
"Aku tidak lihat.. aku tidak lihat... bodoh amat!" ucap Alia dalam hati terus merapalkan mantra untuk penguat dirinya sendiri.
Hingga ketika dirinya sudah melewati begitu saja mobil Fabian dengan langkah yang mantap, sebuah suara yang sangat ia kenali mendadak terdengar di telinganya, membuat langkah kaki Alia lantas terhenti seketika.
"Al..." teriak sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya.
"Mengapa harus sekarang sih?" ucap Alia ketika mendengar suara Fabian yang kini tengah memanggil dirinya.
"Al... bisakah kita untuk bicara?" tanya Fabian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alia berada.
Alia yang mendengar permintaan dari Fabian hanya terdiam dan enggan untuk berbalik badan. Alia tidak mau nantinya kembali luluh ketika menatap manik mata milik Fabian.
"Al kumohon..." pinta Fabian karena Alia tak kunjung bersuara juga.
"Sebaiknya untuk beberapa waktu jangan temui aku dulu Bi, semakin kita menjaga jarak mungkin itu akan semakin bagus." ucap Alia tetap dengan posisinya yang saat ini sedang memunggungi Fabian.
"Tapi Al aku sungguh.." ucap Fabian namun terpotong akan ucapan Alia.
"Pulanglah Bi, besok jangan datang lagi! anggap saja kita tidak saling kenal." ucap Alia kemudian melenggang pergi tanpa memperdulikan Fabian ataupun mendengar penjelasan dari laki laki itu.
"Mengapa semua jadi begini sih?" ucap Fabian dengan kesal tepat setelah kepergian Alia dari sana.
***
Di salah satu Apartment yang terletak tak jauh dari bengkelnya, terlihat Ardan dan juga Allea melangkahkan kakinya masuk ke dalamnya.
Ditatapnya area sekeliling apartment dengan senyuman, memang ukuran Apartment ini lebih kecil dari miliknya. Hanya saja Ardan membeli Apartment ini dengan menggunakan uang tabungan pribadinya sendiri, jadi bukankah ini lebih bermakna?
"Bagaimana? apakah kamu menyukainya?" tanya Ardan kepada Allea.
"Sebenarnya... tinggal di bengkel juga tidaklah buruk... aku tahu kamu sedang berhemat... ja.. jadi kita tak perlu tinggal di sini." ucap Allea dengan nada yang ragu ragu karena takut Ardan akan marah ketika dirinya ikut campur tentang masalahnya.
__ADS_1
Ardan yang mendengar ucapan Allea barusan lantas tersenyum sambil mengusap puncak kepala Allea dengan pelan.
"Jangan bercanda, aku membeli ini khusus untukmu. Lagi pula di bengkel sangatlah sempit aku tahu kamu tidak terlalu nyaman tinggal di sana. So... aku tidak mau mendengar ada penolakan lagi oke?" ucap Ardan kemudian.
"Em baiklah..." ucap Allea pada akhirnya sambil memainkan kuku kuku jarinya.
Setelah pembicaraan singkat itu, keduanya kemudian melanjutkan kegiatan mereka dengan beberes beberapa perlengkapan mereka yang baru datang, tidak terlalu banyak yang di lakukan oleh Allea karena memang Ardan tidak mengijinkan Allea untuk mengangkat barang dan menyuruh Allea untuk beristirahat.
Sebenarnya Ardan sudah cukup lama membeli apartment ini tepat setelah Zayan mengusirnya beberapa waktu yang lalu. Hanya saja Ardan membutuhkan waktu untuk merenovasinya mengingat Ardan yang juga sedang dalam kondisi berhemat jadilah renovasi Apartment tersebut sedikit terhambat.
Allea yang melihat Ardan seperti kelelahan lantas membuatkan Ardan jus jeruk yang mungkin akan meredakan rasa hausnya.
"Minumlah ini..." ucap Allea dengan malu malu sambil menyodorkan segelas jus jeruk kepada Ardan, membuat Ardan lantas tersenyum ketika mendapat perlakuan tersebut dari Allea.
"Terima kasih banyak." ucap Ardan dengan tersenyum.
