Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Keputusan


__ADS_3

"Lalu jika kakak tidur sendiri, mengapa di pagi harinya kalian berdua bisa jadi sekamar? lalu apa apaan dengan pakaian kalian tadi?" ucap Fabian kemudian yang masih tidak percaya begitu saja dengan ucapan kakaknya.


Mendapat pertanyaan itu Ardan langsung terdiam, ia sendiri bahkan juga bingung harus menjelaskannya seperti apa lagi. Mengingat ia sendiri juga tidak tahu menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam.


"Sebenarnya kami hanya tidur berdua... tidak... tidak lebih.. waktu itu semua gelap... dan aku mengira di dalam kamar adalah dirimu..." ucap Allea mencoba menjelaskan sambil memainkan kuku kuku jarinya.


Mendengar penjelasan Allea barusan malah menambah pertanyaan pertanyaan lainnya bermunculan di benak mereka.


"Tidak bisakah dia mengatakan sesuatu dengan yang lebih jelas lagi? kata katanya semakin terasa menyudutkan ku..." ucap Ardan dalam hati ketika mendengar ucapan Allea barusan.


"Kak... jadi kalian benar benar tidur bersama? dengan pakaian yang seperti itu?" tanya Alia lagi masih tidak mengerti penjelasan dari keduanya yang semakin membuat Alia bingung ketika mendengarnya.


"Tunggu... tunggu.. ada yang harus di luruskan di sini, pertama masalah Allea yang memakai baju ku itu karena bajunya terkena tumpahan jus dan basah sehingga aku meminjamkan kemeja milikku untuk ia pakai sementara waktu, sedangkan untuk aku yang bertelanjang dada itu karena listrik di sini yang mengalami pemadaman sehingga membuat suhu ruangan memanas mangkanya aku melepas pakaian ku dan hanya menyisakan kolor saja." jelas Ardan panjang kali lebar yang lantas di balas anggukan kepala oleh Allea seakan setuju dengan penjelasan Ardan barusan.


Baik Fabian dan juga Alia nampak berpikir dan mencerna setiap ucapan yang baru saja keluar dari mulut Ardan. Jika mendengar penjelasan Ardan barusan rasanya itu semua masuk akal.


"Sepertinya masuk akal" ucap Alia dalam hati.


"Ayolah aku tidak mungkin berbuat anu sebelum sah dalam ikatan pernikahan, dengan kalian menuduh ku seperti ini sama saja dengan kalian yang menganggap ku sembarangan dan main celup tanpa kenal tempat." ucap Ardan dengan kesal, sedangkan Alia yang mendengar penjelasan absurd dari Ardan barusan tentu saja hanya bisa melongo menatap tak percaya ke arah Ardan yang menjelaskannya seperti itu.


"Baiklah jika memang begitu, lalau jika suatu saat kakak ku tiba tiba hamil apa kau mau bertanggung jawab?" ucap Alia kemudian yang masih tidak percaya bahwa mereka sekamar hanya karena kebetulan saja.

__ADS_1


Ardan yang mendengar hal tersebut tentu saja terdiam, ia bahkan tidak merasa telah memasukkan junor miliknya semalam. Hanya saja perasaan Ardan yang tidak merasa telah memasukkan miliknya bukan berarti itu menjadikan jaminan bahwa semalam tidak terjadi apa apa. Mengingat posisi mereka saat bangun adalah saling berpelukan.


"Hamil itu apa? apa yang seperti membawa bola di perutnya?" tanya Allea tiba tiba di tengah keheningan yang sedang terjadi di sana.


Baik Ardan, Fabian, dan juga Alia yang mendengar ucapan Allea barusan tentu saja langsung menoleh ke arah Allea dengan spontan. Bukankah ucapan Allea tidak tepat pada waktunya?


"Sudahlah lupakan ucapan kak Allea barusan, yang jelas sekarang aku tanya pada kak Ardan apakah kakak mau bertanggung jawab jika semisal kak Lea hamil?" ucap Alia lagi mengulang pertanyaannya.


