
Setelah perdebatan kecil antara Fabian dan juga Alia tadi di meja makan, pada akhirnya Fabian memberikan ijin kepada Alia untuk membuka tokonya asalkan dengan syarat yaitu toko bunga Alia hanya boleh di buka setengah hari saja, sedangkan untuk urusan transportasi Alia hanya boleh di antara dan di jemput oleh Fabian dan bukan yang lainnya. Tidakkah Fabian terlalu berlebihan?
"Ingat syarat dari ku tadi Ki... jangan sampai kamu melanggarnya." ucap Fabian lagi memperingatkan ketika Alia hendak melangkahkan kakinya turun dari mobil.
"Iya iya Bi, kamu tidak perlu terus mengingatkan ku seperti itu." ucap Alia dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah Fabian, kemudian bergegas turun dari mobil Fabian sebelum mendengar kembali omelan dari Fabian jika ia tidak kunjung pergi juga dari hadapan Fabian.
Setelah mengantar Alia di toko, Fabian kemudian melajukan mobilnya dengan hati yang tenang dan lega, sedangkan Alia yang melihat kepergian mobil Fabian dari depan tokonya tentu saja langsung senang karena pada akhirnya Fabian pergi juga dan tidak lagi mengomel di hadapannya.
"Syukurlah dia sudah pergi sekarang." ucap Alia sambil menatap kepergian mobil Fabian dari depan tokonya.
Alia melangkahkan kakinya kemudian membuka tokonya dengan perlahan, hingga kemudian seorang kurir yang baru saja datang menghentikan gerakan tangannya.
"Dengan mbak Alia?" tanya kurir tersebut.
Alia yang namanya di panggil, lantas langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Ya saya..." ucap Alia dengan tatapan yang bingung karena ia sama sekali tidak merasa memesan sesuatu atau semacamnya.
"Saya mengantarkan paket atas nama anda, silahkan tanda tangan di sini.." ucap kurir tersebut sambil menunjukkan sebuah kotak di dalam kertas untuk Alia tanda tangani.
Tanpa berpikir terlalu lama, Alia kemudian lantas membubuhkan tanda tangannya pada kotak yang di tunjuk oleh kurir tersebut, setelah itu membawa paket tersebut masuk ke dalam toko.
Alia membawa paket itu masuk dan menaruhnya di atas meja. Alia mengambil gunting di atas rak kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah paket tersebut.
"Peket misterius lagi? aku sepertinya tidak membeli sesuatu belakangan ini, mengapa selalu saja ada paket yang datang tanpa aku pesan?" ucap Alia sambil mulai membuka secara perlahan paket itu.
Hingga kemudian gerakannya terhenti ketika bayangan tentang paket misterius yang datang ke rumahnya beberapa waktu lalu kembali terlintas di benaknya.
"Jangan bilang ini paket lelucon lagi seperti tempo hari." ucap Alia sambil mencebikkan mulutnya ketika mengingat paket yang datang kepadanya beberapa waktu lalu.
Alia yang sudah mulai penasaran, lantas langsung mempercepat gerakannya untuk membuka paket tersebut, hingga ketika lapisan peket tersebut hanya tersisa bagian terakhirnya saja, Alia mulai membukanya secara perlahan.
__ADS_1
Sebuah foto yang berisi plat nomor mobil terpampang dengan jelas di dalam foto tersebut, membuat Alia lantas langsung menghentikan gerakkannya ketika ia tahu betul nomor plat yang ada di dalam foto tersebut.
"Bukankah ini plat mobil milik ibu?" ucap Alia dengan nada yang bingung sambil menatap ke arah foto tersebut.
Alia menatapnya kembali secara teliti dan ia yakin bahwa nomor plat tersebut adalah milik ibunya, hanya saja untuk nomor plat yang satunya Alia sama sekali tidak mengetahui nomor plat mobil milik siapa itu, sehingga Alia hanya bisa menatapnya tanpa bisa melakukan praduga atau sejenisnya.
"Ah entahlah... sepertinya dia hanya sedang ingin bermain main dengan ku, sudahlah ini hanya membuang waktu ku saja." ucap Alia sambil bangkit berdiri dan menaruh foto tersebut pada rak dekat meja kasir, kemudian berlalu pergi dari sana untuk membereskan beberapa tanaman yang baru sampai tadi pagi.
