
Setelah berpamitan dengan Alia, Fabian lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Shila.
Sedangkan Shila yang melihat kepergian Fabian dari sana, lantas langsung bangkit dan mencabut selang infus yang menancap di tangannya kemudian membuangnya ke sembarang arah.
"Baiklah ayo kita..."
Bruk...
Suara benda yang di pukul dengan keras di area belakang Alia, membuat ucapan Alia lantas terhenti seketika. Tubuh Alia limbung dan langsung tergeletak di lantai, pandangannya kini bahkan sudah mulai mengabur namun Alia masih bisa mendengar keadaan sekitar walau pandangannya sudah menggelap.
Shila yang melihat Alia sudah tergeletak di lantai, lantas mulai melangkahkan kakinya dan sedikit berjongkok menatap ke arah Alia yang kini tengah terpejam.
"Fabian itu hanya milik ku.. kau yang hanya orang baru tak ada hak apapun untuk merebutnya dari ku!" ucap Shila sambil menepuk tepuk pipi Alia secara berulang kali.
Alia yang memang dalam posisi antara sadar dan tidak sadar, tentu saja mendengar dengan jelas ucapan dari Shila barusan. Hanya saja pandangannya yang menggelap membuat Alia sama sekali tidak bisa melihat apa yang hendak Shila lakukan padanya saat ini.
"Apa yang akan dia lakukan padaku?" ucap Alia dalam hati bertanya tanya.
Di tengah perasaan bertanya tanya dalam dirinya, tubuhnya yang semula diam mendadak merasa seperti di seret, fakta itu di perkuat dengan area kakinya yang terasa terangkat karena tarikan seseorang.
Shila menarik tubuh Alia perlahan dan membawanya ke ruangan istirahat untuk keluarga tepat di sebelah ruangan perawatannya.
"Kau tunggulah di sini... aku akan memberi mu kejutan sebentar lagi." ucap Shila dengan nada yang berbisik kemudian bangkit dan kembali menuju ruang perawatannya.
Alia yang mendengar ucapan Shila, lantas berusaha mengembalikkan kesadarannya. Alia tentu saja tidak bisa pasrah dan hanya diam ketika Shila membuat dirinya seakan seperti mainannya.
"Aku harus bangkit dan pergi dari sini." ucap Alia dalam hati.
Alia mencoba sebisa mungkin berusaha bergerak dan menyadarkan pandangannya. Dengan usaha dan perjuangan yang sekuat tenaga, Alia lantas mulai membalikkan tubuhnya dalam posisi tengkurap.
Alia merayap dengan perlahan di lantai sambil memegangi kepalanya sesekali ketika terasa sedikit berdenyut dan nyeri.
**
Sementara itu, Shila terlihat melangkahkan kakinya menyapu area sekeliling dengan tatapan yang menelisik, ia sedang berpikir keras saat ini tentang permainan apa yang akan ia lakukan saat ini untuk membuat Alia jera dan tidak lagi mendekati Fabian.
__ADS_1
"Em... apakah memasukkannya ke dalam lemari cukup membuatnya jera? aku rasa tidak, itu bahkan terlalu nampak berlebihan... lalu apa ya?" ucap Shila sambil terus memutar otaknya, hingga sebuah ide gila mendadak kembali terlintas di benaknya.
Shila yang yakin idenya akan membuat jera Alia, lantas langsung bergerak kembali menuju ruang peristirahatan.
Shila yang memasuki ruang peristirahatan, lantas sedikit di buat terkejut ketika mendapati tubuh Alia sudah berpindah tempat dan berniat untuk kabur. Shila yang melihat Alia merayap lantas tersenyum dengan senang seakan mendapat mainan baru.
Dijambaknya rambut Alia yang tentu saja lantas menghentikan langkah Alia yang hendak kabur dari sana.
"Kamu tidak akan bisa kabur..." ucap Shila sambil tersenyum ke arah Alia yang kini ia naiki punggungnya.
"Lepaskan aku..." ucap Alia dengan nada yang lirih.
"Tentu saja jawabannya tidak hahaha" ucap Shila dengan tawa yang kegirangan.
Shila yang masih menduduki tubuh Alia lantas langsung menarik selimut di sofa kemudian merobeknya.
