Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kenangan masa lalu


__ADS_3

Ardan yang tidak ingin terlibat dengan masalah keduanya, lantas langsung masuk ke dalam berpura pura ingin mengecek Allea.


"Aku tidak tahu apakah ini salah atau benar? yang jelas aku yakin Fabian pasti bisa mengatasinya." ucap Ardan dalam hati sambil terus melangkah masuk ke dalam.


Ardan yang berada di dalam, lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan Allea di sana. Pandangannya terhenti di mana Allea terlihat tengah tertidur dengan posisi duduk di meja tunggu untuk tamu, membuat Ardan lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat pemandangan itu.


Ardan lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allea berada dan mengambil duduk di hadapan Allea. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah tampan Ardan ketika melihat Allea yang kini tengah tertidur pulas.


"Ri... Rima..." ucap Ardan dengan tiba tiba, membuat senyuman yang semula mengembang lantas perlahan surut dari wajahnya.


Bayangan tentang kematian Rima yang tragis mendadak terlintas di benaknya begitu saja ketika melihat Allea yang tengah tertidur. Tubuh Rima yang berlumur dengan darah waktu itu terbayang dengan jelas di ingatannya, membuat kepala Ardan lantas berdenyut dengan hebat ketika bayangan itu kembali berputar.


Ardan bangkit dari duduknya, pijakannya terasa berputar hingga Ardan menabrak meja di hadapannya ketika hendak berlalu dari sana, membuat Allea yang tengah tertidur lantas terkejut ketika mendengar suara gaduh itu.


Hanya saja ketika Allea terbangun, Ardan sudah tidak lagi terlihat di sana, hanya tersisa punggung Ardan saja yang terlihat pergi menjauh dari dirinya.


"Ap.. apa yang terjadi?" ucap Allea dengan bingung sambil mengerjapkan matanya yang masih terasa berat karena terbangun secara mendadak.


***


Malam harinya


Alia yang tidak bisa tidur, lantas hanya bisa menatap ke arah langit langit kamarnya dengan pikiran yang melayang jauh entah kemana.


Sesekali Alia bahkan terlihat tersenyum seperti malu malu ketika teringat satu persatu segala hal yang telah ia lewati bersama dengan Fabian.


"Apakah aku sudah jatuh cinta dengannya? bagaimana bisa?" ucap Alia pada diri sendiri sambil tersipu malu.

__ADS_1


Dengan perlahan Alia lantas mulai meraba bibirnya, kecupan bibir Fabian waktu itu benar benar membekas di bibirnya. Itu adalah first kiss bagi Alia yang di ambil dengan tiba tiba oleh Fabian. Hanya saja, bukankah Alia harusnya marah karena Fabian mengambilnya tanpa ijin? tapi mengapa rasanya seperti malah berbunga? Alia benar benar gila saat ini.


"Ah... sepertinya aku sudah benar benar gila karenanya." ucap Alia sambil menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya sambil tersenyum senyum sendiri di dalam selimut seperti layaknya orang gila.


Apakah seseorang yang sedang jatuh cinta selalu seperti itu? Alia kini bahkan tengah hanyut dan larut akan imajinasinya terhadap Fabian, sepertinya Alia sudah benar benar larut dan hanyut ke dalam perasaannya saat ini.


***


Sementara itu di sebuah ruangan seperti kamar, terlihat Ardan tengah terduduk di lantai begitu saja dengan posisi lampu ruangan yang gelap gulita tanpa penerangan, mungkin lebih tepatnya sengaja tidak di nyalakan oleh Ardan.


Dengan perlahan Ardan mulai membuka layar ponsel miliknya, terlihat jelas potret seorang wanita dengan wajah yang hampir mirip dengan Allea tengah tertawa bahagia di layar ponsel milik Ardan.


Ardan mengusap rambutnya dengan kasar ketika bayangan Rima kembali berputar di kepalanya.


