Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Tidak nyaman


__ADS_3

"Paket apa ini? perasaan aku sekali tidak membeli apapun..." ucap Alia sambil terus menatapi paket yang baru saja sampai itu.


Alia yang penasaran dengan isi paket tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mulai membuka isi paket tersebut ketika ia sudah sampai di ruang tamu.


Alia membuka satu persatu kertas yang membalut paket tersebut, hingga setelah tersisa sebuah kotak kecil saja barulah Alia kembali mulai membukanya secara perlahan.


"Hem... mengapa aku jadi deg degan?" ucap Alia ketika melihat kotak yang tersisa pada paket tersebut.


Setelah kotak tersebut di buka, Alia sedikit mengernyit dengan bingung karena isi dari kotak tersebut adalah sebuah mobil miniatur dengan ukuran yang kecil, membuat Alia lantas menatap dengan bingung ke arah mobil miniatur tersebut.


"Aku bahkan tidak memesannya? apakah kurir itu salah? tapi bukankah tadi jelas jelas kurir tersebut menyebutkan nama ku?" ucap Alia pada diri sendiri bertanya tanya.


Alia yang tidak ingin semakin terbebani karena isi paket tersebut, lantas langsung menaruhnya begitu saja ke dalam almari tanpa ingin memikirkan lebih lanjut akan maksud dari isi paket tersebut.


Setelah memastikan segalanya beres, Alia kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi ke toko bunga miliknya.


**


Toko bunga


Alia yang di sibukkan dengan beberapa pesanan bunganya yang baru datang, lantas langsung bangkit berdiri ketika mendengar lonceng bel pintu masuk toko berbunyi yang menandakan ada seorang pelanggan yang datang.


"Selamat pagi, selamat datang di Sun Flower... ada yang bisa saya bantu?" ucap Alia dengan ramah kepada seorang pelanggan yang baru saja datang ke tokonya.


"Em bisa buatkan saya rangkaian bunga yang cantik?" ucap seorang pria yang ternyata itu adalah Setya.


"Tentu, apakah ada jenis bunga khusus yang anda minta untuk saya rangkaikan?" tanya Alia lagi mencoba menanyakan keinginan pelanggan sebelum mulai merangkai bunga pesanan mereka.


"Tidak ada yang khusus, yang terpenting bunga itu harus cantik seperti dirimu." ucap Setya dengan nada yang datar namun mampu membuat Alia lantas kebingungan ketika mendengar jawaban dari Setya barusan.


"Ah baiklah... silahkan duduk dan menunggu sebentar." ucap Alia sambil tersenyum ramah dan menganggap ucapan dari Setya barusan hanyalah sebuah perumpamaan saja.


"Tentu" ucap Setya kemudian melangkahkan kakinya dan menggeret kursi tepat di sebelah Alia yang hendak bersiap untuk merangkai bunga pesanan Setya.

__ADS_1


"Anda bisa menunggu di sana, saya tidak akan lama mungkin sekitar 5 sampai 10 menit saja." ucap Alia yang merasa tidak nyaman ketika melihat Setya mengambil duduk tepat di hadapannya.


"Tak perlu, aku hanya ingin melihat mu merangkai bunga yang aku pesan, tidak apa kan?" ucap Setya dengan tersenyum manis ke arah Alia.


"Oh tentu saja..." ucap Alia dengan senyum yang di paksakan.


"Sebaiknya aku segera selesaikan saja dengan cepat agar orang aneh ini segera pergi dari sini." ucap Alia dalam hati sambil mempercepat gerakannya.


**


Apartment Ardan


Pagi itu Allea terlihat mengerjapkan matanya perlahan ketika mendengar suara pintu terbuka dengan cukup keras karena tanpa sengaja membentur tembok.


Bruk...


"Ah maafkan aku, kamu pasti terkejut ya barusan..." ucap Ardan ketika melihat Allea langsung bangkit dari tidurnya ketika mendengar suara bising barusan.


