Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kalian menipuku?


__ADS_3

"Hentikan kalian semua!" teriak Ardan ketika melihat apa yang saat ini tengah di lakukan oleh ketiganya di area depan panggung dekorasi.


Mendengar suara yang tak asing di pendengaran mereka baik Alia, Allea dan juga Rafa lantas menghentikan gerakan mereka sambil menatap ke arah sumber suara.


"Ardan" ucap Allea


"Kak Ardan" ucap Alia


"Pak Ardan" ucap Rafa


Ketiganya lantas kompak menyebut nama Ardan dengan panggilan mereka masing masing. Mengetahui kedatangan Ardan, ketiganya langsung terdiam dan membenarkan posisi mereka masing masing.


"Apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan?" ucap Ardan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah ketiganya.


Alia yang juga mendengar pertanyaan dari Ardan barusan, lantas langsung melangkah mendekat ke arah Ardan karena memang Alia sudah menunggu kedatangan Ardan sedari tadi.


"Kak Ardan sebenarnya dari mana saja sih? kalau kak Ardan tidak niat bertanggung jawab pada kakak ku jangan memberikan harapan palsu seperti ini, asal kak Ardan tau... kak Lea sedari tadi menunggu di bawah panggung tanpa makan dan minum sedikitpun sejak tadi pagi. Apa kak Ardan tidak punya hati nurani sama sekali?" ucap Alia pada akhirnya meluapkan segala keluh kesah di hatinya tepat ketika melihat kedatangan Ardan di sana.


Ardan hanya terdiam tidak menanggapi pertanyaan demi pertanyaan runtutan dari Alia barusan. Fabian yang merasa situasi di sini semakin memanas, lantas langsung melangkahkan kakinya mengambil tangan Alia kemudian menariknya menjauh dari sana.


"Tunggu sebentar! aku belum selesai berbicara dengan kakak mu... lepaskan aku Bi!" ucap Alia sambil terus memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Fabian yang melingkar erat di pergelangan tangannya.


"Nanti saja, aku akan memberitahu mu sesuatu." ucap Fabian sambil terus menarik tangan Alia untuk mengikuti langkah kakinya.


Alia yang mendengar ucapan Fabian pada akhirnya hanya bisa mendengus kesal sambil terus mengikuti langkah kaki Fabian yang membawanya pergi.


**

__ADS_1


Setelah cukup lama berjalan, Alia yang sudah mulai kesal lantas menghentikan langkah kakinya begitu saja, membuat Fabian hampir terjatuh karena Alia yang tiba tiba berhenti secara mendadak.


"Al.." panggil Fabian dengan nada sedikit meninggi.


"Apa? lagi pula bukankah ini hari pertunangan mu? untuk apa kau ada di sini dan menarik tangan ku tanpa henti?" ucap Alia dengan nada yang ketus seakan kesal dengan perlakuan Fabian.


Fabian yang mendengar ucapan sinis dari Alia lantas menghela nafasnya panjang.


"Itulah alasannya aku membawa mu hingga ke sini." ucap Fabian.


Alia yang mendengar ucapan Fabian lantas langsung bersendekap dada sambil menatap malas ke arah Fabian.


"Katakan saja di sini, tidak perlu membawaku terlalu jauh jika hanya untuk mendengarkan mu pamer status baru." ucap Alia dengan nada yang menyindir pada Fabian.


"Pertunangan ku gagal" ucap Fabian dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia.


Alia yang tadinya kesal sambil memposisikan tangannya bersendekap dada, perlahan lahan mulai menurunkan tangannya dan menatap ke arah Fabian dalam dalam.


"Aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana, aku sendiri bingung antara aku yang bodoh atau memang Shila yang terlalu pintar menyembunyikan sebuah masalah hingga aku tertipu selama bertahun tahun." ucap Fabian sambil menghela nafasnya panjang.


"Apa maksud mu?" tanya Alia lagi dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada satu hal yang tidak kamu ketahui bahwa sebenarnya kak Ardan pernah menikah sekali, istrinya meninggal akibat kecelakaan yang terjadi di tangga darurat kantor. Awalnya kami sekeluarga mengira bahwa kematian istri kak Ardan hanya karena kelalaian dari kak Rima sendiri, namun nyatanya beberapa hari sebelum pertunangan ku, tante Shiren membuka sebuah tabir rahasia yang tentu saja langsung mengguncang kembali mental keluarga kami yang sudah mulai membaik menjadi kembali down ketika mendengar hal tersebut." ucap Fabian menjelaskan segalanya.


Alia yang mendengar penjelasan Fabian barusan, tentu saja terkejut bukan main. Rasanya Alia seperti telah di tipu oleh kakak beradik ini, Alia bahkan kini bingung harus bersikap bagaimana untuk menghadapi masalah ini.


"Jadi kalian berdua menipu ku?" ucap Alia dengan nada yang lirih.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menipu mu, hanya saja masalah ini seperti sebuah luka lama yang baru saja mengering. Kami takut jika masalah ini di buka maka akan kembali memberikan rasa perih atas luka tersebut terutama bagi kak Ardan." ucap Fabian lagi sambil menghela nafasnya panjang.


Alia yang mendengar hal itu bahkan sudah tidak lagi dapat berkata kata. Di saat seperti ini, haruskah Alia ikut senang? atau malah sedih?


Alia sendiri bahkan tidak tahu perasaannya sekarang bagaimana, yang jelas saat ini rasanya Alia seperti merasa telah di bohongi oleh keduanya.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" ucap Alia dalam hati sambil masih menatap ke arah Fabian.


***


Sementara itu setelah kepergian Fabian dan juga Alia dari sana keheningan langsung terjadi di antara Ardan, Alia dan juga Rafa.


Rafa yang merasa bosnya perlu ruang untuk berbicara berdua dengan Allea lantas hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana. Hanya saja ketika Rafa baru beberapa kali melangkah dari sana, suara Ardan yang lantas langsung menghentikan langkah kakinya.


"Panggilkan aku penghulu sekarang juga Raf!" perintah Ardan yang lantas membuat Rafa dan juga Allea terkejut ketika mendengarnya.


"Apa anda yakin pak?" tanya Rafa memastikan lagi perintah dari Ardan barusan.


"Tentu saja apa lagi yang kau tunggu? pergilah dan cepat kembali aku akan menunggu mu di sini." jawab Ardan dengan nada yang datar.


Rafa yang mendapat perintah dari Ardan barusan tentu saja langsung bergerak dan berlalu pergi menjalankan tugasnya.


"Aku minta maaf Lea.." ucap Ardan sambil hendak memegang tangan Allea namun langsung di tepis oleh Allea dengan cepat.


"Ja... jangan menyentuh ku... aku.. aku membenci mu!" teriak Allea sambil mundur beberapa langkah dari posisinya, membuat Ardan lantas terkejut ketika mendengar ucapan dari Allea barusan.


Ardan yang melihat Allea mundur lantas langsung bergerak maju berusaha untuk menjangkau tubuh Allea. Membuat Allea semakin marah dan terus memundurkan tubuhnya hingga tanpa sadar di belakang terdapat sebuah tatakan standing foto yang sudah tinggal penyangganya saja.

__ADS_1


Bruk...


Bersambung


__ADS_2