Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Menjadikan kambing hitam


__ADS_3

Setelah dari toko furnitur, baik Alia dan juga Fabian lantas memutuskan mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa perlengkapan yang di butuhkan untuk Resto dan juga Fabian. Keduanya lantas terlihat mulai memasukkan beberapa barang ke dalam troli hingga troli mereka hampir terlihat penuh karena terisi berbagai macam barang.


Alia menatap ke arah troli yang sedang ia dan Fabian dorong sedari tadi dengan tatapan yang menelisik, bukan tanpa alasan masalahnya adalah barang barang ataupun produk yang sedari tadi di ambil oleh Fabian bukanlah kebutuhan Resto, membuat Alia lantas curiga bahwa Fabian mengajaknya datang ke supermarket ini hanyalah akal akalannya saja.


"Ada apa menatap ku seperti itu?" tanya Fabian dengan nada yang datar namun masih tetap fokus menatap ke arah depan.


Sedangkan Alia yang mengetahui bahwa Fabian mengetahui tingkahnya sedari tadi lantas langsung menjadi salah tingkah. "Tidak ada, hanya saja bukankah terlihat aneh jika pemilik Resto berbelanja sendiri bahan bahan yang akan di pakai di Resto miliknya?" ucap Alia berusaha untuk memancing Fabian.


Mendengar hal itu Fabian lantas langsung menoleh ke arah Alia kemudian tersenyum. "Bukankah itu malah bagus karena aku bisa memilih secara langsung kualitas dan juga kesegaran setiap bahannya, jadi apa yang salah?" jawab Fabian dengan cerdas membuat Alia lantas terdiam ketika mendengar ucapan Fabian barusan.


"Oh ya? apakah beberapa ikat sayuran dan juga buah cukup untuk pelanggan Resto yang selalu ramai setiap harinya?" tanya Alia lagi masih belum menyerah sama sekali.


"Tentu saja tidak, jika untuk bahan bahan pokok dan yang lainnya ada penyuplai sendiri yang datang dua hari sekali ke Resto." ucap Fabian keceplosan.


Sedangkan Alia yang mendengar hal itu lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Fabian dengan bersendekap dada, Fabian yang sadar ia baru saja mengatakan sesuatu hal yang salah, lantas mulai menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap ke arah Alia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh... jadi kamu menipuku ya? bukankah tadi kamu mengatakan ingin berbelanja keperluan Resto pak Fa..bi..an?" ucap Alia dengan sengaja membuat nada bicaranya sedikit memanjang.


Melihat Alia tengah marah padanya Fabian lantas langsung kembali melangkah mendekat ke arah Alia lalu menatapnya dalam dalam sambil tersenyum garing.


"Bukan begitu Al ini juga penting, bukankah kamu juga melihatnya aku membeli barang barang yang akan di gunakan untuk keperluan Resto." ucap Fabian menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi bukankah kamu bisa mengatakannya secara jujur padaku tadi?" ucap Alia dengan nada yang kesal.


"Baiklah aku minta maaf, aku tadinya juga hendak memberi tahu mu. Hanya saja aku tidak yakin jika mengatakan yang sebenarnya kamu akan mau menemaniku berbelanja bulanan. Jadi aku putuskan untuk mengatakan padamu membeli keperluan Resto, bukankah keduanya sama saja Al? " ucap Fabian lagi kali ini dengan nada yang memelas.


Melihat hal tersebut Alia lantas menghela nafasnya panjang. "Sudahlah lupakan, lain kali katakan saja yang sebenarnya." ucap Alia pada akhirnya.


"Setuju... ayo kita bayar aku sudah benar benar lapar sekarang." ucap Fabian kemudian menarik tangan Alia agar bergegas mengikuti langkah kakinya menuju ke arah kasir untuk membayar belanjaan keduanya, tunggu mungkin lebih tepatnya belanjaan Fabian sih.


