
Keesokan harinya
Shila yang baru saja bangun tidur, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah area depan karena mendengar suara pintu yang di ketuk dengan keras secara berulang kali, hingga membuatnya langsung terbangun seketika dari tidurnya.
"Siapa sih pagi pagi buta gini yang bertamu? di galeri seni pula? lagipula kemana sih Rendra? pergi kok gak bilang bilang..." gerutu Shila sambil sesekali menguap dan terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama di galeri seni milik Rendra tersebut.
Cklek....
Suara pintu utama yang di buka oleh Shila, membuat si pengetuk pintu yang sedari tadi mengganggu Shila lantas mulai terlihat wajahnya sedikit demi sedikit.
"Waduh!" ucap Shila yang terkejut akan kehadiran Rio dan juga 2 orang pengawal berbaju serba hitam tepat di depan pintu.
Shila yang terkejut dengan spontan, lantas langsung kembali menutup pintu dan memegang gagangnya dengan kuat karena takut akan di bawa pulang oleh Rio.
Tok tok tok
"Buka pintunya nona... kami sudah melihat anda di dalam... jadi anda tidak perlu bersembunyi di dalam." ucap Rio dengan nada yang serius.
Tok tok tok
"Nona... kami hanya ingin menjemput anda..." ucap Rio lagi.
"Aku gak mau pulang titik." teriak Shila dari arah dalam galeri seni.
Tok tok tok
"Ini papa Shila... ayo buka pintunya sekarang..." teriak Pramono kemudian yang mulai terdengar di luar galeri seni.
"Aku gak mau pulang pa... jangan paksa Shila ku mohon..." ucap Shila dengan nada yang memelas karena ia tahu Pramono pasti akan luluh jika mendengar suara manja putrinya itu.
"Bukalah dulu dan jelaskan pada papa, jika kamu tidak menjelaskannya maka papa akan tetap membawamu pulang!" ucap Pramono dengan nada setengah berteriak dan tidak ingin di bantah sama sekali.
__ADS_1
Mendengar ucapan Pramono barusan, membuat Shila terdengar secara perlahan lahan mulai membuka pintu yang sedari tadi ia coba tahan agar para ajudan Pramono tidak bisa masuk ke dalam.
"Bagaimana sekarang hem?" tanya Pramono dengan nada yang pelan.
"Aku tidak mau pulang, biarkan aku hidup sesuka hati ku pa... ku mohon pa..." ucap Shila lagi dengan nada manja dan memelas kepada Pramono, membuat Pramono lantas langsung menghela nafasnya panjang ketika mendengar ucapan putrinya itu.
"Kita pulang yuk? mama pasti merindukan mu bukan? apa kamu tidak mau bertemu kak Setya dan juga Mama?" ucap Pramono berusaha untuk membujuk Shila agar mau kembali ke rumah.
"Tidak mau! apakah papa tahu kalau kak Setya dan juga mama ingin membawa ku pada psikiater serta dokter kejiwaan. Aku tidak gila pa! tidak gila..." ucap Shila dengan nada yang kekeh kepada Pramono agar tidak terus terusan mengajaknya untuk pulang.
"Baiklah jika kamu tidak mau pulang saat ini papa tidak akan memaksa mu lagi, hanya saja kita cari tempat yang aman dan lebih bagus untuk kamu tinggali dari pada di sini." ucap Pramono sambil menengok ke kenan dan kiri tepat setelah mengatakan hal tersebut.
Hanya saja Shila yang mendengar ucapan Pramono bukannya menurut malah langsung menggeleng dengan cepat, membuat Pramono lagi lagi menghela nafasnya panjang.
Melihat putrinya yang kekeh akan pendiriannya, lantas langsung membuatnya menoleh ke arah Rio dan meminta sesuatu.
Sebuah ponsel dan juga black card, lantas Pramono berikan kepada Shila, membuat Shila langsung dengan spontan tersenyum ketika mengerti maksud dari pemberian Pramono barusan lalu kemudian memeluk tubuhnya dengan eratnya.
"Baiklah baiklah... gunakan dengan bijak... papa percaya padamu..." ucap Pramono kemudian sambil mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Terima kasih pa..." ucap Shila lagi.
***
Mansion Pramono
Setelah mengunjungi putrinya di galeri seni, Pramono terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion dengan hati yang lega.
"Papa dari mana?" tanya Shiren kemudian tepat ketika melihat Pramono datang dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.
"Dari kerja, mama gimana sih?" ucap Pramono dengan nada yang datar.
__ADS_1
"Ini bahkan masih siang pa, jangan mengacau deh... aku tahu papa habis ketemu Shila kan? katakan kepada mama di mana Shila saat ini pa?" ucap Shiren sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Pramono.
"Apa salahnya jika papa pulang di jam segini ma? mama aja yang terlalu lebai..." ucap Pramono yang masih berkelit dan tidak mau mengaku.
"Sudahlah papa... mama itu tahu papa, mana mungkin papa sesantai ini ketika tidak menemukan keberadaan Shila kecuali papa sudah mendapatkan petunjuk dan juga lokasinya." ucap Shiren yang tidak mau kalah.
Pramono yang mendengar ucapan Shiren ada benarnya, lantas langsung terdiam seketika sambil menelan salivanya dengan kasar namun masih berusaha untuk tidak terlihat tegang di hadapan Shiren.
"Sudahlah papa lelah mau mandi gerah tau...!" ucap Pramono kemudian sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Shiren yang masih menatap kepergiannya dengan tatapan yang kesal.
"Aku tahu papa sudah menemukan keberadaan Shila..." ucap Shiren pada diri sendiri sambil tetap fokus menatap ke arah kepergian suaminya hingga menghilang dari pandangannya.
****
Rumah Sakit
Sementara itu Rendra yang sudah mendengar berita bahwa Alia tengah di rawat di Rumah Sakit. lantas langsung bergegas ke Rumah Sakit untuk mengecek keadaan Alia.
Rendra melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong Rumah Sakit sambil membawa buket bunga di tangannya dengan langkah yang bergegas.
"Mengapa Shila baru memberitahuku semalam sih jika Alia masuk Rumah Sakit? benar benar menyebalkan!" gerutu Rendra sambil terus melangkahkan kakinya.
Hanya saja, tepat ketika Rendra sampai di persimpangan lorong yang terdapat taman di bagian sampingnya lantas membuat langkah kaki Rendra terhenti seketika.
Pandangannya tertuju kepada Fabian dan juga Alia yang tengah bercanda dengan tawa yang lebar terlihat di wajah keduanya. Alia yang duduk di kursi roda nampak sangat terhibur akan ucapan dari Fabian, tanpa Rendra tahu apa yang tengah di ucapkan oleh Fabian hingga membuat Alia begitu bahagia ketika mendengarnya.
"Ternyata aku terlambat lagi kali ini..." ucap Rendra dengan nada yang lirih sambil menatap lurus ke arah Fabian dan juga Alia yang tengah berada di taman Rumah Sakit.
Di pandangnya buket bunga di tangannya dengan tatapan yang sendu. Sebuah pertanyaan mendadak terlintas di benaknya ketika melihat Alia yang begitu bahagia bersama dengan Fabian di sana.
"Bukankah Shila mengatakan bahwa Fabian hanya bersandiwara saja? tapi mengapa aku malah melihat pancaran cinta yang berasal dari manik mata keduanya." ucap Rendra lagi dengan nada yang lirih sambil terus menatap ke arah buket bunga dengan tatapan yang sendu.
__ADS_1
Bersambung