Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Semua akan baik baik saja


__ADS_3

Rumah Sakit


Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dan berwajah campuran, terlihat melangkahkan kakinya melintasi lorong lorong Rumah Sakit menuju ke salah satu ruang perawatan pasien.


"Mama..." panggil pria itu ketika melihat Shiren hendak masuk ke dalam ruang perawatan Shila.


"Setya..." ucap Shiren ketika menoleh ke arah belakang dan melihat putra sulungnya melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Shila ma?" tanya Setya kemudian karena memang inilah tujuan kepulangan Setya dari Kanada yaitu untuk menjenguk adiknya yang tengah mendapat perawatan di Rumah Sakit.


"Entahlah... mama juga bingung harus menjelaskannya bagaimana karena memang kondisi Shila yang masih belum stabil dan terus saja melamun, membuat mama takut dan khawatir akan keadaan mentalnya." ucap Shiren dengan nada yang sendu di setiap ucapannya.


"Lalu bagaimana dengan pertunangannya ma? bukankah mama mengatakan Shila akan bertunangan dengan Fabian waktu itu?" ucap Setya dengan bingung apalagi setelah melihat mobil Fabian di pinggir jalan tadi yang semakin menambah rasa penasarannya.


"Pertunangan mereka di batalkan karena memang ada beberapa hal fatal yang telah Shila lakukan pada keluarga besar Zayan." ucap Shiren dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Setya.


Setya yang mendengar ucapan Shiren lantas langsung terdiam, masalah yang di maksud oleh Shiren barusan sudah menjadi rahasia umum bagi keluarga Pramono. Diamnya Setya bukan berarti ia tidak tahu sama sekali tentang masalah itu, walau Setya lama mengelola perusahaan cabang yang berada di Kanada namun bukan berarti Setya tidak mengetahui masalah tersebut.


Setya menghela nafasnya panjang ketika melihat wajah sendu Shiren. Dipeluknya tubuh Shiren yang rapuh itu mencoba untuk menenangkannya.


"Mama tenang saja ya... Setya yakin semua akan baik baik saja seiring dengan berjalannya waktu." ucap Setya sambil mengusap pundak sang ibu dengan lembut.


"Semoga saja." ucap Shiren yang seakan ikut mengaminkan ucapan putra sulungnya.


**


Kediaman Zayan


Di taman belakang mansion, terlihat Arsa tengah melamun sambil menatap ke arah taman bunga miliknya yang terhampar dengan cantik di area belakang.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Arsa berdiam diri di sana sambil menatap kosong ke arah depan, membuat Zayan yang baru saja sampai untuk makan siang lantas menghela nafasnya panjang ketika melihat Arsa lagi lagi melamun di halaman belakang.


"Apa yang kamu lakukan ma?" tanya Zayan yang lantas membuyarkan segala lamunan Arsa sedari tadi.


"Eh papa, sudah jam makan siang ya? waduh mama belum masak apapun, gimana nih?" pekik Arsa ketika baru ingat jika dirinya belum memasak apapun untuk makan siang Zayan.


Semenjak Ardan memutuskan untuk pergi, Zayan kembali mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu. Zayan memang sengaja melakukan hal itu sekalian untuk mengetes kesiapan Ardan akan pilihan hidupnya.


"Sudahlah tak apa, papa tadi sudah meminta bi Asih untuk memasakkan papa nasi goreng." ucap Zayan mencegah Arsa untuk pergi dari sana.


Zayan kemudian lantas menarik tangan Arsa agar kembali duduk di kursi. Ditatapnya dalam dalam wajah istrinya itu kemudian menghela nafasnya kembali.


"Ada apa ma? papa perhatikan semenjak kejadian gagalnya pertunangan Fabian mama terus saja melamun." tanya Zayan dengan nada yang lembut.


"Mama... mama hanya merasa terlalu jahat sebagai orang tua pa. Mama pikir Ardan yang paling menderita selama ini... tapi nyata Fabian juga menderita dan terluka lahir dan batinnya. Mama terlalu fokus pada satu anak hingga melupakan anak yang lainnya." ucap Arsa dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.


Zayan yang mendengar keluh kesah istrinya, hanya bisa diam karena ia pun sejujurnya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang tengah di rasakan oleh Arsa saat ini.


"Papa..." ucap Zayan namun terhenti karena perutnya yang tiba tiba berbunyi dengan keras.


krucuk... krucuk...


Mendengar suara barusan, baik Zayan maupun Arsa langsung menatap satu sama lain dengan suasana yang mendadak hening.


"Papa lapar?" tanya Arsa kemudian sambil menatap dengan tatapan menelisik ke arah Zayan.


Zayan yang mendapat pertanyaan tersebut hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Arsa lantas menghela nafasnya panjang kemudian bangkit dari posisi duduknya.


"Ya udah ayo kita ke meja makan saja, siapa tahu bi Asih sudah selesai membuat nasi gorengnya." ajak Arsa kemudian sambil menarik tangan Zayan agar bangkit berdiri dan mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Papa gak terlalu lapar kok ma, bukankah kita tadi masih bercerita..." ucap Zayan menolak ajakan istrinya.


"Jangan bohong, sudahlah ayo kita ke dapur." ajak Arsa lagi.


"Tak perlu ma sungguh..." ucap Zayan lagi.


Arsa yang kembali mendapat penolakan dari Zayan, lantas melepas tarikan tangannya kemudian menatap Zayan dengan tatapan yang cemberut.


"Ya sudah terserah papa deh, mama mau ke kamar aja kalau gitu." ucap Arsa dengan nada yang kesal sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Zayan di sana.


"Loh.. kok jadi mama yang marah sih.. ma tunggu..." teriak Zayan sambil bangkit dan mengejar Arsa ketika melihat istrinya pergi karena merajuk.


***


Sore harinya


Alia yang sudah mulai beres beres dan bersiap untuk menutup tokonya, lantas di buat terkejut ketika melihat mobil Fabian terparkir tak jauh dari tokonya. Memang Alia tidak melihat Fabian secara langsung, hanya saja ia yakin mobil yang terparkir di depan itu adalah mobil milik Fabian.


"Apakah dia sudah lama berada di sana?" ucap Alia bertanya tanya tanya sambil meneruskan gerakannya yang sedang beberes sebelum akhirnya menutup tokonya.


Alia yang baru selesai mengunci pintu tokonya, lantas terdiam sesaat. Di situasi seperti ini Alia benar benar benar bingung, haruskah Alia mengacuhkan dan pura pura tidak tahu akan kehadiran Fabian di sana atau malah menghampiri Fabian dan bersikap seakan tidak ada apa apa yang terjadi di antara mereka?


Alia menggigit bibir bagian bawahnya sambil mencoba berpikir pilihan mana yang akan ia ambil. Sebagai seorang wanita tentu saja Alia sangat gengsi jika harus menghampiri Fabian terlebih dahulu, hingga pada akhirnya Alia memilih melangkahkan kakinya begitu saja dan mencoba untuk mengacuhkan Fabian.


"Aku tidak lihat.. aku tidak lihat... bodoh amat!" ucap Alia dalam hati terus merapalkan mantra untuk penguat dirinya sendiri.


Hingga ketika dirinya sudah melewati begitu saja mobil Fabian dengan langkah yang mantap, sebuah suara yang sangat ia kenali mendadak terdengar di telinganya, membuat langkah kaki Alia lantas terhenti seketika.


"Al..." teriak sebuah suara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2