
"Ampun ma Al benar benar tidak tahu..." teriak Alia dengan tiba tiba sambil berjongkok di bawah dengan menutup telinganya rapat rapat sambil terus menunduk, membuat Fabian yang berada tak jauh dari tempatnya lantas langsung menoleh ketika mendengar teriakan Alia yang tiba tiba barusan.
"Al..." panggil Fabian ketika mendengar teriakan Alia barusan sambil berusaha menenangkan Alia sebisanya.
***
Area depan Resto
Setelah Fabian melihat Alia sudah cukup tenang, Fabian lantas menyodorkan satu botol air mineral yang sudah di buka penutupnya ke arah Alia.
Alia yang melihat Fabian menyodorkan sebotol air mineral, lantas langsung meminumnya tanpa banyak protes lagi.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Fabian kemudian setelah melihat Alia meletakkan botol tersebut.
"Kamu pasti menganggap ku aneh bukan? tak usah sungkan katakan saja, itu sudah menjadi makanan keseharian ku sejak dulu." ucap Alia dengan nada yang datar.
"Aku bahkan belum mengatakan apapun tapi kamu sudah menuduh ku macam macam. Aku tidak pernah menghakimi seseorang karena setiap orang memiliki luka traumanya sendiri sendiri yang tidak akan pernah di ketahui oleh publik sebelumnya. Jadi kenapa kamu harus minder? ketika semua orang bahkan juga memilikinya." ucap Fabian panjang kali lebar kali tinggi.
Sedangkan Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan hanya bisa terdiam, Fabian yang dari luaran terlihat tenang dan juga santai rupanya juga memiliki sisi lain dari dirinya yang tidak di ketahui banyak orang. Alia bahkan sangat kagum akan sifat kedewasaannya yang begitu tenang dalam menyelesaikan sebuah masalah.
"Ada apa melihat ku seperti itu? awas nanti naksir?" ucap Fabian dengan nada yang menggoda.
Sedangkan Alia yang mendengar ledekan tersebut lantas langsung melotot tak percaya akan ucapan Fabian barusan.
"Yang benar saja, itu tidak akan mungkin. Lagi pula kita baru beberapa kali bertemu dan aku sama sekali tidak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama." ucap Alia menegaskan yang lantas membuat Fabian tersenyum ketika mendengarnya.
"Tidak ada yang pernah tahu Al, mungkin kamu sudah merasakannya tapi kamu belum menyadarinya." ucap Fabian dengan nada yang lirih.
"Mana mungkin aku tidak menyadarinya..." ucap Alia sambil memalingkan wajahnya ke kanan menatap ke arah atas dan pandangannya terhenti pada sebuah tiang dimana di bagian atasnya terdapat kamera pengawas yang menunjuk ke arah pintu keluar Resto menuju jalan raya. "Tunggu Bi, bisakah aku melihat rekaman kamera pengawas di sebelah sana?" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah kamera pengawas yang tadi sempat tak sengaja di lihatnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Alia barusan Fabian lantas langsung menoleh dan menatap ke arah yang di tunjuk oleh Alia barusan.
"Iya juga ya... kenapa kita tidak terpikir untuk melihatnya?" ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Alia memutar bola matanya jengah ketika mendengarnya.
"Kita? kamu aja kali aku enggak..." ucapnya mengkoreksi ucapan Fabian barusan.
Sedangkan Fabian yang mendengar hal itu hanya bisa geleng geleng kepala ketika mendengar ucapan Alia barusan.
"Dasar cewek!" ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia meskipun samar.
"Apa kamu bilang?" ucap Alia kemudian ketika mendengar sesuatu yang sepertinya Fabian tengah mengoloknya barusan.
"Tidak ada..." ucap Fabian berdalih sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Hei kamu mau ke mana setelah mengejek ku barusan? katakan dulu padaku, apa ucapan mu barusan?" pekik Alia dengan nada yang penasaran.
"Mau ke ruang kontrol, bukankah kamu ingin melihat rekaman kamera pengawas untuk mencari keberadaan kakak mu?" ucap Fabian kemudian sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kontrol di Restonya.
****
Apartment Ardan.
Keduanya nampak masuk ke dalam apartment Ardan dnegan langkah kaki perlahan. Ardan melepaskan jas yang ia kenakan sedari tadi kemudian menggantungnya, sedangkan Allea yang baru melihat apartment milik Ardan, lantas tersenyum kagum karena setiap interiornya di desain dengan sangat cantik dan juga rapi.
"Kupu kupu!" pekik Allea ketika melihat salah satu pajangan dinding Ardan yang berbentuk kupu kupu.
Ardan yang mendengar hal itu lantas langsung menoleh karena ia sendiri bahkan tidak tahu kalau memiliki pajangan berbentuk kupu kupu.
"Kenapa aku baru menyadarinya? kapan aku membelinya ya?" ucapnya dalam hati ketika mendengar ucapan Allea barusan.
__ADS_1
Allea yang melihat ada hiasan dinding kupu kupu, lantas mendekat ke arah pajangan tersebut dan menatap dengan antusias sambil tersenyum bahagia seakan telah melupakan masalahnya begitu saja.
Ardan kemudian lantas melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil minuman di kulkas miliknya, Ardan tahu pasti Allea haus saat ini. Ardan kemudian menuang jus jeruk instan dan langsung membawanya kembali ke arah Allea yang masih berada di ruang tengah.
"Minumlah Lea kamu pasti haus bukan..." ucapnya sambil mengulurkan segelas jus jeruk tersebut ke arah Allea yang masih mengamati kupu kupu sedari tadi.
Entah Allea yang terlalu semangat atau memang Allea yang tidak tahu Ardan menyodorkan gelasnya terlalu dekat, tepat setelah Allea berbalik, ia malah menabrak gelas pemberian Ardan hingga tumpah dan membasahi baju yang ia kenakan.
"Ah... baju ku..." ucap Allea yang terkejut karena bajunya terkena tumpahan jus jeruk.
Ardan yang melihat hal itu lantas langsung mengambil beberapa tisu di sebelahnya dan membantu membersihkan baju Allea.
"Maaf maaf aku tidak sengaja..." ucap Ardan sambil berusaha mengeringkan baju Allea menggunakan tisu, namun yang terjadi bukanlah bersih malah semakin kotor karena tisu yang basah terkena jus menempel di baju Allea.
"Oh ****" gerutu Ardan dalam hati yang malah membuat semakin kacau. "Sebaiknya kamu ke kamar mandi dan membersihkannya, aku akan mencarikan mu baju ganti milik ku yang sementara ini bisa kamu pakai." ucap Ardan kemudian.
"Mandi? aku tadi sudah mandi..." tolak Allea sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, maksud ku jika kamu tidak membersihkannya tubuh mu bisa lengket karena terkena tumpahan jus." ucap Ardan menjelaskannya kepada Allea.
"Benarkah?" tanya Allea yang tidak langsung percaya.
"Iya, mangkanya sekarang kamu harus membersihkannya dulu." ucap Ardan lagi.
"Baiklah" ucapnya kemudian mengangguk menyetujui opsi dari Ardan.
"Jika begitu, kamu jalan lah lurus ke depan setelah itu belok ke kanan sedikit, ruangan nomor 2 dari kanan dengan pintu berwarna biru itu kamar mandinya." ucap Ardan menjelaskan yang di balas Allea dengan anggukan.
Ardan melihat kepergian Allea hingga menghilang dari pandangannya, setelah itu menggaruk keningnya yang tidak gatal karena bingung harus memberi baju apa pada Allea.
__ADS_1
"Baju apa yang akan aku berikan padanya? mana punya aku baju untuk perempuan?" ucap Ardan dengan bingung.
Bersambung