Ardan melangkahkan kakinya mendekat ke arah tempat tidur kemudian meletakkan nampan berisi makanan dan juga jus kesukaan Allea di atas nakas.


"Aku tidak tahu apakah kamu akan suka, hanya saja aku mendengar dari Alia kamu sangat menyukai sandwich jadi aku berinisiatif memasakkan mu pagi ini." ucap Ardan dengan senyum yang mengembang sambil mengusap rambut Allea dengan lembut.


Allea yang di perlakukan dengan lembut oleh Ardan lantas hanya bisa terdiam sambil menunduk. Allea kali ini tidak ingin hanyut ke dalam perlakuan manis laki laki yang kini berstatus suaminya itu kemudian kembali terhempaskan oleh kenyataan.


"Ada apa? apa kamu masih marah padaku?" tanya Ardan ketika melihat wajah murung Allea.


Allea yang mendengar pertanyaan dari Ardan barusan, lantas langsung menggeleng dengan pelan namun masih dengan wajah yang menunduk ke bawah, membuat Ardan lantas menghela nafasnya pajang ketika melihat jawaban dari Allea barusan.


"Baiklah... kalau memang kamu sudah tidak marah pada ku lagi cobalah untuk memakan sandwich buatan ku satu gigitan saja hem..." ucap Ardan sambil mengambil piring berisi sandwich di atas nakas kemudian mendekatkannya ke arah Allea.


Allea yang melihat sandwich tersebut, lantas langsung mengambil sandwich dari piringnya kemudian mulai memakannya secara perlahan.


"Bagaimana rasanya? apakah enak?" tanya Ardan dengan penasaran menunggu komentar dari Allea.

__ADS_1


Allea yang melihat Ardan menatapnya dengan raut wajah yang penasaran, lantas langsung menggeleng dengan pelan sambil memasang wajah yang datar ke arah Ardan, membuat Ardan lantas terkejut bukan main ketika melihat respon dari Allea barusan.


"Masa sih? sepertinya itu gak mungkin deh karena aku mendapatkan resepnya dari Alia langsung, sini biar aku coba..." ucap Ardan dengan nada yang kebingungan sambil kemudian langsung mengambil sandwich di tangan Allea dan langsung menggigitnya.


Sedangkan Allea yang melihat Ardan percaya pada responnya, lantas mulai menahan tawanya karena mengira Ardan mempercayainya. Sedangkan Ardan yang baru menyadari bahwa Allea terlihat seperti mencoba menahan tawanya, lantas langsung menghentikan gerakannya dan menatap Allea dengan tatapan yang menelisik.


"Ah... kamu membodohi ku rupanya..." ucap Ardan dengan nada yang sengaja memanjang.


"Ti... tidak..." ucap Allea sambil menggeser tubuhnya dan hendak bangkit dari tempat tidurnya.


"Kemari kau Lea... jangan melarikan diri dari ku..." ucap Ardan ketika melihat Allea bangkit dari sana.


"Hahaha tidak akan...." teriak Allea dengan tawa yang menggema sambil mencoba menghindari kejaran Ardan.


***


Toko Alia


Beberapa menit kemudian, Alia lantas telah berhasil menyelesaikan rangkaian bunganya dan membungkusnya serapi mungkin kemudian memberikannya kepada Setya.


"Silahkan bunganya..." ucap Alia sambil memberikan rangkaian bunga yang di pesan oleh Setya tadi.


"Terima kasih banyak..." ucap Setya sambil tersenyum.


Ketika Alia memberikan rangkaian bunganya kepada Setya. Pandangan keduanya lantas bertemu dan saling mengunci satu sama lain, membuat tangan keduanya lantas menggantung di udara dan hanya berbatasan dengan rangkaian bunga yang masih berada di tangan Alia.


Klining klining...


Suara bel pintu yang terbuka lantas terdengar pada pendengaran keduanya dan membuat Alia dan juga Setya langsung dengan spontan menoleh ke arah pintu masuk.


"Fabian..." ucap Alia dan juga Setya dalam hati secara bersamaan tanpa keduanya sadari.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2