
Keesokan paginya di Kafe Rainbow
Terlihat Fabian melangkahkan kakinya memasuki area Kafe untuk menemui Shiren di sana. Fabian mengedarkan pandangannya dan mencari keberadaan Shiren di sekitaran sana, hanya saja Fabian tidak menemukan Shiren di manapun.
"Apa tante Shiren telat ya?" ucapnya pada diri sendiri dengan bingung.
Ketika Fabian sedang di landa kebingungan seorang pelayan Kafe nampak datang dan menghampiri Fabian.
"Dengan pak Fabian?" ucapnya.
"Iya saya, ada apa?" jawab Fabian dengan bingung.
Setelah memastikan bahwa orang di hadapannya adalah orang yang tepat, pelayan tersebut lantas mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan memberikannya kepada Fabian.
"Seorang ibu ibu menitipkan ini untuk anda tadi pak." ucap pelayan tersebut.
Fabian yang tidak tahu maksud dari amplop tersebut, hanya menerimanya saja sambil menatap dengan penasaran apa maksud dari amplop ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucap pelayan itu kemudian berlalu pergi setelah Fabian mengiyakan ucapannya.
Fabian menatap dalam dalam amplop di tangannya dengan tatapan yang bingung.
"Apa yang sebenarnya ingin tante Shiren lakukan?" ucapnya bertanya tanya pada diri sendiri.
Sedangkan tak jauh dari posisi Fabian berada, terlihat Shiren tengah menatap ke arah Fabian dari kejauhan. Shiren benar benar tidak berani untuk memberitahu Fabian secara langsung tentang kejadian di masa lalu. Mungkin hanya dengan cara ini Shiren bisa meringankan dosa sang putri, walau ia yakin Shila pasti akan menderita setelah ini.
"Maafkan mama Shila... maafkan mama..." ucap Shiren dengan nada yang sendu ketika bayangan tentang senyuman Shila yang perlahan menghilang mendadak terlintas di benaknya.
**
Sementara itu kamar Alia
Setelah mendapat perawatan selama semalam, Alia dinyatakan sudah boleh pulang dan melakukan rawat jalan.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Allea mengantar Alia langsung ke kamarnya untuk beristirahat begitu juga dengan Ardan.
"Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak penting Al, istirahatlah saja dan buang jauh jauh semua pikiran negatif." ucap Ardan dengan nada menasehati.
"Terima kasih banyak kak, maaf merepotkan." ucap Alia dengan pelan.
"Tak perlu sungkan, bukankah kita akan menjadi keluarga sebentar lagi? jadi jika ada apa apa hubungi saja aku." ucap Ardan dengan tersenyum simpul ke arah Alia.
"Terima kasih banyak, kalian pergilah saja... bukankah besok adalah hari pernikahan kalian? pasti akan banyak persiapan yang harus kalian lakukan." ucap Alia.
"Ja.. jangan.. terlalu banyak berpikir... kita.. baik baik saja kok.." ucap Allea yang ikut menenangkan adiknya itu.
"Lea benar, santailah saja.. aku dan Lea akan menunggu mu di depan sambil mengurus persiapan kami." ucap Ardan lagi.
"Sekali lagi terima kasih banyak." ucap Alia lagi yang di balas dengan anggukan kepala oleh keduanya.
Setelah menyiapkan segalanya untuk Alia, baik Ardan dan juga Allea lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alia untuk membiarkannya istirahat.
Alia menghela nafasnya panjang sambil menatap kosong ke arah dinding bercat putih di kamarnya itu.
"Bukankah Fabian terlalu jahat? di saat sang kakak melangsungkan pernikahan besok, ia malah memilih hari esok juga untuk pertunangannya, apa ia sengaja melakukan ini padaku?" imbuh Alia lagi lagi dengan tersenyum sinis.
Sebenarnya Alia tidak tahu akan pertunangan Shila dan juga Fabian, hanya saja ketika ia di rumah sakit kemarin Alia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Ardan dengan seseorang di telpon yang mengatakan tentang pertunangan Fabian.
Setetes air mata kembali jatuh di pipinya, ketika mengingat kembali hari di mana Fabian mengatakan segalanya waktu kemarin. Rasanya benar benar seakan seperti telah di angkat naik ke atas namun tiba tiba di jatuhkan begitu saja oleh kenyataan.
Alia benar benar tidak tahu, apakah dirinya yang terlalu percaya diri atau memang Fabian yang pandai mempermainkan hati wanita? hingga bisa bisanya Alia menganggap perasaannya pada Fabian bersambut.
Alia mengusap air matanya yang turun dengan kasar, seulas senyum Alia coba untuk paksakan agar mengurangi sedikit luka hatinya ketika kembali mengingat Fabian.
"Sudahlah, lagi pula ini adalah kesalahan ku yang merasa baper tanpa mengecek terlebih dahulu perasaan Fabian yang sesungguhnya." ucap Alia lagi sambil mencoba untuk tersenyum.
**
__ADS_1
Di ruangan pribadi Fabian.
Setelah Fabian dari Kafe dan hanya mendapat amplop saja tanpa bertemu dengan Shiren. Fabian lantas kembali menuju ke Restonya sekalian untuk mengecek isi amplop tersebut.
Fabian yang sudah duduk di kursi kebesarannya lantas langsung menyobek amplop tersebut dengan kasar. Sepucuk surat disertai dengan flashdisk nampak keluar dari dalam amplop.
Fabian...
Maafkan tante yang terlalu pengecut dan tidak sanggup untuk bertemu langsung dengan mu. Entah mengapa, rasanya tante seperti merasa sangat bersalah kepadamu dan juga Ardan...
Tante minta maaf jika tante baru memberitahu mu sekarang, lewat flashdisk itu segala teka teki beberapa tahun lalu mungkin akan terungkap.
Tante tidak tahu itu termasuk ke dalam berita baik atau buruk, tante hanya tidak ingin hubungan mu dengan Shila terjalin tanpa sebuah kejujuran.
Hanya saja satu pesan tante kepada mu, apapun yang ada di dalam vidio tersebut maafkanlah Shila nak..
Ijinkan tante yang akan memberikan hukuman untuknya...
Tante mohon...
Fabian yang membaca kata demi kata yang tertulis di surat tersebut semakin di buat bingung akan maksud dari ucapan Shiren di surat itu.
Fabian yang sudah penasaran akan isi dari vidio tersebut lantas langsung memutarnya.
Di dalam flashdisk tersebut ternyata berisi rekaman CCTV beberapa tahun yang lalu, rekaman itu menunjukan tempat di tangga darurat. Di sana terlihat Shila yang tengah merokok sambil membawa sesuatu di tangannya. Beberapa menit kemudian terlihat Rima nampak berjalan menaiki anak tangga dan bertemu dengan Shila.
Keduanya nampak mulai terlibat pembicaraan, awalnya masih biasa biasa saja, hanya saja lama kelamaan rekaman tersebut menunjukkan Shila yang terlihat mulai tersulut emosi. Perdebatan mulai terjadi antara keduanya hingga kemudian Shila yang sudah terlanjur kesal tanpa sadar mendorong tubuh Rima hingga terjatuh dan menggelinding di tangga.
Tubuh Rima terhenti pada ujung tangga dan langsung membentur dinding dengan keras, darah segar terlihat mulai mengalir membasahi lantai. Shila yang melihat Rima terkulai lemas di lantai lantas terkejut dan berlarian keluar tanpa menolong Rima terlebih dahulu.
Satu jam kemudian beberapa orang nampak mulai mengerumuni tubuh Rima yang sudah tidak bernyawa itu. Fabian yang melihat rekaman vidio tersebut lantas langsung menge-pause vidio tersebut dengan tatapan yang terlihat sangat marah.
"Ternyata kau adalah dalang di balik kematian kak Rima? pantas saja aku tidak bisa melihat rekaman CCTV ini karena om Pramono menyembunyikannya dan menutup semuanya dengan rapat." ucap Fabian dengan penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung.