Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Maaf


__ADS_3

"Alia!" pekik Ardan tepat ketika lampu di kamar tersebut menyala.


Ardan yang melihat Alia terbaring di lantai dengan kondisi yang kacau dan beberapa pecahan vas bunga di sekitarnya, lantas langsung berlarian mendekat menghampiri Alia.


"Al... apa yang terjadi? Al... apa kau bisa mendengar ku?" panggil Ardan mencoba untuk menyadarkan Alia yang raut wajahnya terlihat sangat pucat disertai peluh keringat dingin membasahi dahinya.


Alia yang seakan mendengar panggilan dari Ardan, dengan mata yang terpejam Alia lantas mencengkram baju kemeja Ardan sambil merintih kesakitan.


"Sa.. kit... kak.. tolong..." ucapnya dengan terbata sambil memegangi area perutnya.


Ardan yang bingung harus bagaimana? lantas langsung menggendong tubuh Alia ala bridal style berniat membawanya ke rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Allea dari arah pintu kamarnya ketika melihat Ardan yang tengah menggendong Alia.


"Sepertinya Alia tengah sakit, sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit sekarang." ucap Ardan sambil mengajak Allea untuk ikut pergi bersamanya juga.


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang!" ucap Allea dengan nada yang juga terdengar khawatir.


Setelah sepakat pada akhirnya keduanya lantas membawa Alia menuju ke rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan.


***


Sementara itu setelah Ardan mengabari Fabian tentang Alia yang tidak pulang dari pagi, Fabian lantas melajukan mobilnya kembali ke daerah monas mencoba untuk mencari Alia di sekitaran sana.


Disusurinya jalanan sekitaran dengan perlahan sambil menatap ke arah kiri dan kanan siapa tahu Alia masih berada di sana.


"Di mana sebenarnya kamu Al?" ucap Fabian dengan nada yang lirih dan juga khawatir.


Fabian terus melajukan mobilnya dengan perlahan menyusuri jalanan, namun sayangnya hingga beberapa kilometer Alia tidak kunjung ketemu juga.


Disaat Fabian sibuk menatap jalanan, deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan fokus Fabian yang sedang menyetir melajukan mobilnya secara perlahan.


"Halo kak" ucap Fabian setelah menepikan mobilnya.


"Datanglah ke rumah sakit Bi, Alia ada di sini sekarang." ucap Ardan begitu mendengar suara Fabian di seberang sana.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Fabian dengan raut wajah yang khawatir dan juga cemas akan kondisi Alia.


"Nanti saja aku jelaskan ketika kau sudah sampai di sini." ucap Ardan.

__ADS_1


"Aku akan segera ke sana." ucap Fabian kemudian memutus sambungan telponnya.


Setelah sambungan telponnya terputus Fabian lantas bergegas melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit.


**


Rumah sakit


Fabian lantas melangkahkan kakinya bergegas menuju ke arah IGD dengan perasaan yang panik sekaligus bersalah karena tidak mengantarkan Alia pulang tadi.


Dari kejauhan Fabian melihat Ardan dan juga Allea tengah berbicara dengan seorang dokter, sepertinya Alia sudah selesai di periksa.


"Bagaimana keadaannya kak?" tanya Fabian dengan nafas yang terengah engah setelah kepergian dokter dari sana.


"Gastritis" jawab Ardan dengan singkat.


"Apakah parah kak?" tanya Fabian lagi yang lantas membuat Ardan menghela nafasnya panjang.


"Masuklah ke dalam Lea, aku akan berbicara sebentar dengan Fabian." ucap Ardan menyuruh Allea masuk ke dalam.


Allea yang mendengar perintah dari Ardan lantas langsung masuk ke dalam tanpa banyak protes.


"Jawab dulu parah atau tidak kak?" ucap Fabian dengan kesal karena Ardan malah seakan berusaha menutupinya.