****


Sementara itu setelah dari Resto, Ardan lantas pulang ke mansion utama karena mendapat pesan dari Arsa yang menyuruhnya mampir sebentar ke mansion.


Ardan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mencari keberadaan ibunya di dalam, hanya saja setelah menyusuri hampir setiap sudut ruangan yang ada di mansion, Ardan tetap tidak menemukan keberadaan Arsa di manapun membuat Ardan lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Tak tak tak


Suara langkah kaki yang terdengar sedang menuruni anak tangga lantas membuat Ardan menoleh karena mengira itu adalah langkah kaki ibunya. Namun ketika ia menoleh ke arah tangga yang Ardan lihat malah Zayan di sana, membuat Ardan langsung terdiam dan berbalik badan membelakangi Zayan yang terlihat sedang melangkah mendekat ke arah di mana Ardan berada.


"Bagus kamu datang, papa sudah menunggumu sedari tadi." ucap Zayan sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.


"Aku tidak datang untuk papa, aku ke sini karena pesan dari mama." ucap Ardan dengan nada yang datar.

__ADS_1


"Papa yang melakukan itu, mama mu tidak ada di rumah dia sedang pergi saat ini." ucap Zayan dengan santainya. "Duduklah sini!" ucap Zayan kemudian memberikan perintah, membuat Ardan yang mendengar hal itu mau tidak mau melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zayan dan mengambil duduk di sebelahnya.


Hening di antara keduanya, tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi hingga kemudian Zayan mulai membuka pembicaraan.


"Ini sudah keterlaluan Ar, kamu itu pemimpin perusahaan harusnya kamu lebih bisa bertanggung jawab tentang perusahaan bukan seperti ini." ucap Zayan kemudian namun kali ini dengan nada yang lebih lembut.


Ardan hanya diam tidak menanggapi maupun menyanggah ucapan Ardan membuat Zayan lantas menghela nafasnya panjang.


"Cobalah untuk lebih berusaha dan bertanggung jawab contoh Fabian dia bahkan..." ucap Zayan namun terpotong karena Ardan yang tiba tiba bersuara.


"Pa... tolong jangan bandingkan aku dengan Bian lagi, kami berdua adalah dua orang yang berbeda. Ardan benar benar lelah mendengarnya terus menerus pa!" ucap Ardan dengan kesal karena lagi lagi ia harus mendengar tentang hal ini.


"Ini bukan perbandingan semua yang papa katakan hanyalah contoh. Kamu yang mewarisi perusahaan papa tidakkah kamu harus berusaha lebih keras untuk memegang tanggung jawab itu? tapi yang kamu lakukan, kamu malah bermain main dan menyepelekannya begitu saja. Apa kamu ingin perusahaan keluarga kita bangkrut?" ucap Zayan kemudian.


"Pa!" panggil Ardan sedikit meninggi ketika mendengar ucapan Zayan barusan.


Mendengar panggilan putra sulungnya itu Zayan lantas menghela nafasnya panjang. "Kamu itu anak sulung Ar, harusnya kamu bisa mengayomi bukan malah membuat semua orang memahami dirimu. Apa kamu tidak lelah terus seperti itu? kelakuan mu itu benar benar kekanak kanakan Ar." ucap Zayan lagi.


Ardan yang mendengar hal itu lantas bangkit dari tempat duduknya. "Kalau papa tidak menginginkan Ardan harusnya papa bilang, jangan terus terusan membandingkan Ardan dengan Bian karena itu membuat ku muak." ucap Ardan dengan nada yang penuh penekanan kemudian melangkah pergi.


"Tidakkah kamu sadar karena sifat kekanakan mu itu Bian jadi terkena imbasnya? kau melakukannya tidak hanya sekali, mulai dari kecil hingga kini kau selalu saja menjadikan Fabian kambing hitam akan segala hal termasuk kejadian lima tahun yang lalu, tidakkah kamu menyadarinya Ar?" ucap Zayan kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Ardan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2