Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Janji ketika kecil


__ADS_3

Sementara itu setelah beberapa menit mengendara, Ardan lantas memarkirkan mobilnya di halaman Resto milik Fabian lalu terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu. Sedangkan Allea hanya bisa meremas bajunya saja seakan bingung harus berbuat apa setelah apa yang terjadi padanya dan juga Ardan tadi di mansion utama.


Terdengar helaan nafas dari Ardan beberapa menit kemudian, hingga membuat Allea lantas dengan spontan menoleh ke arah Ardan.


"Aku harap yang terjadi tadi tidak melukai hatimu, aku berjanji apapun yang terjadi aku akan tetap menikahi mu minggu depan, kamu tidak perlu khawatir." ucap Ardan sambil menatap ke arah Allea dalam dalam.


"Ja.. jangan menyiksamu seperti ini Ar... aku tak apa sungguh..." ucap Allea dengan lirih sambil menunduk seakan tak berani menatap ke arah Ardan.


Sedangkan Ardan yang mendengar ucapan Allea barusan, ia lantas tersenyum sambil mengacak acak rambut Allea pelan. Melihat Allea yang seperti ini entah mengapa membuat perasaan Ardan seakan berbunga, rasanya seakan ada seseorang yang kembali menguatkan dirinya dalam menghadapi sebuah masalah, Ardan benar benar merindukan rasa itu. Rasa yang menghilang tepat ketika kepergian Rima beberapa tahun yang lalu.


**


Keduanya kemudian lantas turun dari mobil dan hendak melangkah masuk ke dalam Resto, namun di cegah oleh Alia yang melihat kedatangan keduanya.


"Kalian sudah di sini, aku benar benar cemas sedari tadi memikirkan kalian. Apakah ada sesuatu yang terjadi ketika di sana?" ucap Alia dengan menyerocos ketika melihat kedatangan Ardan dan juga Allea di Resto.


Ardan yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja bingung akan menjawab apa, tentu tidak mungkin bukan? jika Ardan mengatakan bahwa kedua orang tuanya tak menyukai Allea, jelas saja itu bunuh diri namanya.


Hanya saja Ardan yang tengah di landa kebingungan, lantas sedikit bisa bernafas lega ketika melihat Allea tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ke arah Alia seakan menjawab semua pertanyaan dari Alia tadi.


"Sungguh?" tanya Alia yang tidak langsung percaya begitu saja.


"Ya kau tidak perlu khawatir Al, bukankah kakak mu sudah pulang dengan selamat sekarang?" ucap Ardan kemudian berusaha meyakinkan Alia bahwa tidak ada hal serius yang terjadi tadi di rumah orang tuanya.


"Syukurlah kalau begitu kak... aku ikut senang." ucap Alia sambil tersenyum cerah kemudian memeluk Allea sebentar.

__ADS_1


"Kamu mau kemana bawa tas?" tanya Ardan kemudian ketika baru menyadari bahwa Alia tengah menenteng tas besar dan juga dua tas punggung di tangan kanan dan kirinya.


"Oh ini, tadinya aku akan mengembalikan barang barang ini di rumah terlebih dahulu jika kak Allea tidak kunjung kembali, namun ternyata aku malah ketemu kalian berdua di sini." jawab Alia dengan nada yang santai.


Ardan yang mendengar ucapan Alia tentu saja bingung, pikiran buruk tiba tiba terlintas di benaknya ketika melihat Alia sudah mengemasi barang barangnya.


"Apa kau dan Bian bertengkar Al? jika ia biar kakak yang akan menegurnya hem.." ucap Ardan dengan nada yang lembut membuat Alia lantas tersenyum ketika mendengarnya.


"Tak perlu kak, kami tidak bertengkar hanya saja kontrak ku dengan Fabian sudah berakhir dan ini saatnya kami berdua untuk kembali pulang dan melanjutkan hidup kami." jelas Alia kepada Ardan takutnya Ardan salah paham nantinya.


"Oh, kalau begitu ayo aku antar." ajak Ardan kemudian.


