
Di sebuah taman bunga yang cantik, Alia terlihat tengah melangkahkan kakinya dengan mengenakan gaun dress berwarna peach dengan taburan mutiara kecil menghiasi bagian bawah roknya, begitu terlihat anggun dan cocok ketika di gunakan oleh Alia.
Alia menyusuri area taman tersebut dengan langkah kaki yang perlahan, hingga ketika bayangan seorang pria terlihat samar di penglihatannya, Alia mulai tersenyum dan melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah pria tersebut. Alia mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri pria tersebut, membuat pria tersebut tersenyum ketika melihat Alia mempercepat langkah kakinya mendekat ke arahnya.
Ketika jarak diantara keduanya sudah semakin dekat, Alia dengan spontan melompat dan langsung memeluk tubuh pria itu dengan tawa yang bahagia dan ya... dia adalah Fabian. Sedangkan Fabian yang menerima pelukan dari Alia, lantas mulai berputar beberapa kali membawa Alia semakin erat ke dalam pelukannya.
"Mengapa kamu berlari? bagaimana kalau kamu jatuh?" ucap Fabian yang mulai melepas pelukannya dan menatap ke arah Alia dengan tatapan yang penuh kasih.
Alia yang mendengar ucapan dari Fabian lantas langsung cemberut, membuat Fabian yang gemas akan tingkah Alia lantas langsung mencium bibir ranum milik Alia sekilas.
"Bi... apa yang kamu lakukan?" ucap Alia dengan nada yang kesal.
"Mulutmu itu membuat ku gemas, jadi membuat ku selalu ingin menciumnya setiap kali" ucap Fabian dengan tawa yang menggema, membuat Alia lantas langsung memukulnya dengan pelan karena kesal akan ucapan dari Fabian barusan.
Fabian yang dipukul bagian dadanya dengan pelan oleh Alia, lantas tersenyum dengan hangat. Fabian mengusap dan membenarkan posisi rambut Alia yang sedikit berantakan kemudian menyelipkannya ke belakang telinga Alia. Fabian menatap wajah Alia dengan tatapan yang berbeda, membuat Alia lantas menatap Fabian dengan bingung akan maksud tatapan dari manik mata milik Fabian.
"Berjanjilah satu hal padaku Al.. ada atau tidaknya diriku, tetaplah tersenyum dengan ceria seperti ini. Walau mungkin kamu tidak bisa melihat ku, namun aku tetap bisa melihat mu dari tempat yang berbeda." ucap Fabian dengan nada yang lembut membuat Alia lantas langsung merubah mimik wajahnya.
__ADS_1
"Jangan bercanda Bi.. aku benar-benar tidak suka kata-katamu itu." ucap Alia dengan nada yang kesal namun Fabian hanya tersenyum ketika mendengarnya.
"Aku harus pergi Al.. jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya." ucap Fabian kemudian sambil melepas pelukan erat tangannya dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Alia.
Alia yang melihat kepergian Fabian, tentu saja terkejut bukan main. Alia yang tidak ingin di tinggal oleh Fabian, lantas sekuat tenaga berusaha untuk mencoba mengejar langkah kaki Fabian, namun sayangnya Fabian malah semakin menghilang dan terus menghilang seakan langsung lenyap ditelan kabut di pagi hari itu, membuat Alia langsung dengan seketika mengedarkan pandangannya dan mencoba mencari keberadaan Fabian di sekitaran area taman tersebut.
**
Sementara itu Alia nampak mulai mengerjapkan kelopak matanya ketika secercah cahaya yang terang mulai menembus ke dalam retinanya, Alia mengerjapkan matanya secara berkali-kali mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya, hingga ketika pandangannya sudah terlihat dengan jelas, Alia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut ketika merasa berada di sebuah ruangan asing.
"Syukurlah kamu sudah sadar Al, aku dan Alea benar-benar khawatir ketika melihatmu hampir dua hari ini tidak sadarkan diri." ucap sebuah suara yang ternyata adalah Ardan.
"Ke mana Fabian kak?" ucap Alia dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Ardan.
Raut wajah Ardan mendadak berubah ketika mendengar pertanyaan dari Alia barusan, seakan pertanyaan Alia seperti sebuah hantaman batu keras yang langsung mengenai hatinya, begitu terasa berat dan sulit namun Ardan tidak bisa mengungkapkannya. Ardan bangkit secara perlahan dari posisi duduknya dan memberikan Allea posisi ternyaman agar tidak bangun ketika ia berpindah posisi mendekat ke arah Alia.
Alia yang melihat tingkah Ardan sangatlah aneh, lantas hanya menatap setiap gerak-gerik yang ditunjukkan oleh Ardan, sedangkan Ardan kemudian terlihat mendekat ke arah Alia dan mulai duduk di ranjang pasien Alia dan menatapnya dengan tatapan yang sendu, membuat Alia semakin kebingungan akan maksud dari tatapan Ardan kepadanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi kak?" tanya Alia kemudian.
Ardan yang kembali mendengar pertanyaan dari Alia, lantas mulai menggenggam tangan Alia dengan erat, membuat perasaan Alia menjadi tidak enak.
"Kita harus tegar Al, aku pun sama terlukanya seperti mu, namun kita harus tetap melanjutkan hidup, ikhlaskan lah Fabian.." ucap Ardan kemudian.
Alia yang mendengar perkataan dari Ardan, bagai mendengar petir di siang bolong. Benar-benar membuat hatinya begitu terpukul dan hancur, impiannya bersama dengan Fabian membina sebuah hubungan harus kandas seketika, di saat mendengar ucapan dari Ardan yang sama sekali tidak masuk akal bagi Alia.
"Jangan bercanda kak, bahkan aku baru saja memimpikan Fabian, bagaimana mungkin Fabian..." ucap Alia namun tercekat seakan tidak kuat untuk meneruskannya.
Ardan yang melihat Alia hancur dan begitu rapuh, lantas memegang pundak Alia dengan erat berusaha untuk menguatkan Alia agar bisa lebih tegar lagi dalam menghadapi kenyataan ini. Ardan juga sama hancurnya dengan Alia namun sebagai seorang kakak dan juga anak tertua di keluarga ini, Ardan harus menjadi sosok yang tegar agar bisa menguatkan yang lainnya.
"Sore nanti adalah pelepasan alat bantu Fabian, kita sebagai pihak keluarga memutuskan untuk mengikhlaskan Fabian pergi, dari pada harus melihatnya terus terusan hidup namun dengan bantuan alat alat medis, kami tidak akan sanggup Al." ucap Ardan dengan nada bicara yang sendu membuat Alia langsung menatap tidak percaya ke arah Ardan saat ini.
"Kak... Fabian pasti sembuh, kakak tidak bisa hanya memutuskannya secara sepihak seperti itu, bagaimana jika suatu hari nanti Fabian bangun dan kembali sembuh seperti sedia kala? yang kita lakukan hanya harus berusaha kak bukan menyerah seperti ini, jika kakak melakukan ini... ini namanya tidak adil kak." ucap Alia seakan tidak setuju dengan pendapat dari Ardan.
"Semua fungsi saraf Fabian sudah mati total Al karena benturan yang di alami Fabian untuk yang kedua kalinya, walau Fabian bisa bangun suatu hari nanti ia tidak akan kembali normal seperti sedia kala." ucap Ardan lagi mencoba menjelaskan kepada Alia agar mengerti bahwa ini adalah keputusan terbaik yang di buat anggota keluarga untuk Fabian.
__ADS_1
"Kak..." ucap Alia lagi.
Bersambung