***
Di sebuah ruangan kerja
Seorang pria nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang bergegas mendekat ke arah sebuah kursi kerja dengan posisi yang kini membelakanginya.
"Apa kau sudah mengirimkan paketnya?" tanya orang tersebut tanpa membalik kursinya sama sekali.
"Sudah tuan, ini adalah paket kedua dan sesuai dengan perintah anda bahwa Alia lah yang harus menerima paket tersebut." ucap seorang pria tersebut.
"Tentu saja pak, saya permisi." ucap pria tersebut kemudian langsung berlalu pergi keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian sosok pria itu dari ruangannya, pria yang duduk pada kursi kerja tersebut lantas tersenyum dengan senang ketika mendengar paket yang ia kirim sudah di terima oleh Alia.
"Alia... Alia... Alia... aku akan lihat apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui tabir rahasia yang di simpan Fabian selama ini." ucap pria itu sambil membenarkan posisinya dan bersandar dengan raut wajah yang bahagia.
****
Toko Alia
Sesuai dengan janjinya, Fabian datang sore harinya untuk menjemput Alia agar pulang bersamanya. Fabian melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko. Ketika Fabian masuk suasana toko masih cukup ramai kala itu, membuat Fabian lantas langsung menghela nafasnya panjang ketika melihat toko bunga Alia yang masih ramai pembeli.
"Jika tokonya ramai seperti ini, bagaimana aku bisa membawa owner nya untuk pergi?" ucap Fabian dengan nada yang lirih pada dirinya sendiri sambil terus menatap ke arah Alia yang tengah sibuk melayani pembeli.
__ADS_1
Pada akhirnya Fabian mau tidak mau harus menunggu hingga Alia selesai melayani pembelinya, tidak perlu waktu lama hanya mungkin sekitar 20 menitan, satu persatu pelanggan mulai terlihat keluar dengan membawa rangkaian bunga yang mereka inginkan.
Fabian yang melihat beberapa pelanggan sudah tidak lagi tersisa, lantas langsung melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah meja kasir di mana Alia terlihat tengah sibuk melakukan pencatatan pada bukunya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Alia tanpa menatap ke arah depan, sehingga membuat Fabian lantas tersenyum ketika mengetahui Alia tidak menyadari akan kedatangannya.
"Saya ingin memesan buket bunga yang paling cantik di toko ini." ucap Fabian kemudian dengan nada yang di buat buat.
Alia yang mendengar suara tidak asing pada pendengarannya, lantas langsung mendongak menatap ke arah depan untuk memastikan sosok yang tengah berdiri di hadapannya.
"Fabian!" pekik Alia ketika ia melihat Fabian tengah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Alia" jawab Fabian dengan nada yang santai.
"Berhenti menganggu ku dan pergi lah dari sini, aku sedang sibuk sekarang." ucap Alia sambil mendorong tubuh Fabian agar pergi dari hadapannya.
"Sibuk untuk apa? bukankah di sini sudah tidak ada lagi pelanggan? lalu apa yang membuat mu sangat sibuk nona?" ucap Fabian dengan nada yang menggoda.
"Tidakkah kau lihat di sana ada pelanggan Bi..." ucap Alia hendak menunjuk ke arah pelanggannya, namun ketika ia melihat ke arah depan tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya dan juga Fabian.
"Tidak ada kan? so saatnya sekarang bagi kita untuk berkemas dan pulang ke rumah." ucap Fabian kemudian.
"Tapi..." ucap Alia hendak menolak namun keburu di potong oleh Fabian.
"Sudah lakukan saja, jika kau tidak bergerak maka aku akan membawa mu pulang secara paksa." ucap Fabian dengan nada yang mengancam, membuat Alia lantas langsung bangkit dan melangkahkan kakinya dengan bergegas untuk menutup tokonya walau dengan wajah yang di tekuk dengan kesal.
Fabian yang melihat Alia mulai melangkahkan kakinya, lantas langsung tersenyum dengan seketika hingga pandangannya terhenti pada sebuah rak yang berisi foto dengan plat mobil yang tidak asing di ingatannya.
"Nomor plat tersebut... bukankah itu?"
Bersambung
__ADS_1