke sana kemari.


"Haruskah aku membuatkan rumah kalian lebih besar lagi?" ucap Zayan seakan akan bertanya kepada ikan ikan yang nampak berenang dengan senangnya di dalam kolam. "Tentu saja kenapa tidak?" imbuhnya lagi sambil terkekeh geli.


Ketika Zayan sedang menikmati waktu santainya bersama ikan ikan peliharaannya, sebuah deringan ponsel miliknya menghentikan segala aktifitasnya. Dengan gerakan yang perlahan Zayan lantas melangkahkan kakinya dan mendudukkan dirinya di kursi kemudian baru menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Zayan setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Ini saya tuan." ucap Malik kaki tangan Zayan yang juga ikut bekerja di perusahaan miliknya untuk melaporkan segala hal yang tengah terjadi di perusahaan.


"Ya katakanlah" ucap Zayan dengan singkat.


"Saya hanya ingin melaporkan bahwa tuan Ardan hari ini tidak datang lagi ke kantor tuan." ucap Malik.


"Apa? kemana anak itu?" ucap Zayan dengan kesal ketika mendengar laporan dari Malik barusan.


"Saya tidak tahu persisnya tuan, namun untuk pekerjaan anda tidak perlu khawatir karena tuan Ardan menyelesaikannya dengan baik walau sekretarisnya harus menjadwal ulang semua pertemuan yang harus di lakukan oleh tuan Ardan." ucapnya lagi.


"Baik... baik dari mananya? benar benar anak yang tidak bisa bertanggung jawab." ucap Zayan lagi dengan nada yang kesal dan penuh penekanan.

__ADS_1


"Tapi tuan..." ucap Malik namun terpotong karena tiba tiba Zayan mematikan ponselnya begitu saja tanpa mendengar terlebih dahulu ucapan Malik selanjutnya.


Dari arah ruang tengah Arsa yang datang ke arah kolam dengan membawa nampan berisi cemilan dan juga kopi, lantas terdiam sekaligus penasaran ketika mendengar Zayan sedang menelpon namun dengan nada yang emosi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pa?" tanya Arsa dengan nada yang pelan namun masih bisa di dengar oleh Zayan.


Sedangkan Zayan yang mendengar suara Arsa lantas langsung menoleh dan menatap ke arahnya. "Siapa lagi kalau bukan putra kesayangan mu itu, dia kan memang hobi sekali membuat darah ku naik!" ucap Zayan dengan kesal.


"Sudahlah pa biarkan saja lagi pula Ardan juga tidak pernah neko neko bukan?" ucap Arsa dengan santainya membuat Zayan semakin kesal karena Arsa selalu saja membela Ardan.


"Ini nih kebiasaan buruk mu, selalu saja di pihak Ardan tanpa henti. Kapan kamu akan membiarkannya tumbuh dewasa dan mandiri? apa kamu tidak sadar gara gara kamu yang selalu membela Ardan kamu sampai menumbalkan Fabian sebagai gantinya." ucap Zayan dengan nada yang menggebu gebu. "Tidakkah kamu sadar bahwa perbuatan mu lima tahun lalu itu keterlaluan ma?" imbuhnya kemudian sambil menatap ke arah Arsa yang sedari tadi diam saja seperti enggan untuk menanggapinya.


"Hentikan pa! mama tahu mama keterlaluan waktu itu mama juga sudah berusaha untuk memperbaikinya, tapi papa malah mengacaukannya kemarin, jika sudah begini apa yang akan papa lakukan pada kedua anak kita?" ucap Arsa kemudian tak mau kalah karena Zayan selalu saja mengungkit tentang kejadian lima tahun yang lalu, namun tidak pernah mencari solusi untuk memperbaikinya.


"Pa! mama sudah lelah ya membahas hal ini. Papa tidak lelah apa terus terusan mengungkitnya? tidakkah papa pernah berpikir bagaimana perjuangan Ardan waktu itu untuk bangkit dari rasa keterpurukannya? papa benar benar keterlaluan!" ucap Arsa kemudian melenggang pergi dari sana karena kesal akan ucapan Zayan yang terus menyudutkan Ardan.


"Bukankah mama juga tahu bagaimana Fabian terpuruk waktu itu? asal kamu tahu ma perbuatan mu itu sama saja dengan kamu menyelamatkan nyawa satu anak dan mengorbankan nyawa anak yang lainnya." ucap Zayan dengan nada yang lebih lirih.


Arsa yang mendengar ucapan Zayan barusan lantas menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak, sampai kemudian Arsa kembali melangkahkan kakinya kembali ke dalam meninggalkan Zayan sendirian di sana.


***

__ADS_1


Sementara itu di Resto


Setelah puas melihat kupu kupu Ardan yang lapar lantas mengajak Allea makan siang di Resto, tingkah laku keduanya benar benar terlihat seperti sedang melakukan kencan buta. Hingga membuat beberapa karyawan yang mengenal Ardan lantas di buat terheran heran akan perhatian yang di berikan Ardan pada Allea. Padahal sebelumnya Ardan terkenal cuek bebek dengan wanita namun setelah melihat kedekatannya dengan Allea, membuat beberapa karyawati nampak iri akan perlakuan yang di berikan Ardan pada Allea.


Ardan mengambil beberapa tisu di mejanya kemudian mengelap mulut Allea yang penuh dengan saus tomat di sana.


"Makanlah pelan pelan, tidak akan ada yang memintanya darimu." ucap Ardan sambil menaruh tisu kotor di sebelah meja.


"Ini... sangat enak aku suka..." ucap Allea sambil tersenyum bahagian dan terus melanjutkan makannya.


Ardan menatap kelakuan Allea sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat kelakuan Allea yang seperti itu rasanya sangat menyenangkan bagi Ardan.


"Baiklah jika kamu suka dan mau lagi katakan saja, biar aku akan memesankannya lagi untuk mu." ucap Ardan kemudian sambil mengusap pelan puncak kepala Allea.


"Benarkah?" tanya Allea tidak percaya, yang di balas Ardan dengan anggukan kepala. "Terima kasih banyak." imbuhnya kemudian dengan tersenyum tulus menatap ke arah Ardan.


Sementara itu tanpa keduanya sadari tak jauh dari tempat keduanya berada, tengah berdiri Lira sedang menatap ke arah Allea dan juga Ardan dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.


"Si Idiot itu benar benar sok kecantikan, dia pikir dia siapa pakai acara mendekati pak Ardan seperti itu. Bukankah dia terlalu tidak tahu diri jika menginginkan posisi nyonya di keluarga Zayan? Gadis idiot seperti dia itu tidak akan cocok bersanding dengan pak Ardan." ucapnya meremehkan.


Jujur saja setelah insiden waktu itu dan pemecatannya secara tiba tiba, Lira menyimpan perasaan benci terhadap dua bersaudara itu. Baginya semua yang terjadi dan menimpa dirinya karena ulah dari Alia dan Allea. Lira tidak akan bisa tenang jika melihat kedua saudara itu hidup bahagia begitu saja di atas penderitaannya.

__ADS_1


"Lihat saja kalian berdua, aku tidak akan tinggal diam begitu saja melihat kalian bahagia di atas penderitaan ku, tidak akan pernah!" ucap Lira dengan nada yang penuh penekan di setiap ucapannya.


Bersambung


__ADS_2