Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Cara mendidik


__ADS_3

Dengan perasaan yang tak gentar sedikitpun, Ardan terus melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya sambil menggenggam tangan Allea dengan erat sedari tadi tanpa berniat melepas sedikitpun genggaman tangannya.


Walau pernikahannya dan Allea terjadi karena kecelakaan namun bagi Ardan pernikahan tetaplah sebuah ikatan suci yang sakral dan bukan sebuah permainan.


"Pernikahan ini memang bukan atas dasar cinta, tapi aku tidak akan pernah bermain dengan sebuah kata pernikahan." ucapnya dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan mansion utama.


Dengan perlahan Ardan lantas mulai membukakan pintu mobil untuk Allea dan memasangkannya sabuk pengaman tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sedangkan Allea hanya diam menunduk sambil memainkan kuku kuku jarinya sedari tadi tanpa berani membuka pembicaraan terlebih dulu.


Ya ini seperti sudah menjadi kebiasaan bagi Allea sedari kecil, di mana ketika dia gelisah, tertekan atau merasakan sesuatu, Allea selalu saja memainkan kuku kuku jarinya dengan keras secara berulang kali hingga terkadang jari jari tangannya terluka karena tergores kukunya yang panjang.


"Aku bukan benalu... aku bisa mengurus diriku sendiri... mereka semua salah..." ucap Allea dalam hatinya sambil masih terus menunduk, tanpa berani menatap ke arah depan ataupun memandang Ardan yang terlihat mulai memasuki mobilnya dan duduk di bangku pengemudi.


Ardan yang baru saja masuk lantas menghentikan gerakannya yang hendak melajukan mobilnya ketika melihat Allea melukai jari jari tangannya dengan terus memainkan kuku kuku jarinya.


Ardan menghela nafasnya panjang kemudian mencoba menghentikan gerakan tangan Allea.


"Hentikan Lea... kamu melukai jari jari tangan mu.." ucap Ardan sambil memperhatikan jari Allea yang sedikit berdarah.


Ardan yang melihat jari tangan Allea terluka, lantas dengan cekatan mengambil kotak P3 K dan mulai mengobati jari jari tangan Allea yang terluka.

__ADS_1


"Jangan membuat ku menyesal memilih mu dengan melakukan hal ini Lea, aku sungguh tidak mengharapkan ini!" ucap Ardan sambil membalutkan plester ke jari tangan Allea. "Aku minta maaf jika ucapan papa ku melukaimu, jangan terlalu di pikirkan hem..." ucap Ardan sambil menatap dalam dalam ke arah Allea dan mengusap rambutnya secara perlahan.


Allea yang mendapat semua perlakuan tersebut hanya diam dan hanyut ke dalamnya. Bagi Allea ini sangatlah manis, pengalaman pertamanya di ratukan oleh seorang pria membuat Allea benar benar jatuh ke dalamnya. Allea tidak tahu apakah itu cinta, namun melihat perlakuan manis dari Ardan membuat hati Allea luluh tanpa bisa lagi berkata kata selain hanya menerima segala perlakuan dari laki laki itu.


"Jantung ku... seperti meletup letup..." ucap Allea dalam hati sambil masih terus menatap ke arah Ardan yang hendak melajukan mobilnya.


Keduanya kemudian lantas meninggalkan halaman mansion utama begitu saja tanpa ingin kembali menoleh ke arah belakang ataupun mengiba pada Zayan dan mengharap restu darinya.


Sedangkan Arsa yang melihat mobil putranya sudah pergi meninggalkan kediamannya, lantas menatap dengan tajam ke arah Zayan yang masih terdiam di sofa dengan tatapan tak bisa di jelaskan ke arah pintu utama tepat setelah kepergian putranya dari sana.


"Kamu sudah benar benar keterlaluan kali ini pa!" ucap Arsa dengan penuh penekanan di setiap ucapannya dan tatapan tajam ke arah Zayan.


"Kalau kamu gak tahu apa apa diam lah ma... jangan menghakimi papa seperti itu!" ucap Zayan dengan nada yang lirih sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bagian mananya yang mama tidak tahu pa? bagian mananya coba?" ucap Arsa dengan kesal.


Zayan yang mendengar ucapan istrinya barusan lantas bangkit kemudian melangkah mendekat ke arah Arsa sambil memijat pelipisnya dengan pelan, Zayan sendiri bingung harus menjelaskannya seperti apa pada Arsa karena bagi Zayan yang dilakukannya tadi pada Ardan adalah sebagian dari caranya mendidik putranya.


"Begini ya ma, Ardan itu anak kita dan papa menginginkan yang terbaik untuknya. Menikahi wanita itu bukanlah keputusan yang tepat, seorang istri itu tugasnya mengurus suami. Jika dia saja tidak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana bisa mengurus anak kita?" ucap Zayan mencoba untuk memberi pengertian kepada Arsa.

__ADS_1


"Mama tahu itu, tapi setidaknya bukan dengan cara itu pa... semua bisa di bicarakan secara baik baik.." ucap Arsa masih kekeh bahwa suaminya kali ini salah.


Zayan hanya menghela nafasnya panjang ketika mendengar ucapan istrinya barusan karena apa yang di ucapkan istrinya barusan jugalah benar adanya, hanya saja cara keduanya yang berbeda.


"Itu tidak akan bisa ma, bukankah mama tahu sendiri bagaimana watak Ardan? papa melakukan ini juga demi Ardan, jika dia memang yakin dengan keputusannya yang menikahi wanita itu biarkan saja itu berjalan sesukanya. Papa hanya ingin menguji anak itu, apakah dia benar benar bisa menanggunya atau itu bualannya saja. Papa hanya tidak mau keputusan Ardan kali ini di buat karena rasa simpati pada wanita itu." ucap Zayan menjelaskan panjang kali lebar maksud dari perlakuannya tadi.


Arsa terdiam mencoba mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu, hingga kemudian barulah ia mengerti maksud dari perlakuan Zayan pada Ardan tadi.


"Jadi maksud papa..." ucap Arsa namun sengaja terhenti karena ia juga tidak yakin apakah tebakannya tepat kali ini.


"Ya, papa bukan tidak merestui mereka namun papa hanya ingin mencoba mengetes anak itu. Papa tidak terlalu yakin Ardan bisa melakukannya mengingat urusan perusahaan saja dia masih keteteran. Bagaimana dia mau mengurus yang lainnya?" ucap Zayan lagi yang lantas membuat Arsa menatapnya dengan kesal.


"Papa..." ucap Arsa sengaja dengan nada yang memanjang tepat ketika mendengar ucapan Ardan barusan.


"Maaf" ucap Zayan sambil tersenyum. "Tapi ma bukankah Ardan bisa mencari yang lebih baik dari gadis itu? papa benar benar takut Ardan salah mengambil keputusan dan pada akhirnya akan berakhir dengan perceraian." ucap Zayan sambil menatap kosong ke arah depan.


"Mama juga tidak tahu, mungkin salah satu alasannya karena wajah gadis itu mirip dengan Rima, sehingga perasaan Ardan yang memendam rindu terlalu lama dan teramat kepada Rima menjadi meletus ketika melihat sosok gadis dengan wajah yang sama dengan mendiang istrinya." ucap Arsa mencoba menerka namun juga tidak terlalu yakin akan tebakannya tentang Ardan.


"Semoga saja Ardan bisa mengambil pilihan yang bijak dan tidak bertindak sembrono." ucap Zayan dengan penuh harap ketika mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Kita percayakan saja pada Ardan, mama yakin Ardan tahu mana yang terbaik untuknya." ucap Arsa dengan nada yang yakin.


Bersambung


__ADS_2