
Malam harinya
Setelah memastikan Alia sudah pergi tidur di kamarnya, Fabian lantas mengendap endap keluar sambil membawa sebuah laptop di tangannya.
Fabian menghentikan langkah kakinya di ruang keluarga dan langsung menyalakan laptop yang ia bawa sedari tadi.
Fabian menatap dengan serius ke arah layar laptop dan langsung mengklik tombol play di layar laptopnya.
Sebuah rekaman kamera pengawas jalanan mulai terlihat memutar dan menampilkan satu persatu mobil yang berlalu lalang melintasi jalanan tersebut.
Fabian yang familiar dengan jalanan tersebut lantas terkejut bukan main, sambil terus memperhatikan layar laptopnya seakan memastikan apakah jalanan ini adalah jalanan yang sama tepat ketika kejadian lima tahun yang lalu.
"Bukankah ini... tidak mungkin! dapat dari mana dia rekaman ini?" ucap Fabian yang terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.
Hingga kemudian tidak beberapa lama sebuah mobil yang terpatri di ingatannya dengan jelas mulai terlihat muncul dan langsung bom, layar laptop tiba tiba menghitam membuat Fabian lantas terkejut dengan apa yang tengah terjadi.
"Ada apa dengan rekamannya?" ucap Fabian sambil berusaha mengklik layar laptopnya berulang kali karena ia mengira ada kesalahan atau gangguan jaringan pada laptopnya.
Hingga kemudian....
Apakah kau terkejut Bi? jangan kira aku tidak tahu bahwa itu adalah kau! kau sudah berani bermain dengan ku dan menyakiti Shila... Sekarang aku ingin lihat bagaimana caramu keluar dari lubang yang sudah kau gali sendiri selama ini... hahahaha
Tulisan itu keluar satu persatu di layar laptop yang semula berwarna menghitam, membuat Fabian langsung terkejut seketika tepat ketika tulisan itu muncul.
"Sialan!" pekik Fabian dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah layar laptopnya, hingga sebuah suara mulai terdengar dan mengejutkan Fabian.
"Apa ada sesuatu Bi?" tanya Alia yang mendengar gerutuan Fabian tepat ketika ia keluar dari kamarnya hendak mengambil air minum karena haus.
Fabian yang terkejut akan suara Alia yang tiba tiba itu, lantas langsung dengan spontan menutup layar laptopnya begitu saja dengan cepat dan langsung mendongak ke arah sumber suara.
"Kau belum tidur Al?" tanya Fabian dengan nada yang gugup, membuat Alia lantas menatap dengan bingung ke arah Fabian.
__ADS_1
"Sudah, hanya saja aku haus dan hendak mengambil air minum. Apa yang kamu lakukan tengah malam begini Bi?" tanya Alia dengan raut wajah yang penasaran.
"Em... em... aku hanya sedang mengerjakan beberapa laporan yang tertunda, besok adalah deadlinenya dan aku harus menyelesaikannya malam ini juga." ucap Fabian mencari alasan yang sekiranya masuk akal dan membuat Alia percaya akan ucapannya.
"Oh begitu, apa kamu mau aku buatkan kopi sekalian?" tanya Alia kemudian menawarkan kopi untuk menemani Fabian yang sedang lembur malam ini.
"Tidak perlu, pekerjaan ku baru saja selesai." ucap Fabian sambil memasang senyum yang di paksakan ke arah Alia.
"Baiklah kalau begitu." ucap Alia kemudian berlalu pergi begitu saja menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum.
"Untung saja Alia langsung percaya padaku.." ucap Fabian sambil mengelus dadanya secara perlahan karena lega Alia mempercayainya.
"Siapa sebenarnya dia, apa mungkin dalang di balik ini semua adalah Setya?" ucap Fabian bertanya tanya sekaligus menebak dalang di balik paket misterius yang di terima oleh Alia beberapa waktu ini.
"Aku harus segera menyelesaikan ini dan mencari tahu siapa dalang di balik paket misterius itu." imbuh Fabian lagi.
*****
Terlihat seorang pria tengah menghisap rokok di mulutnya secara perlahan kemudian menghembuskan asapnya begitu saja, hingga langsung mengepulkan banyak asap di udara yang langsung memenuhi ruangannya.
Pria itu nampak tersenyum sinis sambil menatap lurus ke arah depan seakan akan tengah menertawakan sesuatu.
"Aku yakin Fabian sudah menerima paket tersebut, cek cek cek... benar benar menyenangkan ternyata bermain main dengan orang seperti mereka." ucap pria tersebut dengan tersenyum bahagia ketika memikirkan hal tersebut di tengah gelapnya ruangan itu.
"Kamu sudah menyakiti putri kesayangan ku, jadi aku rasa bermain main dengan mu sebentar tidak akan menjadi masalah bukan?" ucapnya lagi sambil kemudian menghisap kembali sebatang rokok di tangannya dan menghembuskannya ke udara.
***
Keesokan harinya
Fabian yang sudah tidak sabaran dan ingin segera menyelesaikan teka teki ini, lantas langsung menghubungi Setya dan mengajak ketemuan Setya di salah satu Resto yang terkenal dengan privasinya jika sedang melakukan meeting atau rapat rapat tertentu.
__ADS_1
Fabian terlihat sedang menunggu di ruang VVIP dengan raut wajah yang gelisah menanti kedatangan Setya, hingga tidak berapa lama pintu ruang VVIP tersebut terlihat perlahan lahan mulai terbuka dan menampilkan sosok Setya yang sedang melangkahkan kakinya mendekat dan langsung mengambil duduk di depan Fabian.
"Maaf aku telat.. hari ini jalannya macet sekali." ucap Setya ketika baru sampai di sana, namun Fabian bukannya menjawab malah menatap ke arah Setya dengan tatapan yang menelisik dan bertanya tanya.
"Tidak mungkin itu kak Setya bukan? bukankah aku kemarin sangat yakin? tapi mengapa ketika bertemu dengan kak Setya aku sedikit ragu?" ucap Fabian dalam hati.
Setya yang tidak mendengar jawaban dari Fabian lantas sedikit di buat bingung akan sikap dari Fabian saat ini.
"Bi... apa kau mendengar ku?" tanya Setya kemudian sambil menjentikkan jarinya di depan Fabian, membuat Fabian langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh iya kak..." ucap Fabian kemudian.
"Ada apa kamu mengajak ku untuk bertemu?" tanya Setya kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Fabian.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada kakak, namun aku bingung hendak memulainya dari mana?" ucap Fabian dengan nada yang terdengar ragu ragu membuat Setya langsung menatap dengan raut wajah yang bingung ke arah Fabian.
Fabian kemudian mengeluarkan beberapa foto nomer plat mobil yang di terima oleh Alia lengkap dengan flashdisk yang kemarin ia dapat di paket misterius tersebut.
Setya yang melihat barang barang itu, lantas menatapnya dengan bingung sekaligus penasaran akan maksud dari Fabian yang tiba tiba menyodorkan barang barang tersebut.
"Apa kamu menyuruh ku untuk menyelidiki seseorang Bi?" tanya Setya kemudian yang langsung membuat Fabian ikut bingung akan reaksi yang di berikan oleh Setya barusan.
"Apa kakak tidak mengenali barang barang ini?" tanya Fabian mencoba kembali memancing Setya.
"Jangan aneh aneh kamu, aku bahkan baru pertama kali melihatnya." ucap Setya dengan nada yang datar.
"Jadi bukan kak Setya pelakunya?" ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Setya semakin kebingungan akan arah pembicaraan Fabian saat ini.
"Pelaku apa?" tanya Setya tidak mengerti.
Bersambung
__ADS_1