Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Aku tidak berhak bahagia


__ADS_3

Apartment Ardan


Ardan yang baru saja mendapat kabar dari Fabian lantas langsung melangkahkan kakinya dengan gontai kembali ke kamar. Perasaannya saat ini benar benar campur aduk dan juga kacau, membuat Ardan malah terlihat semakin lesu dan pucat.


Ceklek


Dibukanya pintu kamar dengan perlahan oleh Ardan kemudian masuk ke dalamnya. Ketika Ardan sampai di sana, Allea terlihat sudah terlelap dan berlayar ke pulau impian dengan tenangnya, membuat Ardan lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat wajah tenang Allea ketika tidur.


"Aku yang salah atas segala hal yang terjadi, hanya saja... tidak bisakah aku terus berada di sisi mu untuk menebus kesalahan ku? aku benar benar sudah terikat dengan mu Lea, bukan karena wajah mu yang mirip dengan Rima hanya saja kehadiran mu membuat hidupku kini lebih berarti lagi dan penuh semangat." ucap Ardan dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Allea dengan perasaan yang gundah gulana.


"Jika... jika aku mengakui segalanya... apakah kamu akan tetap tinggal di sisi ku Lea?" tanya Ardan kemudian dengan nada yang lirih, namun sama sekali tidak ada jawaban apapun dari Allea selain hanya keheningan.


Entah mengapa, ketika Ardan mengetahui fakta bahwa Alia telah mengetahui segala kebenarannya, membuat Ardan merasa takut akan kehilangan Allea. Ardan benar benar tahu bahwa kesalahan yang telah ia perbuat adalah sebuah kesalahan fatal, namun tidak bolehkah Ardan untuk sekali saja bertindak egois? Ardan hanya menginginkan berada di samping Allea saja tidak lebih, apakah hal itu juga tida pantas untuk Ardan dapatkan?


Ardan kembali menghela nafasnya dengan panjang dan detik berikutnya barulah ia merebahkan tubuhnya tepat di samping Allea. Didekapnya dengan erat tubuh mungil milik Allea hingga Allea yang tadinya tertidur dengan lelap sampai mengganti posisinya menjadi miring agar bisa masuk ke dalam dekapan Ardan.


"Jika memang ini adalah kesempatan terakhir ku untuk memeluknya... maka aku akan menggunakan waktu ku sebaik mungkin sebelum pagi datang dan merenggut segalanya milik ku." ucap Ardan dengan nada yang lirih sambil mengecup puncak kepala Allea dengan lembut.


"Aku menyayangi mu Lea... aku menyayangi mu dengan segala kekurangan mu." ucap Ardan sebelum pada akhirnya ikut masuk ke dalam pulau impian dengan posisi memeluk tubuh Allea dengan eratnya.


***


Keesokan paginya


Fabian nampak mulai mengerjapkan matanya secara perlahan ketika merasakan seluruh badannya pegal pegal akibat posis tidur yang tidak beraturan.


Huah....


Fabian merenggangkan otot ototnya secara perlahan sambil meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal. Hingga ketika ia telah sadar sepenuhnya, Fabian lantas di buat sedikit terkejut ketika tidak mendapati keberadaan Alia di manapun.

__ADS_1


"Al..." panggil Fabian dengan spontan sambil bangkit dari tempatnya dan berlalu pergi untuk mencari keberadaan Alia di sekitar sana.


**


Cukup lama Fabian memutari area toko untuk mencari keberadaan Alia, namun sayangnya Fabian tidak kunjung menemukan keberadaan Alia di manapun. Alia benar benar hilang dan tidak lagi terlihat di manapun, membuat Fabian hanya bisa menggaruk kepalanya dengan kasar karena tidak tahu harus mencari Alia kemana lagi.


Fabian yang kebingungan mencari keberadaan Alia lantas hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal Fabian baru saja terlelap di kursinya tadi pagi, namun ketika ia bangun sosok Alia sudah tidak ada lagi di hadapannya, membuat perasaan menyesal lantas langsung memenuhi hati Fabian.


"Harusnya tadi aku tidak tidur, mengapa kau bodoh sekali sih Bi!" ucap Fabian pada diri sendiri menyalahkan kebodohannya karena terlelap tadi ketika menjaga Alia.