"Tidak termasuk akut, hanya saja dokter menyarankan Alia untuk menghindari stress dan kopi ataupun obat obatan yang dapat memperburuk penyakitnya. Apa kau sudah puas sekarang?" ucap Ardan dengan nada yang menyindir, entah mengapa Ardan merasa bahwa sakit yang Alia alami sekarang ada hubungannya dengan Fabian.


Sedangkan Fabian yang mendengar ucapan Ardan barusan lantas menghela nafasnya dengan lega.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Fabian dengan lega.


"Sekarang katakan padaku, ada apa sebenarnya antara kalian berdua?" tanya Ardan seakan mengulang kembali pertanyaannya yang tadi karena Fabian tidak kunjung memberikan jawaban.


"Aku mengatakan pada Alia bahwa aku akan melamar Shila kak..." ucap Fabian dengan nada yang sendu.


"Apa kau sudah gila?" sentak Ardan sambil sedikit mendorong tubuh Fabian hingga ia mundur beberapa langkah dari posisinya.


"Ya aku memang sudah gila kak!" jawab Fabian seakan tidak mau kalah.


"Hentikan semua ini Bi sebelum terlambat." perintah Ardan kemudian yang seakan tahu bagaimana perasaan Fabian dan juga Akila.

__ADS_1


"Aku tidak bisa kak, jika aku melakukan itu maka Shila yang akan mati. Andai kakak tahu kemarin bahkan ia melompat ke jalanan dan hampir tertabrak truk gandengan jika aku tidak menyetujui pertunangan itu." ucap Fabian meluapkan segala isi hatinya.


"Tapi ini salah Bi, oke sekarang katakanlah Shila tidak jadi mati! tapi kau... hati mu yang akan mati jika pertunangan ini terus berlanjut." ucap Ardan sambil menunjuk ke arah dada Fabian berusaha untuk menyadarkan Fabian sebelum semuanya terlambat.


"Biar saja hati ini mati kak karena ini adalah pilihan ku!" ucap Fabian pada akhirnya.


"Kau gila Bi... benar benar gila..." ucap Ardan kemudian sambil berlalu pergi meninggalkan Fabian sendirian di sana dengan perasaan yang semakin merasa bersalah pada Alia.


**


Tengah malam


Dengan perlahan Fabian lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Alia. Ditatapnya Ardan dan juga Allea yang kini tengah tertidur di sofa karena kelelahan.


Fabian terus melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di sebelah ranjang Alia. Di genggamnya dengan erat tangan Alia lalu mengecupnya singkat.


"Aku minta maaf Al... benar benar minta maaf..." ucap Fabian sambil menaruh tangan Alia di keningnya seakan benar benar meminta maaf pada gadis yang kini tengah tertidur dengan pulas di ranjang pasien.


"Harusnya aku tidak mengatakan hal yang begitu menyakitkan padamu... aku minta maaf Al, benar benar minta maaf..." ucap Fabian lagi dengan nada yang menyesal.


Sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuat Fabian melepaskan genggaman tangannya. Sebuah nama yang tidak Fabian duga lantas tertulis di layar ponsel miliknya.


"Halo tan" ucap Fabian setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Apa tante mengganggu waktu istirahat mu Bi?" tanya Shiren dengan nada yang tidak enak mengingat sekarang sudah tengah malam.


"Tidak tan, ada apa?" ucap Fabian dengan nada yang penasaran.


"Temui tante besok pagi, ada hal penting yang akan tante sampaikan padamu." ucap Shiren dengan ragu ragu.


"Apakah ini tentang Shila tan?" tanya Fabian mencoba menerka nerka arah pembicaraan Shiren.


"Besok saja tante katakan, sekarang beristirahatlah... maaf sudah mengganggu mu tengah malam begini." ucap Shiren.


"Iya tan tidak perlu sungkan." ucap Fabian kemudian memutus sambungan telponnya.


Setelah sambungan telponnya terputus, Fabian lantas terdiam memikirkan ucapan Shiren barusan.


"Ada masalah apa? sehingga tante Shiren mengajak ku bertemu?" ucapnya pada diri sendiri bertanya tanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2