
Sementara itu di sebuah ruangan tempat Fabian menyekap Rendra.
Setelah Fabian pergi dari ruangan tersebut, Rendra yang posisi kedua tangannya di ikat ke arah depan lantas mulai merogoh bagian saku jaketnya mencari sesuatu di sana.
Dengan perlahan namun pasti Rendra mulai menekan tombol on pada remote kecil yang terletak di saku jasnya, kemudian tersenyum dengan bahagia.
"Jika kita tidak bisa bersama di sini maka kita akan bersama di akhirat atau bahkan di kehidupan selanjutnya." ucap Rendra dengan senyum yang mengembang.
Seorang petugas yang berjaga jaga di ruangan tersebut lantas mendekat ke arah Rendra ketika melihat gelagat mencurigakan dari Rendra.
"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang petugas suruhan Fabian.
Rendra yang mendengar pertanyaan tersebut, lantas terlihat mendongak sebentar dan menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan yang santai namun tajam.
"Pergilah selagi kau mampu, tempat ini akan meledak dalam lima menit lagi." ucap Rendra sambil melirik ke arah jaketnya yang terlihat sensor merah tembus hingga ke luar jaket yang di kenakan oleh Rendra, membuat pria tersebut langsung dengan spontan membuka jaket yang di gunakan oleh Rendra dan terkejut ketika melihat sebuah Bom tertanam di dalam jaket kulitnya.
Mengetahui hal itu, pria berjas hitam tersebut tentu saja langsung mengkode teman temannya untuk keluar dari tempat ini dan melaporkan kepada Fabian. Membuat Rendra yang melihat beberapa ajudan Fabian mulai pergi dan meninggalkannya di ruangan tersebut dengan pintu terkunci lantas tersenyum dengan senang.
"Larilah saja sejauh yang kau bisa, karena apapun yang kau lakukan Alia akan tetap pergi bersama ku ke nirwana hahaha!" ucap Rendra dengan tawa yang menggema memenuhi ruangan tersebut yang hanya menyisakan Rendra dan juga kehampaan di sana.
***
Fabian kemudian mendekat ke arah Alia dan mencoba untuk melihat struktur jaket yang Alia gunakan dan mencari tahu bagian mana yang tidak tersambung dengan kabel pada bom tesebut.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Fabian yang sudah yakin akan bagian bagian jaket yang tidak terhubung dengan kabel pada bom rakitan tersebut, lantas mulai mengguntingnya secara perlahan.
Alia yang melihat Fabian mulai menggunting jaketnya mencoba untuk diam dan tidak bergerak, sambil menggigit bibir bawahnya Alia mencoba untuk menahan isak tangisnya agar tidak mengganggu konsentrasi Fabian.
Lengan bagian kanan sudah terbuka dengan sempurna dan kini Fabian mulai berganti dan memotong lengan bagian kiri, hingga setelah kedua lengan tangan dari jaket tersebut telah berhasil Fabian lubangi dan potong, barulah Fabian secara perlahan lahan mulai melepas jaket tersebut secara hati hati dari tubuh Alia.
Fabian yang berhasil mengeluarkan jaket tersebut dari tubuh Alia, lantas langsung dengan spontan menarik tubuh Alia dan membawanya pergi sejauh mungkin dari sana untuk menyelamatkan diri ketika waktu yang tersisa sebelum Bom tersebut meledak tinggal 1 menit lagi.
Sekuat tenaga Fabian menarik tangan Alia agar keluar dari tempat itu dan menutup pintunya dengan rapat, kemudian kembali berlari dan terus berlari hingga sebuah suara ledakan yang begitu dahsyat mulai terdengar dan membuat keduanya terpental cukup jauh.
Boom....
Ngingggggggggggg
Dengan tenaga yang tersisa Alia berusaha bangkit dari posisinya dengan merayap, Alia bersyukur papan reklame tersebut tidaklah berat dan tidak tertindih pondasi, sehingga Alia masih bisa keluar dari sana walau dengan beberapa persen tenaganya yang tersisa.