Ardan yang memang dalam kondisi haus, lantas langsung meminum jus jeruk buatan Allea hingga tandas dan tak tersisa.
"Rasanya tidak buruk." ucap Ardan dalam hati setelah menghabiskan jus jeruk buatan Allea barusan.
"Em tidak perlu, aku sudah memesankan makanan untuk kita sekalian untuk acara makan malam nanti, jadi kamu gak perlu repot." ucap Ardan yang langsung membuat Allea terdiam karena merasa tidak terlalu di butuhkan oleh Ardan.
Bukannya Ardan tidak menyukai masakan dari Allea, hanya saja mengingat kondisi Allea yang mengidap autis membuat Ardan harus lebih prepare dan menjauhkan Allea dari beberapa peralatan yang bisa membahayakannya.
Ardan tidak mau jika kondisi mental Allea sedang down, beberapa barang yang berbahaya seperti kompor, pisau atau semacamnya malah akan melukai Allea nantinya.
"Aku mau mandi dulu, jika ada pegawai catering yang datang suruh masuk saja aku sudah melunasi tagihannya." ucap Ardan sambil mengacak acak rambut Allea dengan pelan kemudian bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Allea di sana.
"Jika memang ini sudah takdir ku, aku akan belajar dari masa lalu. Aku tidak akan menyia-nyiakannya seperti aku menyianyiakan Rima dahulu karena terlalu sibuk akan urusan kantor." ucap Ardan sambil berlalu pergi menuju ke arah kamar mandi.
Sedangkan tanpa Ardan sadari Allea yang di perlakukan bak ratu malah merasa seperti tidak di butuhkan oleh Ardan. Kondisi mental Allea yang sering down membuat Allea terus menerus berpikiran jelek tanpa melihat sisi positifnya dari setiap sudut pandangnya.
__ADS_1
Allea menatap kepergian Ardan dengan raut wajah yang sedih, entah mengapa Allea merasa seakan Ardan tidak menganggapnya ada. Segala hal Ardan lakukan sendiri tanpa ingin Allea membantunya, membuat Allea merasa bahwa Ardan tidak menyukai kehadirannya di sini.
"Apa... apa aku setidak berguna itu di mata Ardan? aku... aku bahkan sudah berusaha untuk melakukan semua yang terbaik, tapi... tapi Ardan malah tak mengijinkan aku membantunya..." ucap Allea dengan nada yang sendu sambil memilin bajunya kecil kecil seakan berusaha menahan isak tangisnya.
***
Malam harinya.
Dari arah lobi, terlihat Alia baru saja turun dari taksi dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi Apartment. Dengan langkah yang bergegas Alia lantas masuk ke dalam lift menuju unit Apartment Ardan dan juga kakaknya.
Malam ini adalah pesta perayaan kecil kecilan untuk rumah baru kakaknya. Ingin sekali rasanya Alia tidak pergi karena takut Fabian juga ada di sana mengingat Fabian adalah adik Ardan, sudah dapat di pastikan Fabian pasti ada di sana.
Ting
Suara pintu lift yang terbuka membuyarkan segala lamunan Alia, dengan langkah yang perlahan Alia mulai melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju ke arah unit Apartment Ardan.
Setelah melewati beberapa unit Apartment di lorong tersebut, Alia menghentikan langkah kakinya tepat di unit Apartment milik Ardan.
"Semua akan baik baik saja, kamu hanya tinggal berakting, duduk sebentar kemudian pulang... ya setidaknya itu tidak terlalu sulit bukan?" ucapnya pada diri sendiri meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja.
Ting tong ting tong
.
.
.
Cklek
Suara pintu terbuka mulai terdengar di pendengaran Alia, Alia yang sedari tadi sibuk mengatur ritme jantungnya perlahan langsung berbalik badan ketika mendengar suara pintu di buka dari dalam.
__ADS_1
"Selamat ...." ucap Alia namun tergantung dengan senyuman yang terhenti di udara, tepat ketika ia melihat yang membuka pintu adalah seseorang yang Alia harap tidak bertemu dengannya disini.
Bersambung