Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kamu cemburu?


__ADS_3

"Bukankah Shila mengatakan bahwa Fabian hanya bersandiwara saja? tapi mengapa aku malah melihat pancaran cinta yang berasal dari manik mata keduanya." ucap Rendra lagi dengan nada yang lirih sambil terus menatap ke arah buket bunga dengan tatapan yang sendu.


Di saat tanda tanya besar terlintas secara bertubi tubi di otak Rendra, sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya lantas langsung mengejutkan Rendra dari lamunannya.


"Rendra!" pekik Fabian yang tanpa sengaja melihat Rendra teman masa kuliahnya yang kini tengah berdiri di lorong Rumah Sakit menatap ke arahnya dengan tatapan yang melamun.


Rendra yang mendengar panggilan tersebut, lantas langsung dengan spontan membuyarkan lamunan kemudian tersenyum sambil melangkahkan kakinya mendekat menghampiri Fabian.


"Fabian... lama kita tidak bertemu ya..." ucap Rendra sambil memeluk hangat Fabian layaknya seorang saudara yang sudah lama tidak bertemu, sedangkan Alia yang tidak mengenal Rendra sebelumnya hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang bingung dan sedikit.


"Ya ya ya lama sekali, apakah Rumah sakit ini salah satu tempat untuk ajang Reuni? aku bahkan bertemu dengan Lita juga kemarin di sini dan sekarang malah ketemu dirimu juga di Rumah Sakit ini." ucap Fabian dengan antusias.


"Oh ya? mengapa aku tidak tahu?" ucap Rendra dengan tersenyum lebar sambil sesekali melirik ke arah di mana Alia tengah berada saat ini.


"Apa kau sedang menjenguk seseorang di sini?" tanya Fabian kemudian ketika melihat buket bunga di tangan Rendra.


"Iyap, ada rekan kerja ku yang mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu dan aku baru sempat mengunjunginya hari ini." ucap Rendra berdalih seakan akan memang ia benar benar tengah menjenguk seseorang di Rumah Sakit saat ini. "Kalau kau? apa yang kau lakukan di sini bro?" tanya Rendra kemudian sambil memasang raut wajah yang seakan akan sedang penasaran padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu.


"Aku datang untuk menjaganya, kenalkan ini Alia dan Alia ini Rendra teman lama ku." ucap Fabian sambil menunjuk ke arah Alia yang tengah duduk di kursi roda.


Alia yang baru saja di kenalkan oleh Fabian, lantas perlahan lahan mulai mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis ke arah Rendra, hingga membuat Rendra terdiam seketika melihat senyuman dari Alia barusan.


"Alia" ucap Alia sambil tersenyum ke arah Rendra.


"Melihatnya tersenyum dari jarak sedekat ini membuat hati ku seakan teras tenang, senyuman yang biasanya aku lihat dari kejauhan kini aku bisa menikmati sekaligus melihatnya dari dekat." ucap Rendra dalam hati seakan terpanah akan senyuman dari Alia barusan.

__ADS_1


Ehem...


Kode Fabian, berniat untuk memecah keheningan yang terjadi di antara keduanya, perasaan Fabian sedikit tidak enak ketika melihat binar binar kebahagian dari manik mata Rendra ketika berjabat tangan dengan Alia barusan. Rasanya seakan Rendra seperti tengah menyimpan sebuah rasa untuk Alia saat ini layaknya tatapan cinta kepada perempuan tambatan hatinya.


"Ehem... Rendra..." ucap Rendra kemudian yang langsung tersadar karena deheman yang berasal dari Fabian barusan.


Jabatan tangan keduanya perlahan lepas tepat setelah suara deheman yang berasal dari Fabian tepat setelah perkenalan keduanya yang telah berakhir, terlihat dengan jelas manik mata sendu yang di tunjukkan oleh Rendra seakan tidak ingin menyelesaikannya dengan cepat dan masih ingin bertemu dengan Alia.


