
Resto
Allea yang tak kunjung melihat kedatangan Alia lantas menunggu di depan Resto sambil berteduh di bawah pohon rindang dengan angin semilir yang sejuk terasa menerpa kulit.
Allea mengetuk ketukan kedua kakinya secara bergantian berulang kali lalu tersenyum, gadis itu benar benar mudah sekali tersenyum hanya karena hal hal kecil.
"Kau sendirian di sini?" tanya sebuah suara yang lantas mengejutkan Allea yang tengah tersenyum menikmati ketukan kedua kakinya.
"Pe... pergi dari sini aku tidak mau melihat... mu." ucap Allea sambil mengibaskan tangannya kemudian berbalik memunggungi Lira.
"Cih dasar gadis idiot!" batinnya dalma hati.
Lira yang mendapat penolakan dari Allea lantas melangkah sedikit melipir dan berhenti di hadapannya. Membuat Allea yang melihat hal itu lantas menggelengkan kepalanya dengan keras sambil menggerakkan tangannya secara cepat berusaha untuk mengusir Lira dari sana.
"Tenanglah aku tidak akan mengganggu mu." ucap Lira berusaha menenangkan Allea yang terus memukul mukulkan tangannya ke arah Lira.
"Pergi.... pergi.." ulang Allea lagi.
Lira yang mulai kesal akan sikap Allea yang terus mengusirnya lantas langsung berteriak sambil menghempaskan tangan Allea. "Aku hanya ingin memberitahu mu tentang Alia, kenapa kau kasar sekali sih!" teriak Lira yang langsung membuat Allea menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Lira dengan bingung.
"Alia..." ucapnya lirih sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara pelan, membuat Lira lantas tersenyum karena Allea mulai merespon ucapannya.
"He.em... karena dulu aku satu kelas dengan Alia jadi aku tau sedikit banyak tentang Alia. Apa dia pernah mengatakan satu rahasia padamu?" tanya Lira kemudian sengaja dengan nada yang di buat buat.
"Rahasia? ti... tidak mungkin... jelas jelas tidak ada rahasia di antara kami..." ucap Allea dengan tersenyum cerah, membuat Lira muak ketika melihat senyuman itu.
Lira kemudian tersenyum ketika mendengar jawaban dari Allea barusan. "Asal kau tau, Alia itu sangat membenci mu. Ia tidak suka kau selalu mengikutinya kemanapun Alia pergi." ucap Lira mencoba memancing Allea. "Kau ini hanya bodoh karena terus bergantung pada adik mu itu, padahal jelas jelas Alia sama sekali tak menginginkan mu. Aku tahu kau tidak akan langsung percaya akan ucapan ku, tapi coba kau pikir. Jika Alia menyayangi mu, kenapa sekarang kau di tinggal sendirian? bukankah itu sudah membuktikan ucapan ku barusan?" ucap Lira dengan nada bicara yang di buat buat.
__ADS_1
Allea yang mendengar hal itu lantas terdiam, sepertinya ucapan Lira benar benar masuk di dalam hatinya. Bagi Allea apa yang di ucapkan oleh Lira adalah kebenaran, bayangan masa masa kecil ketika Allea hampir meninggal karena tenggelam lantas mulai berputar di kepalanya. Allea sebisa mungkin menggeleng dengan keras berusaha melupakan kejadian waktu itu, namun anehnya semakin dia berusaha, bayangan Alia yang pergi meninggalkannya waktu itu membuat Allea terus berpikir bahwa Alia benar benar tidak menginginkan seorang kakak seperti dirinya.
"Aaaaa Al tidak menginginkan ku... Al tidak menginginkan ku..." ucapnya berulang kali sambil menggerakkan tangannya berulang kali ke arah kepalanya naik dan turun.
"Waduh saatnya aku kabur nih..." ucap Lira kemudian ketika melihat Allea yang sudah mulai kumat karena terpengaruh ucapannya barusan.
Setelah melihat perkataannya merasuk tepat sasaran, Lira lantas melarikan diri dari sana sebelum ada seseorang yang melihat dirinya mempengaruhi Allea.
"Aaaaaaaaa Al tidak menginginkan aku...." ucapnya lagi dengan nada yang terus di ulang sambil bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gelisah.
**
Sementara itu dari arah parkiran terlihat Fabian tengah memarkirkan mobilnya dengan aman. Seulas senyum terbit dari wajah tampannya, Fabian benar benar bahagia bisa jalan berdua bersama dengan Alia. Fabian merasa momen ini benar benar langka untuknya.
"Jadi Al apa kamu senang berkeliling dengan ku?" ucapnya dengan senyum yang mengembang.
Alia yang melihat kakaknya seperti itu lantas langsung berlari turun dari mobil, membuat Fabian yang semula tersenyum lantas menatap ke arah Alia dengan bingung lalu ikut turun dan berlari mengejar Alia yang tiba tiba saja pergi.
"Tunggu Al ada apa?" teriak Fabian sambil terus berlari mengikuti langkah Alia yang sudah jauh di depannya.
Alia berlari dengan langkah yang terburu buru menuju ke arah Allea kemudian mendekap Allea dengan penuh kelembutan.
"Kakak tenang ada Al di sini..." ucapnya dengan lirih sambil terus berusaha menenangkan Allea.
Sedangkan Allea yang mendengar suara Alia semakin di buat meronta ketika kembali teringat akan ucapan Lira tadi. Allea kemudian lantas mendorong Alia dengan sekuat tenaga, membuat Alia yang tidak ada persiapan apapun langsung terhuyung dan jatuh dengan posisi tangan yang menopang tubuhnya sehingga membuat tangannya sedikit terkilir.
"Kak ini Alia kak!" ucapnya kemudian sambil bangkit dan kembali memberikan pelukan kepada kakaknya itu tanpa memperdulikan rasa sakit di tangannya.
__ADS_1
Alia yang merasa Allea terus saja memberontak lantas di buat heran karena biasanya pelukan darinya sangat manjur apabila sang kakak sedang bereaksi atau tertekan. Hanya saja kenapa kali ini sangat berbeda?
"Lepaskan... lepaskan... lepaskan... jangan sentuh aku..." teriak Allea yang lagi lagi mendorong tubuh Alia membuatnya mundur beberapa langkah, namun kali ini berhasil di tangkap oleh Fabian sehingga tidak sampai jatuh ke bawah.
Allea menggerakkan tangannya ke atas dan bawah seperti tengah memukuli kepalanya dengan cepat sambil menatap tajam ke arah Alia, membuat Alia yang tidak tahu apa apa lantas di buat bingung akan maksud tatapan Allea padanya.
"Kamu tidak apa apa Al?" tanya Fabian yang berhasil menangkap tubuh Alia tadi.
"Tak apa, terima kasih." ucap Alia singkat kemudian membenarkan posisinya berdiri.
"Aku juga tidak minta... dilahirkan seperti ini... kenapa kamu tidak menginginkan ku..!" teriak Allea dengan histeris, sedangkan Alia yang mendengar itu lantas benar benar di buat kebingungan.
"Apa maksud kakak? Al tidak mengerti kak..." ucap Alia sambil berusaha mendekat ke arah kakaknya itu.
"Jangan men..dekat!" teriak Allea yang lantas membuat Alia menghentikan langkahnya. "Kau tidak menyukai ku kan? baik dulu dan sekarang... kau selalu saja begitu..." ucap Allea.
"Tidak kak, siapa yang mengatakan hal itu pada kakak hah?" ucap Alia menyangkal.
"Bo... bohong... bahkan kau dulu ingin membunuh ku! ya kau ingin membunuh ku... dia ingin membunuh ku!" teriak Allea yang lantas membuat raut wajah Alia dan juga Fabian berubah seketika.
Beberapa orang yang mendengar teriakan Allea barusan lantas penasaran dan mulai melihat ke arah ketiganya sambil berbisik bisik.
"Dia ingin membunuh ku!" teriak Allea lagi sambil menunjuk ke arah Alia.
"Ti... tidak kak tidak..." ucap Alia dengan tergagap.
Bersambung
__ADS_1