Dengan gerakan yang kasar Shila langsung menali tangan Alia ke arah belakang. Tidak hanya sampai di situ bahkan Shila juga menutup mulut Alia dengan sisa sisa selimut yang ia sobek tadi.
Alia berusaha sebisa mungkin memberontak agar bisa lepas dari Shila. Namun nyatanya pukulan yang ia terima di area kepala bagian belakangnya tadi membuat kepala Alia terasa begitu berdenyut dan sakit hingga membuatnya tidak bisa fokus akan perilaku Shila.
"Aku tidak akan menyakiti mu, mari bermain air sebelum kamu pulang... bukankah aku baik?" ucap Shila dengan tersenyum cerah.
Alia yang mendengar ucapan Shila barusan, lantas menggeleng dengan keras menolak ajakan Shila. Namun nyatanya gelengannya sama sekali tidak berarti apa apa karena Shila kembali menyeret tubuhnya ke arah kamar mandi.
"Bi...." teriak Alia dalam hati, hanya nama itu yang kini terlintas di benaknya.
Hingga ketika Shila sampai di kamar mandi, Shila lantas membuka pintu kaca yang menjadi sekat di mana di dalamnya terdapat shower untuk pasien ataupun keluarga pihak pasien mandi di sana.
Shila kemudian lantas menarik tubuh Alia dan mengangkatnya ke dalam bilik kaca tersebut dengan susah payah karena Alia yang terus saja melakukan perlawanan.
Emmmmmmm
Ucap Alia yang tak jelas karena mulutnya tertutup dengan selimut.
"Jangan berisik.. aku hanya ingin memandikan mu saja agar tubuh mu tidak gatel gatel dan terus saja berusaha mendekati Fabian." ucap Shila dengan raut wajah yang culas.
__ADS_1
Emmmmm emmmm
"Ssttt" ucap Shila sambil menaruh telunjuk tangannya di depan bibir Alia agar Alia tidak lagi mencoba untuk berbicara.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Shila kemudian langsung bangkit dan menyalakan shower dengan mode air dingin setelah itu menutup pintu kaca tersebut dan menguncinya dari luar.
"Bye bye Alia sayang...." ucap Shila dengan senang kemudian membuang kunci bilik tersebut ke dalam closed dan langsung memencet tombol closed tersebut.
***
Sementara itu Fabian terlihat melangkahkan kakinya menyusuri lorong Rumah Sakit dan menuju ke arah kantin.
Ditatapnya area kantin dengan tatapan yang menelisik mencoba mencari keberadaan Shiren di sana, namun sejauh apapun Fabian menatap ia sama sekali tidak menemukan Shiren di manapun.
"Ah sial, apa Shila tengah mengerjai ku?" ucap Fabian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hingga kemudian sebuah suara yang tidak asing lantas mulai terdengar di pendengarannya.
"Fabian" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Fabian berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Lita?" ucap Fabian ketika melihat seorang dokter wanita tengah berdiri menatap ke arahnya.
"Kau masih mengingat ku rupanya..." ucap Lita dengan senyum yang merekah ketika mengetahui Fabian masih mengenalinya.
"Ya... meskipun sudah lama sekali tapi aku masih bisa mengenali mu walau kau tidak lagi memakai kacamata tebal seperti waktu jaman sekolah dulu." ucap fabian dengan ramah.
"Itu hanya masa lalu, bukankah seiring berjalannya waktu orang orang akan mulai berubah?" ucap Lita kemudian ketika Fabian kembali mengingatkannya pada masa masa sekolah di mana ia selalu saja berpenampilan culun kala itu.
"Ya ya ya aku setuju" jawab Fabian.
"Apakah ada keluargamu yang sakit di sini?" tanya Lita kemudian.
"Tidak, aku hanya datang untuk membesuk Shila, bukankah kau juga mengenalnya?" ucap Fabian kemudian.
Lita yang tadinya berwajah sumringah lantas perlahan lahan terlihat mulai berubah, membuat Fabian lantas kebingungan akan ekspresi wajah Lita yang langsung berubah drastis ketika ia menyebutkan nama Shila barusan.
"Sebenarnya...."
__ADS_1
Bersambung