Flashback on


Ardan tahu beberapa menit lagi Rima pasti akan datang dan mengantar makan siang dengan menu favoritnya. Di tatapnya foto pernikahan yang terbingkai rapi di meja ruang kerjanya dengan senyum yang mengembang.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dengan nyaring secara berulang kali membuat Ardan berpikir itu adalah Rima, Ardan yang sudah tidak sabar lagi lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu dan membukanya secara cepat agar ia bisa segera bertemu dengan sang istri.


"Pak.." ucap Rafa yang lantas membuat Ardan mengernyit bingung karena seseorang yang mengetuk pintu ruangannya bukanlah Rima melainkan Rafa asistennya.


"Ada apa Raf?" tanya Ardan penasaran karena melihat Rafa yang kini berwajah pucat dengan nafas yang ngos ngosan.


"Bu Rima pak... bu Rima jatuh dari tangga darurat." ucap Rafa yang langsung membuat Ardan terkejut bukan main ketika mendengar ucapan Rafa barusan.

__ADS_1


Ardan yang mulai merasakan khawatir, lantas berlarian menuju ke arah tangga darurat yang barusan di katakan oleh Rafa.


Ardan berlari dan terus berlari menuruni tangga demi tangga untuk melihat keadaan istrinya. Bodohnya Ardan yang tidak bertanya dengan pasti tangga lantai berapa istrinya terjatuh, membuat Ardan harus menuruni semua anak tangga untuk mencari keberadaan istrinya.


Hingga kemudian tepat di tangga darurat lantai kedua, dari atas Ardan melihat beberapa orang tengah berkerumun di bawah sana. Terlihat darah segar sudah membanjiri lantai tersebut, dua orang petugas rumah sakit nampak mengeluarkan kantong mayat dan hendak memasukkan Rima ke dalamnya.


Ardan yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut bukan main, Ardan tidaklah bodoh hingga ia tidak mengetahui maksud dari kantong mayat tersebut. Dengan langkah yang gemetaran Ardan lantas kembali menuruni anak tangga dan berusaha menghentikan dua orang petugas tersebut yang hendak menutup resleting kantong mayat tersebut.


Ardan menatap dengan perasaan campur aduk pada tubuh Rima yang sudah terbujur kaku dengan darah yang membasahi pakaian dan tubuhnya. Di peluknya dengan erat jasad itu sambil menangis tersedu sedu.


"Rima... Rima... kenapa hiks hiks... kenapa.... aaaaaaaa"


Hanya kata kata tersebut yang keluar dari mulut Ardan di iringi isak tangis kesedihan yang membalut dirinya hari itu.


Kepergian Rima yang tiba tiba membuat bekas luka tersendiri bagi Ardan yang tak kunjung hilang walau sudah bertahun tahun lamanya.


Butuh waktu cukup lama bahkan bertahun tahun bagi Ardan untuk kembali bangkit dan berdiri. Hingga ketika ia benar benar telah bangkit dan siap untuk memulai kembali kehidupannya. Ardan harus kembali di patahkan oleh perasaan depresi karena kecelakaan yang tak sengaja antara dirinya dan juga Fabian yang merenggut nyawa kedua orang tua Alia dan juga Allea waktu itu.


Ardan yang sudah memiliki luka sebelumnya, harus kembali merasakan depresi yang berat akibat perasaan bersalah karena kecelakaan tersebut.


Ini adalah awal mula semuanya bermula, kepergian Fabian dari rumah dan juga perpecahan keluarga Zayan membuat Ardan terus hidup dalam luka yang tak kunjung membaik hingga saat ini.


Flashback off


Ardan lagi lagi mengusap wajahnya dengan kasar, satu persatu air mata nampak menetes membasahi pipinya ketika melihat kembali potret Rima di layar ponsel miliknya.


"Harusnya aku tidak membiarkan mu pergi waktu itu... maafkan aku Rima..." ucap Ardan dengan nada yang tersendat karena menahan isak tangisnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2