Fabian yang sudah tidak tahu lagi harus bertindak bagaimana, lantas langsung mendial nomor Ardan pada ponsel miliknya. Fabian berharap Alia kini tengah berada di Apartment Ardan atau paling tidak tengah berkumpul dengan kakaknya di sana.


"Halo kak..." ucap Fabian tepat ketika panggilan telponnya terhubung dengan Ardan.


"Ada apa pagi pagi buta begini kamu menelpon ku?" tanya Ardan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Tentu saja tidak lagi pula kan Allea..." ucap Ardan namun terhenti ketika tidak melihat kehadiran Allea di sampingnya.


"Halo kak ada apa?" tanya Fabian yang penasaran karena Ardan tidak melanjutkan ucapannya barusan.


"Allea tidak ada di kamar Bi, aku akan pergi mencarinya nanti ku kabari lagi..." ucap Ardan kemudian memutus sambungan telponnya begitu saja, tanpa mendengar terlebih dahulu ucapan Fabian sebelum menutup panggilan telpon tersebut.


"Tapi kak... kak Ardan... halo kak..." panggil Fabian secara berulang kali, namun tidak ada jawaban sedikitpun dari Ardan karena memang panggilan telponnya sudah di putus secara sepihak oleh Ardan.


"Ah sial! lalu jika Alia tidak ke rumah kak Ardan ia lantas pergi ke mana?" ucap Fabian kemudian bertanya tanya pada diri sendir setelah panggilan telponnya berakhir.


***


Apartment Ardan

__ADS_1


Ardan yang terkejut akan panggilan telpon yang tiba tiba barusan, lantas kembali di buat terkejut ketika tidak mendapati keberadaan Allea di kamarnya tepat di saat Ardan bangun dari tidurnya.


"Lea kamu di mana? Le... Lea..." panggil Ardan berkali kali berharap Allea bisa mendengarnya.


Klontang klontang....


Suara benda jatuh dari arah dapur lantas langsung membuat Ardan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah dapur untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


"Allea" pekik Ardan ketika melihat Allea tengah berjongkok sambil memunguti beberapa kotoran yang jatuh dan berserakan di lantai.


Allea yang sedari tadi fokus membersihkan kotoran yang berserakan, lantas langsung mendongak ketika mendengar suara Ardan barusan.


"Ap... apa aku membangunkan mu... maaf..." ucap Allea sambil menunduk karena takut Ardan akan marah karena ia telah membuat area dapur menjadi berantakan.


Ardan yang bahagia sekaligus lega karena telah menemukan Allea, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Allea dan langsung memeluknya dengan erat, membuat Allea yang semula ketakutan lantas menjadi terkejut akan tingkah Ardan saat ini.


"Syukurlah kamu ada di sini, lain kali kalau mau pergi bilang dulu Lea agar aku tidak khawatir mencari mu." ucap Ardan yang hanya dibalas Allea dengan anggukan kepala tanpa tahu dengan jelas apa yang sebenarnya tengah Ardan bicarakan.


****


Bengkel Ardan


Sementara itu Alia yang bingung harus kemana, lantas memutuskan untuk naik angkutan umum menuju ke arah bengkel Ardan. Tujuan Alia ke sana adalah untuk menjemput Allea agar ikut pergi bersama dengannya meninggalkan kota ini beserta segala penderitaan yang keduanya rasakan selama ini.


Namun baru beberapa kali melangkah, langkah kaki Alia lantas berhenti tepat di pintu gerbang bengkel. Di sana Alia melihat kakaknya tengah bahagia bersama dengan Ardan saat ini, membuat Alia lantas terhenyak seakan tertampar bahwa memang benar benar hanya dia lah selama ini yang menderita.


"Ternyata benar kata mama, aku tidak akan bisa sebahagia kak Allea. Aku dan kak Allea adalah dua hal yang berbeda, bagaikan langit dan bumi jarak antara aku dan kak Allea sangatlah jauh." ucap Alia dengan nada yang lirih sambil mengelus area dadanya yang terasa berdenyut ketika melihat pemandangan di hadapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2