"Baiklah, lain kali kita sambung lagi ya bro... Alia sudah harus pergi dan meminum obatnya." ucap Fabian kemudian karena merasa tidak suka akan tatapan yang di tunjukkan oleh Rendra kepada Alia.


"Oh tentu, aku juga akan menemui rekan kerja ku." ucap Rendra kemudian yang baru tersadar ketika mendengar ucapan dari Fabian barusan.


"Baiklah kita sambung lain waktu." ucap Fabian sambil mulai mendorong kursi roda Alia dan hendak membawanya kembali ke ruang perawatan namun urung karena panggilan dari Rendra barusan, lantas langsung membuat langkah kaki Fabian terhenti seketika.


"Ada apa?" tanya Fabian dengan raut wajah yang bingung ketika mendengar panggilan dari Rendra barusan.


Rendra yang melihat Fabian menghentikan langkah kakinya, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya kemudian langsung memberikan buket bunga tersebut kepada Alia, membuat Fabian dan juga Alia yang menerima buket bunga tersebut terlihat bingung dan bertanya tanya akan maksud dari Rendra yang memberikan buket bungan tersebut kepada Alia.


"Bukankah ini untuk teman mu?" tanya Alia dengan raut wajah yang bingung.


"Sepertinya lebih cocok untuk mu, lagi pula dia seorang pria... setelah di pikir pikir lagi bukankah agak aneh jika aku menjenguk rekan kerja ku sambil membawa buket bunga." ucap Rendra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, namun malah membuat Fabian mengernyit dengan bingung ketika mendengarnya.


"Makasih.." ucap Alia kemudian sambil ragu ragu menerimanya karena ia merasa aneh akan tingkah dari Rendra yang seakan akan sudah mengenalnya sejak lama.


"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai jumpa..." ucap Rendra kemudian sambil melambaikan tangannya dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Alia yang melihat kelakuan dari teman Fabian barusan, hanya bisa sesekali melirik ke arah Fabian tanpa tahu harus berkomentar apa saat ini. Tidak hanya Alia saja yang kebingungan Fabian bahkan sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat kelakuan Rendra yang seperti itu.


**


Di ruang perawatan Akila


Fabian yang sudah bersiap untuk menggendong dan memindahkan tubuh Alia ke ranjang pasien, lantas harus urung karena Aila yang menghentikan gerakannya dengan tiba tiba.


"Ada apa?" tanya Fabian kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku bahkan belum memindahkannya ke wadah yang berisi air, namun kamu malah kembali menyuruhku untuk berbaring." ucap Akila sambil mencebikkan mulutnya begitu saja.


"Sudahlah... kenapa jadi kamu yang kesal? lagi pula bunga ini hanyalah sebuah bunga pasaran saja... biar aku belikan besok yang baru untuk mu dari pada bunga ini." ucap Fabian dengan nada yang kesal, membuat Alia lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Jangan bercanda begitu Bi, itu tidaklah lucu! bunga ini bisa mati dan layu jika tidak di taruh di wadah." ucap Alia kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Fabian yang kini tengah berdiri sambil bersendekap dada menatap ke arahnya.


"Jika ku bilang tidak ya tidak!" ucap Fabian lagi sambil menarik buket bunga tersebut dari tangan Alia.


"Kamu sudah keterlaluan Bi! kemari kan bunganya... lagi pula mengapa kamu sangat marah? itu hanyalah sebuah bunga!" ucap Alia dengan nada yang masih berusaha untuk lembut ketika melihat keisengan dari Fabian barusan.


"Sudahlah... yang harus kamu lakukan itu cukup istirahat dan segera pulih oke..." ucap Fabian lagi yang malah semakin membuat kesal Alia.


"Kau cemburu ya?" ucap Alia pada akhirnya yang lantas menghentikan langkah kaki Fabian yang hendak membuang bunga tersebut ke tong sampah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2