Ardan terdiam sejenak menimbang segala halnya dengan cermat. "Baik, aku akan langsung menikahi dia, jika memang dia terbukti tidak hamil dalam waktu dua bulan... satu tahun kemudian aku akan menceraikannya." ucap Ardan kemudian yang langsung membuat Fabian menatap bingung ke arah kakaknya.


"Apa yang sedang kau lakukan kak?" tanya Fabian ketika mendengar ucapan dari Ardan barusan.


"Aku hanya sedang mencoba bertanggung jawab Bi, tenanglah dan tak perlu ikut campur." ucap Ardan yang mengerti kegelisahan Fabian ketika mendengar keputusannya.


"Keputusan apa yang harus aku ambil?" ucap Alia dalam hati sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


"Jika kamu mengatakan tentang cara lain, lalu cara apa yang kamu punya ha?" tanya Ardan.


Mendengar hal itu kini ganti Fabian yang terdiam, ia bahkan juga tidak tahu cara apa yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini.


"Kita bisa menunggu sampai 2 atau 3 bulan dulu bukan? baru nanti setelah kak Allea benar benar hamil kakak baru kembali membuat keputusan." ucap Fabian.

__ADS_1


"Pernikahan yang di lakukan ketika mempelai wanita hamil di luar nikah itu tidak di benarkan dalam agama Bi, lebih baik mencegah sebelum memperumit segalanya bukan?" ucap Ardan lagi.


"Jika itu tidak di perbolehkan, bukankah perceraian juga sangat di benci kak?" ucap Fabian tak mau mengalah.


"Perceraian memang di benci, tapi Allah sama sekali tidak melarang adanya perceraian. Sudahlah keputusan kakak sudah bulat bahwa kakak akan menikahi Allea minggu depan." ucap Ardan dengan bulat dan tidak ingin di bantah.


"Tapi kak..." ucap Fabian namun terpotong karena tiba tiba mendengar teriakan Alia.


"Hentikan perdebatan kalian itu! bukankah di sini masih ada pihak keluarga yang lain? kenapa kalian malah asik beradu pendapat masing masing tanpa memperdulikan kami?" teriak Alia dengan tiba tiba yang lantas membuat Fabian dan juga Ardan terdiam seribu bahasa.


Alia menghela nafasnya panjang setelah melihat kedua pria itu duduk dengan tenang. Jujur saja perbedaan pendapat dua bersaudara itu, malah membuat kepalanya pusing dan seakan meledak karena tidak menemukan penyelesaian yang tepat untuk permasalahan ini, sedangkan keduanya bukan menyelesaikan masalah malah membuat semakin runyam dengan perbedaan pendapatan mereka.


"Sekarang ku tanya padamu kak, jika memang kak Ardan ingin menikah dnegan mu, apa pendapatmu tentang itu." tanya Alia kemudian kepada Allea berharap Allea punya opsi lain yang akan ia ambil dalam jalan hidupnya.


"Menikah? berpenampilan seperti putri dan duduk di pelaminan?" tanya Allea yang lantas di balas Alia dengan anggukan kepala. "Tentu saja aku mau... aku mau..." ucap Allea dengan girang yang lantas membuat Alia, Fabian dan juga Ardan yang ada di sana melongo ketika mendengar jawaban yang di berikan oleh Allea barusan.


Alia menepuk jidatnya pelan, berbicara dengan Allea sama dengan berbicara pada Fabian, sama sama menyebalkan dan membuat pusing orang yang bertanya.


"Apa yang aku harapkan dari jawaban kak Allea barusan?" ucap Alia sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan tidak tahu lagi harus berkata kata apa untuk menanggapi ucapan kakaknya barusan.


"Jika memang begitu, berarti sudah di putuskan bahwa aku akan menikahi Allea minggu depan." ucap Ardan mengulang kembali ucapannya yang tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2