"Tidak perlu kak kami naik taksi saja." tolak Alia dengan halus takut Ardan tersinggung nantinya.


Dan pada akhirnya Alia hanya bisa pasrah ketika Ardan membantu membawakan beberapa tas perlengkapan kerja Alia dan juga barang bawaan lainnya masuk ke dalam mobil. Bagi Alia panggilan kakak ipar terdengar masih asing untuknya, Alia benar benar belum terbiasa akan hal itu. Namun di lubuk hatinya yang terdalam, Alia berharap semua perlakuan Ardan pada kakaknya bukanlah sebuah akting atau hanya pura pura saja.


Untuk saat ini Alia hanya bisa mencoba percaya dan membiarkan segalanya bejalan dengan pelan. Rasa khawatir dan takut tentu saja ada, mengingat kondisi Allea yang tidak sempurna, membuat Alia benar benar takut jika kakaknya hanya di jadikan sebagai tempat pelampiasan atau sejenisnya.


"Aku harus berusaha menerimanya, lagi pula kak Lea tampak baik baik saja dan bahagia. Jika seperti itu bukankah akan sangat egois jika aku hanya memikirkan prasangka buruk yang belum tentu terjadi?" ucap Alia dalam hati ketika melihat Ardan mulai membawanya dan Allea masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat ketiganya berdiri.


****


Malam harinya


Ardan melangkahkan kakinya dengan lesu masuk ke dalam Restonya lewat pintu belakang. Suasana Resto sudah sepi, di jam segini tentu saja Resto sudah tutup.

__ADS_1


Di usapnya dengan kasar wajah Fabian sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan berhenti tepat di wastafel. Dengan perlahan Fabian mulai menyalakan kran air dan mencuci mukanya di sana. Tatapannya terhenti tepat di depan cermin, menatap ke arah wajahnya yang basah terkena air barusan.


Tetesan demi tetesan air mengalir satu persatu dari wajahnya. Membuat bayangan tentang ucapan Shila tadi siang terlintas dan berputar di kepalanya secara berulang ulang seperti kaset rusak.


Flashback on


Setelah puas berkeliling, Shila meminta Fabian menghentikan mobilnya di taman kota. Keduanya lantas berjalan sebentar sambil membawa es krim di tangan mereka masing masing.


"Ayo kita duduk di sana sambil memakan es krim kita..." ajak Shila sambil menarik tangan Fabian agar mengikuti langkah kakinya.


Fabian yang di tarik hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki perempuan yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu.


"Kau tahu alasan ku mengajak mu ke sini Bi?" tanya Shila tiba tiba ketika keduanya sudah duduk di bangku taman.


"Apa?"


Mendengar hal tersebut Shila lantas tersenyum. "Lihatlah ke arah air mancur itu, bukankah kamu pernah menjanjikan sesuatu padaku dulu?" ucap Shila kemudian yang lantas menghentikan gerakan tangan Fabian yang hendak membuka penutup es krim di tangannya.


Fabian terkejut ketika Shila membahas tentang janjinya waktu itu, saat itu keduanya masih sangat kecil. Fabian yang masih kecil dan tidak mengerti apa apa menjanjikan sebuah pernikahan bak princess kepada Shila, hanya karena melihat Shila menangis karena gaunnya yang sobek akibat jatuh ketika bermain kejar kejaran dengannya waktu itu.


"Kau jangan bercanda, bahkan waktu itu kita masih kecil... aku tidak yakin akan ucapan ku waktu itu." ucap Fabian sambil tertawa kecil mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jangan seperti itu Bi, kau sudah menjanjikan sesuatu dan kau harus menepatinya." ucap Shila sambil tersenyum membuat Fabian lantas menelan salivanya dengan kasar ketika mendengarnya. "Aku sudah meminta papa agar melanjutkan perjodohan kita, aku harap kamu akan senang ketika mendengarnya. Bukankah itu yang kita impikan selama ini?" imbuhnya kemudian yang lantas dengan spontan membuat es krim di tangan Fabian jatuh begitu saja ketika terkejut mendengar ucapan Shila barusan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2