Alia memegangi kepalanya sebentar mencoba untuk membangkitkan kesadarannya yang masih belum sepenuhnya kembali, hingga ketika pandangannya mulai terlihat jelas Alia baru teringat akan Fabian yang tidak ia lihat di manapun keberadaannya.
Dengan langkah yang gemetaran Alia mencoba untuk bangkit dan mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Fabian.
Air mata Alia mengalir dengan sendirinya ketika melihat puing puing sebagian bangunan Bandara yang berserakan di lantai menambah rasa ke khawatiran dalam diri Alia saat ini.
"Bi kamu di mana?" ucap Alia dengan lirih sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Alia mulai melangkahkan kakinya mengitari area terdekatnya untuk mencari keberadaan Fabian di sana, sambil menahan tangisnya yang sudah tidak terkontrol Alia terus melangkahkan kakinya menyusuri area tersebut.
Hingga kemudian pandangannya terhenti ketika tanpa sengaja Alia melihat sebuah tangan menjulur keluar di balik ambang pintu yang sudah tertutup puing puing bangunan. Pikiran Alia yang sudah kemana mana, lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke arah tersebut.
Alia mengambil posisi tengkurap untuk melihat tangan milik siapa yang menjulur keluar tersebut, hingga kemudian ketika samar samar bayangan seseorang yang Alia kenali mampu membuat kaki Alia melemas seketika.
"Bi" pekik Alia ketika melihat tubuh Fabian terhimpit pintu dan juga beberapa pondasi yang runtuh.
Alia yang yakin itu Fabian, lantas mendekat ke arahnya dan menggenggam tangan Fabian dengan erat. Alia tidak bisa hanya diam saja dan melihat Fabian seperti ini, bagaimana pun caranya Alia harus mencari cara agar Fabian bisa keluar dari sana.
Alia kemudian mencoba untuk menguatkan tubuhnya dan beralih ke arah runtuhan mencoba untuk memindahkan puing demi puing yang menimpa tubuh Fabian. Sekuat tenaga Alia mencoba memindahkan beberapa bongkahan tembok yang berat dengan sekuat tenaganya, tangan yang tergores beberapa pondasi yang lancip bahkan tidak lagi Alia hiraukan, dalam kepalanya hanya ada cara bagaimana menyelamatkan Fabian dari reruntuhan.
Alia terus berusaha mengangkat bongkahan demi bongkahan pondasi dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, hingga kemudian ketika tenaganya sudah terkuras sepenuhnya, Alia langsung jatuh dengan posisi terduduk sedangkan tangannya yang sudah penuh darah akibat tergores beberapa pondasi yang lancip dan juga kasar.
"Tolong.... apakah ada orang di sana... tolong kami hik hik hiks...." teriak Alia dengan di sertai tangisan berharap ada bala bantuan yang akan membantunya mengeluarkan Fabian dari dalam reruntuhan itu.
Alia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mencari apakah ada seseorang yang meresponnya namun ternyata hanya ada kekosongan semata, membuat Alia semakin tersedu dalam tangisnya. Alia melangkahkan kakinya kembali mendekat ke arah Fabian dan menggenggam tangan pria itu dengan penuh cinta dan juga penyesalan yang bercampur menjadi satu memenuhi hatinya.
"Bu... bukankah sudah ku bilang Bi? untuk pergi menjauh hiks hiks... mengapa kau tidak mendengarnya... se... sekarang aku harus apa hiks hiks? jangan pergi Bi... jangan tinggalkan aku sendiri.. hiks huhuhu...." ucap Alia dengan tangis yang tersedu sambil memegang erat tangan Fabian.
Alia melirik sekilas ke arah Fabian kemudian merebahkan tubuhnya di sana sambil menggenggam erat tangan Fabian dan tidak ingin melepaskannya, hingga perlahan lahan pandangannya mulai mengabur kemudian menggelap dan pingsan.
"Bi..." ucapnya lirih sebelum pada akhirnya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung