Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Flashdisk


__ADS_3

Bengkel Ardan


Siang itu Allea yang berinisiatif ingin membantu Ardan lantas terlihat menyapu area depan bengkel secara perlahan. Walau Allea agak kesulitan ketika melakukannya, namun Allea sama sekali tidak berputus asa dan terus melakukannya walau sapu lidi di tangannya berkali kali jatuh dan lepas dari genggaman tangannya.


"Ehem..." suara deheman seorang laki laki lantas langsung membuat Allea menoleh seketika ke arah sumber suara.


Allea sedikit terkejut, ketika ia menoleh dan melihat sosok Aditya Zayan ayah dari suaminya tengah berdiri tepat di belakangnya, membuat Allea lantas dengan spontan menjatuhkan sapunya begitu saja karena terkejut.


"Ja... jangan marah pak... jangan marah... jangan marah..." ucap Allea secara berulang ulang sambil menutup dan membuka telinganya secara berulang kali.


Zayan yang melihat reaksi dari Allea, agak terkejut karena Allea nampak sedikit trauma ketika melihatnya di sana.


"Di mana Ardan?" tanya Zayan kemudian karena takut Allea akan kembali mengamuk jika di biarkan terlalu lama seperti itu.


"Aku maaf... maaf.. maaf..." ucap Allea berulang kali membuat Zayan semakin merasa bingung dan tidak enak.


"Apa dia takut pada ku ya?" batin Zayan dalam hati sambil terus melihat tingkah Allea bingung harus berbuat apa di saat saat seperti ini.


Tak tak tak


Suara langkah kaki seseorang terdengar mulai mendekat dari arah dalam bengkel, membuat Zayan lantas langsung menoleh seketika ke arah sumber suara.


"Ada apa ini?" tanya Ardan sambil melangkahkan kakinya dan memeluk Allea yang seperti tengah ketakutan saat ini.


"Papa tidak melakukan apapun, dia saja yang tiba tiba seperti itu ketika papa datang ke sini." ucap Zayan mencoba membela diri karena memang ia tidak melakukan apapun kepada Allea sejak kedatangannya kemari.


Ardan yang mendengar hal tersebut hanya terdiam tidak menanggapi sambil terus fokus menenangkan Allea saat ini.


"Tenanglah Lea, tenang ya... aku ada di sini, semua baik baik saja." ucap Ardan dengan lembut sambil mengusap puncak kepala Allea.


Zayan yang melihat interaksi keduanya hanya terdiam sekaligus merasakan perasaan tenang karena melihat kasih sayang yang di berikan oleh Ardan tetap konsisten sedari awal.

__ADS_1


"Aku akan mengantar mu masuk ke dalam untuk beristirahat.. ayo kita ke dalam Lea..." ucap Ardan kemudian sambil menuntun Allea untuk masuk ke dalam.


**


Ruangan Ardan


Dari arah pantry Ardan terlihat melangkahkan kakinya sambil membawa secangkir kopi untuk Zayan.


"Ada apa papa datang kemari?" tanya Ardan secara langsung sambil meletakkan cangkir kopi tersebut di hadapan Zayan.


"Apakah seorang orang tua tidak boleh datang berkunjung ke tempat putranya?" ucap Zayan dengan nada yang menyindir sambil mulai menyeruput secangkir kopi yang di berikan oleh Ardan barusan.


"Jangan bercanda pa, bukankah papa sudah mencoret Ardan dari Kartu keluarga? jadi agak sedikit aneh bukan kalau tiba tiba papa membahas tentang hubungan orang tua dan anak." ucap Ardan tidak ingin kalah.


Zayan yang mendengar ucapan Ardan barusan, lantas langsung terdiam seketika. Apa yang di katakan Ardan tidak lah salah karena memang ucapan itu keluar dari mulut Zayan tepat ketika Ardan memutuskan keluar dari mansion utama keluarga Zayan dan mengembalikan semua aset yang sudah menjadi fasilitas Ardan sejak kecil.


"Ternyata ucapan orang benar ya? bahwa seorang anak merekam dengan jelas ucapan orang tua mereka." ucap Zayan sambil tersenyum tipis seakan menertawakan kebodohannya sendiri.


"Ya, papa lelah untuk itu papa datang kemari. Kembali lah Ar... kita mulai lagi semuanya dari awal." ucap Zayan yang lantas membuat Ardan langsung menatap tak percaya kepada Zayan.


"Papa jangan merencanakan yang aneh aneh, jika papa meminta Ardan untuk melepaskan Allea dan kembali ke mansion utama, aku minta maaf pa... aku sama sekali tidak bisa melakukannya." ucap Ardan seakan tahu bahwa Zayan tidak pernah menyuruhnya dengan percuma dan selalu meminta sebuah imbalan.


"Mengapa kamu selalu saja berpikir buruk tentang papa?" ucap Zayan kemudian.


Ardan yang mendengar hal tersebut kembali menatap Zayan dengan tatapan yang menelisik mencari pembenaran akan ucapan Zayan barusan.


"Lalu jika bukan hal tersebut, apa syarat papa?" tanya Ardan kemudian.


"Tidak ada syarat apapun, yang perlu kamu lakukan hanya kembali dan melanjutkan apa yang sudah kamu tinggalkan selama beberapa bulan belakangan ini." ucap Zayan sambil bangkit berdiri dan menepuk bahu Ardan dengan pelan.


Setelah menyampaikan segala maksud kedatangannya, Zayan lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ardan, menyisakan Ardan yang masih menatap kepergian Zayan dengan tatapan yang bingung akan perubahan sikap Zayan yang tiba tiba.

__ADS_1


"Apakah papa benar benar sudah berubah sekarang? mengapa aku sedikit takut?" ucap Ardan dalam hati sambil terus menatapi kepergian Zayan hingga tidak lagi terlihat pada pandangannya.


***


Sementara itu di toko Alia


Di depan tokonya Alia kembali mendapatkan sebuah paket dengan pengirim misterius.


"Apa kamu yakin paket ini tidak salah kirim? masalahnya aku tidak pernah merasa memesan apapun." ucap Alia setelah menandatangani tanda terima paket tersebut.


"Waduh, kalau itu saya sama sekali tidak tahu ya mbak soalnya tugas saya hanya mengantar paket saja." ucap kurir tersebut mencoba mencari aman.


"Oh gitu ya.." jawab Alia.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak, mari..." ucap kurir tersebut yang di balas Alia dengan anggukan kepala.


Alia yang tidak tahu lagi apa isi dari paket tersebut lantas hendak membawanya masuk ke dalam.


"Apa kamu membeli sesuatu Al?" tanya Fabian yang baru saja satang dengan raut wajah yang penasaran karena melihat Alia hendak masuk ke dalam toko dan membawa sebuah paket.


"Tidak, paket ini dari pengirim misterius itu lagi..." ucap Alia sambil membuka pintu dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam di ikuti dengan Fabian di belakangnya.


"Oh ya?" ucap Fabian dengan nada yang mencoba bersikap wajar walau dalam hatinya ia sedikit kesal karena mengetahui isi paket tersebut pastilah akan berhubungan dengan kejadian 5 tahun yang lalu.


"Apa kamu mau membukanya untuk ku? ada pesanan bunga yang harus aku selesaikan dalam 10 menit." ucap Alia meminta tolong kepada Fabian.


"Tentu saja." ucap Fabian langsung mengiyakan karena memang ia sudah penasaran akan isi dari paket tersebut.


Fabian yang melihat Alia pergi lantas langsung dengan bergegas membuka paket tersebut, satu persatu kertas yang membungkus paket tersebut mulai Fabian buka, hingga tersisa satu lagi Fabian mulai membukanya kemudian mengambil isi dari paket tersebut.


"Sebuah flashdisk?" ucap Fabian dalam hati bertanya tanya akan isi di dalam flashdisk tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2