
Kediaman keluarga Pramono
Di ruang tamu, terlihat Shila tengah berbicara dengan seorang WO dengan wajah yang sumringah. Hari ini Shila sengaja memanggil WO untuk membicarakan tentang dekorasi untuk pertunangannya beberapa hari lagi. Shila menginginkan pertunangannya kali ini di adakan bak negeri dongeng 1001 malam. Bukankah itu impian setiap wanita?
Shila membolak balik majalah konsep yang di berikan oleh WO tersebut dengan teliti sambil memilih konsep yang ia sukai.
"Saya mau yang kayak gini mbak, tapi usahakan backgroundnya di ganti warna biru karena saya menginginkan konsepnya seperti princess Cinderella." ucap Shila sambil menunjuk ke salah satu dekor ruangan pada majalah tersebut.
"Tentu saja mbak, kami akan berusaha membuatnya sesuai dengan impian anda." ucap perwakilan WO tersebut dengan senyum yang ramah kepada Shila.
Shila benar benar puas akan pelayanan yang di berikan oleh WO tersebut, hingga ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menuju ke hari H.
**
Sementara itu dari arah ruang makan, Shiren nampak duduk dengan termenung sambil mendengarkan nada bicara bahagia putrinya saat membicarakan konsep pertunangannya.
"Apa semua ini benar? mengapa jadi seperti ini?" ucap Shiren dalam hati.
Shiren benar benar merasa semua ini adalah kesalahan, apa yang di lakukan anaknya di masa lalu adalah sebuah dosa besar yang harusnya di pertanggung jawabkan oleh Shila. Namun kenyataannya karena Pramono tidak ingin nama baiknya tercoreng Pramono malah menutup rapat segalanya seakan tidak pernah terjadi apa apa.
Bayangan Shiren tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, lantas tiba tiba berputar di benaknya layaknya sebuah kaset rusak yang tidak bisa berhenti ketika Shiren ingin menghentikannya.
Shiren menghela nafasnya dengan panjang berkali kali mencoba mengatur perasaannya yang tidak enak sedari tadi.
"Apakah aku harus memberitahu Fabian?" ucap Shiren, pertanyaan gila ini tiba tiba terlintas begitu saja di benaknya. Hanya saja, jika ia benar benar memberitahu semuanya kepada Fabian. Mampukah putrinya untuk terus tertawa seperti saat ini?
***
Malam harinya
Karena Alia tidak kunjung menyusul Allea di bengkel, pada akhirnya Ardan mengantar Allea pulang ke rumahnya. Ketika Ardan sampai di halaman rumah Alia, suasana di sana begitu gelap tanpa adanya cahaya penerangan yang membuat Ardan dan juga Allea lantas saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Apa Bian dan Alia belum pulang dari pagi tadi?" tanya Ardan yang lantas di balas Allea dengan gelengan kepala karena jujur saja ia juga tidak tahu tentang hal itu.
Keduanya kemudian memutuskan untuk turun dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu. Baik Ardan dan juga Allea lantas lagi lagi saling pandang satu sama lain, ketika melihat pintu bagian depan lantas sedikit terbuka namun suasana di dalam rumah sama gelapnya seperti di luar.
Ardan yang takut hal itu adalah perbuatan pencuri lantas menyuruh Allea untuk tetap tinggal dan berjaga di depan.
"Tunggulah di sini Lea aku akan masuk dan mengecek keadaan di dalam." ucap Ardan yang di balas Allea dengan anggukan kepala.
Dengan langkah perlahan Ardan lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan mengecek area dalam, ketika Ardan menyalakan lampu di dalam sama sekali tidak ada tanda tanda barang hilang atau rumah berantakan karena maling, membuat Ardan lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat semuanya baik baik saja.
"Sepertinya tidak ada yang terjadi, masuklah Lea..." ucap Ardan dari arah ruang tamu.
Mendengar ucapan Ardan barusan Allea lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mendekat ke arah Ardan.
"Apa.. apakah semua baik baik saja?" tanya Allea sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Ya sejauh ini aku rasa baik baik saja, bersihkan dulu tubuh mu biar aku menelpon Fabian dulu dan menanyakan keberadaan mereka berdua." ucap Ardan memberikan saran.
"Baiklah..." ucap Allea dengan singkat kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.
"Halo" ucap Fabian dengan nada suara yang serak.
"Apa yang terjadi dengan nada suara mu?" tanya Ardan dengan bingung.
"Tak apa, ada perlu apa kak?" tanya Fabian dengan penasaran.
"Aku hanya ingin bertanya apakah kalian berdua masih lama di luar? ini bahkan sudah pukul 9 malam, apa kau tidak ingin mengembalikkan anak gadis orang ke rumahnya?" ucap Ardan dengan nada yang menyindir namun membuat Fabian langsung terdiam seketika ketika mendengar sindiran dari Ardan barusan.
"Kakak jangan bercanda, aku bahkan sudah pulang sebelum jam makan siang tadi." ucap Fabian namun dengan nada yang bingung.
"Yang benar saja? lalu kemana Alia? kakak kini bahkan sudah berada di rumahnya dan tidak ada siapapun di sini." ucap Ardan dengan nada yang sedikit khawatir.
__ADS_1
"Kakak jangan menakuti ku, jelas jelas tadi Alia mengatakan akan langsung pulang setelah membeli pesanan kak Lea." ucap Fabian yang juga ikut terkejut.
"Jadi kalian tidak pulang bersama?" tanya Ardan dengan bingung.
"Tidak" jawab Fabian dengan lirih.
"Ah kau itu ya, bisa tidak sekali saja tidak menyusahkan orang seperti ini? sudahlah kakak akan mencoba mencarinya di sekitaran sini dulu." ucap Ardan kemudian, kali ini dengan nada yang kesal karena merasa Fabian sama sekali tidak bertanggung jawab dan membiarkan Alia pulang sendirian.
"Baiklah kak, kabari aku jika sudah bertemu dengan Alia, aku akan ikut mencarinya juga." ucap Fabian.
"Oke" ucap Ardan kemudian memutus sambungan telponnya.
Setelah sambungan telponnya terputus Ardan lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Allea. Hanya saja Ardan yang baru pertama kali ke sana tidak mengetahui posisi kamar Allea yang mana.
"Yang mana ya? ini atau ini?" tanya Ardan sambil menunjuk ke kamar di sebelah meja makan dan juga kamar lainnya yang tak jauh dari letak kamar di sebelah meja makan.
Ardan yang malas untuk menebak dan tidak mau ribet, lantas langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar yang terletak di sudut bagian kanan yang posisinya dekat dengan dapur.
Tok tok tok
"Lea? apakah kamu masih lama? kita harus segera mencari Alia..." ucap Ardan sambil mendekatkan telinganya ke pintu kamar.
Tok tok tok
"Lea..." panggil Ardan lagi.
Bruk...
Suara benda jatuh dari arah dalam kamar membuat Ardan yang menempelkan telinganya ke pintu lantas cukup di buat terkejut ketika mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, Ardan yang khawatir terjadi sesuatu pada Allea lantas langsung membuka pintu kamar tanpa permisi.
Suasana dalam kamar begitu gelap dan sunyi ketika Ardan berhasil membuka pintu kamar dengan lebar, hanya saja samar samar Ardan seperti mendengar suara rintihan seseorang namun sangat pelan, membuat Ardan lantas langsung bergegas meraba dinding kamar mencoba mencari saklar lampu.
__ADS_1
"Alia!" pekik Ardan tepat ketika lampu di kamar tersebut menyala.
Bersambung