
Rendra terlihat memarkirkan mobilnya tepat di halaman galeri seni, raut wajahnya benar benar terlihat sangat bahagia kali ini karena berhasil memberikan buket bunga kepada Alia walau ia harus memakai segudang alasan untuk memberikannya, tapi Rendra tetap saja bahagia karenanya.
"Mimpi apa aku semalam bisa memberikan bunga kepada Alia..." ucapnya pada diri sendiri sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri seninya.
Hanya saja, ketika Rendra baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri seninya, ruangan yang tadinya bersih dan terlihat luas mendadak penuh dengan berbagai macam paper bag dan juga bungkus makanan yang berserakan di lantai.
"Astaga! apa yang kau lakukan pada galeri seni ku?" pekik Rendra yang melihat Shila tengah duduk bersantai di lantai sambil memakan sepotong pizza di tangannya.
"Halo? apa kau mau? aku membeli banyak sekali makanan lezat... kemari dan bergabunglah..." ajak Shila sambil membuka paper bag berwarna putih dan mulai mengeluarkan isinya.
"Kau kenapa jorok sekali sih? lagipula apa semua ini? kau kira ini kandang sapi apa?" teriak Rendra yang kesal akan ulah Shila yang mengotori tempatnya.
"Hanya sebentar, aku sedang membuka beberapa baju yang baru datang. Jika aku membawanya terlebih dahulu ke ruang pribadi mu itu terlalu membutuhkan waktu yang lama jadi aku memutuskan untuk menggelarnya di sini." ucap Shila dengan nada bicara yang enteng membuat Rendra melongo seketika.
Rendra yang tadinya bahagia karena ia bisa maju selangkah dan mendekati Alia harus hancur sudah ketika melihat kekacauan yang Shila buat di galeri seninya.
"Bereskan sekarang juga atau kau harus angkat kaki dari tempat ku!" ucap Rendra dengan nada yang masih lirih sambil memijat pelipisnya perlahan yang mulai terasa berdenyut.
Shila yang mendengar ucapan dari Rendra, lantas langsung bangkit perlahan sambil memasukkan gigitan terakhir pizza pada mulut kecilnya.
"Jangan marah marah seperti itu, sebentar lagi akan ada office girl panggilan yang akan datang membersihkan tempat mu ini, anggap saja sebagai hadiah kecil karena sudah membantuku." ucap Shila dengan nada yang datar sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rendra.
Rendra yang mendengar ucapan Shila semakin di buat kesal, Shila bukannya meminta maaf dan membersihkan kekacauan yang ia timbulkan malah memanggil orang untuk datang dan membereskan.
"Terserah apa katamu aku tidak perduli, yang jelas jangan sampai ada satupun cacat kecil pada semua perabot maupun lukisan yang ada di dalam galeri seni ini atau aku akan benar benar marah!" ucap Rendra memperingati sambil menunjuk ke arah wajah Shila kemudian berlalu pergi begitu saja dengan langkah kaki yang kesal.
__ADS_1
Melihat kepergian Rendra dari hadapannya, membuat Shila hanya menatap kepergiannya sambil bersendekap dada hingga punggung Rendra tidak lagi terlihat dalam pandangannya.
"Gitu aja marah, selama ada Shila semua masalah akan selesai walau dnegan cara pintas sekalipun." ucap Shila dengan senyum yang sinis sambil masih menatap ke arah kepergian Rendra walau sosok Rendra kini sudah tidak terlihat lagi.
***
Sore harinya di Rumah Sakit
"Semuanya sudah normal dan dalam kondisi bagus, malam ini kamu sudah boleh pulang dan beristirahat di rumah, ingat jangan lupa minum obatnya secara teratur... jika ada keluhan setelah pulang dari sini kalian bisa langsung mengabari ku." ucap Lita sambil membereskan peralatan kedokterannya setelah selesai memeriksa Alia barusan.
"Terima kasih banyak Lit..." ucap Fabian sambil tersenyum.
"Tidak perlu sungkan Bi, saya permisi dulu." ucap Lita kemudian sambil tersenyum tulus ke arah Fabian dan juga Alia.
"Gimana perasaan mu saat ini?" ucap Fabian kemudian setelah kepergian Lita dari sana.
"Cukup baik dan aku sangat bahagia bisa kembali pulang ke rumah." ucap Alia sambil tersenyum.
"Baiklah... jika begitu aku akan beberes dulu dan bersiap untuk pulang, kamu istirahatlah dulu.. jika sudah selesai aku akan membangunkan mu." ucap Fabian kemudian sambil mengambil tas besar untuk dan mulai mengemasi beberapa pakaian kotor.
Alia yang mendengarkan ucapan Fabian hanya tersenyum dengan senang, baru kali ini Alia merasa benar benar di rawat dan di perhatikan oleh seseorang, padahal dulu ketika Tiara ada jangankan untuk dirawat dan dimanja ketika sakit, sekedar memberikan obat pun Tiara seakan enggan kepada Alia. Membuat Alia kecil yang kesakitan berusaha untuk sembuh dan mengobati dirinya sendiri tanpa bantuan ibunya.
"Apakah begini rasanya di rawat dan di perhatikan oleh seseorang? rasanya seperti aku benar benar disayangi oleh seseorang." ucap Alia dalam hati dengan manik mata yang berkaca kaca.
Sedangkan Fabian yang tadinya sibuk mengemas pakaian kotor, lantas menghentikan gerakannya ketika tidak mendengar jawaban apapun dari Alia.
__ADS_1
Fabian yang penasaran lantas perlahan lahan mulai menoleh ke arah di mana Alia berada, mencoba untuk melirik sekilas apa yang kini tengah di lakukan oleh gadis itu.
"Dia menangis?" ucap Fabian dalam hati ketika melihat manik mata Edrea yang mulai berkaca kaca sedangkan pandangannya kosong ke arah depan.
Fabian yang merasa aneh dengan Alia yang tiba tiba melamun, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alia dan berusaha mencari tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Alia saat ini.
"Al... apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Alia seketika.
"Ah maaf... aku jadi merusak suasana ya?" ucap Alia sambil dengan spontan mengusap air matanya yang mengalir secara tiba tiba.
"Tidak... aku hanya terkejut melihat mu bersedih, apa kamu ingin aku peluk untuk menenangkan sedikit kegundahan mu?" ucap Fabian kemudian menawarkan dada bidangnya sebagai tempat Alia untuk mencurahkan kesedihannya.
Alia yang mendengar tawaran tersebut langsung terdiam seketika, hingga kemudian Alia sedikit menarik ujung kemeja milik Fabian sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Apakah boleh?" tanya Alia dengan ragu ragu.
"Tentu saja kemarilah..." ucap Fabian sambil membuka tangannya lebar dan merangkul Alia yang kini tengah terduduk di ranjang sementara dirinya memeluk Alia dnegan posisi yang berdiri.
Bagai di sambut, Alia yang mendapat persetujuan dari Fabian lantas langsung hanyut ke dalam pelukan dada bidang milik Fabian dengan linangan air mata namun tanpa suara.
Alia benar benar bahagia karena Fabian memberikannya banyak kebahagiaan yang tidak pernah ia dapat sebelumnya dari Tiara maupun David ayahnya, membuat Alia semakin terjatuh ke dalam pesona laki laki di hadapannya kini.
"Te... terima kasih banyak Bi..." ucap Alia sambil masih memeluk pinggang Fabian dengan erat, hingga sebuah suara pintu ruang perawatan yang mulai terbuka secara mengejutkan, membuat Fabian dan juga Alia lantas langsung menoleh ke arah sumber suara namun masih tetap dalam posisi berpelukan.
Bersambung
__ADS_1