
Seperti kesepakatan antara Rafa dan juga Ardan tadi pagi, Rafa mulai bekerja di bengkel milik Ardan pagi ini juga.
Segala macam pekerjaan di lakukan Rafa dengan cekatan mulai dari mengganti oli, perbaikan mesin, hingga bersih bersih, membuat Ardan lantas tersenyum ketika melirik sekilas ke arah Rafa.
"Dia benar benar asisten yang serbaguna." ucap Ardan sambil tersenyum ketika melihat cara kerja Rafa dari jauh.
Di saat Rafa sedang asyik memasang ban mobil pelanggan deringan ponsel miliknya mulai terdengar, membuat Rafa lantas langsung bangkit dan memberi kode kepada rekannya untuk mengangkat telpon miliknya sebentar.
Rafa melipir sedikit agak menjauh dari bengkel kemudian menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Rafa setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Apa kamu sudah melaksanakannya?" tanya sebuah suara di ujung sana.
"Sudah pak, semua berjalan dengan lancar dan tanpa kendala sama sekali." jawab Rafa dengan antusias.
"Bagus, terus awasi segalanya. Lakukan tugas mu dengan baik, kabarkan padaku segera jika Ardan membutuhkan sesuatu." ucap sebuah suara di seberang sana lagi.
"Baik pak" ucap Rafa, kemudian terdengar panggilan teleponnya terputus begitu saja.
"Siapa Raf?" tanya sebuah suara dari arah belakangnya yang lantas mengejutkan Rafa yang baru saja selesai menelpon.
Rafa yang kenal betul dengan suara tersebut lantas berbalik dan menatap ke arah sumber suara.
"Eh bapak... ngagetin aja tau gak..." ucap Rafa sambil mencoba tersenyum agar Ardan tidak menaruh curiga padanya. "Kira kira pak Ardan dengar pembicaraan ku dan pak Zayan gak ya barusan?" ucap Rafa bertanya tanya dalam hati.
"Apakah itu penting?" tanya Ardan yang lantas membuat Rafa menelan salivanya dengan kasar, ia takut Ardan akan berpikir yang tidak tidak jika mengetahui yang menelponnya barusan adalah Zayan.
"Tidak kok pak, biasa ayah saya menelpon menanyakan kabar." ucap Rafa mencoba mencari alasan.
"Oh, kalau sudah tidak ada lagi yang penting lanjutkan pekerjaan mu." ucap Ardan kemudian melenggang pergi dari sana, membuat Rafa yang tadinya deg degan takut ketahuan lantas bisa bernafas lega karena Ardan tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Syukurlah pak Ardan gak tahu." ucap Rafa dengan lirih sambil terus memandangi punggung Ardan hingga menghilang dari pandangannya.
**
Mansion utama
Arsa yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Zayan, lantas di buat penasaran ketika ia mendengar nama Ardan di sebut dalam pembicaraan telepon Zayan. Arsa terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zayan dan menaruh secangkir kopi di meja suaminya itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pa?" tanya Arsa dengan hati hati.
"Tidak ada, kamu tidak perlu khawatir." ucap Zayan sambil tersenyum ke arah Arsa yang kini tengah menatapnya dengan penuh selidik.
"Mama dengar papa menyebut nama Ardan barusan, apa..." ucap Arsa namun terpotong.
"Apa iya? sepertinya kamu salah dengar ma, papa tadi berbicara dengan rekan bisnis papa, mana mungkin papa menyebut nama Ardan ketika kami berdua tengah berbincang masalah bisnis? mama bisa aja..." ucap Zayan sengaja menutupi hal yang sebenarnya dari sang istri.
"Benarkah pa? jangan coba coba membohongi mama kali ini!" ucap Arsa dengan nada yang memperingati pada Zayan karena jujur saja ia tidak terlalu percaya dengan ucapan suaminya itu.
"Jika mama tidak percaya juga tak apa, papa sama sekali tidak memaksa mama." ucap Zayan dengan santai sambil menyeruput kopi yang baru saja di antar oleh Arsa tersebut.
Zayan yang melihat kepergian istrinya itu hanya bisa menghela nafasnya panjang. Zayan memang sengaja tidak memberitahu Arsa tentang masalah ini. Zayan ingin menguji apakah Ardan benar benar mampu melakukannya atau tidak, sebenarnya untuk masalah Ardan yang membeli bengkel dan merintisnya sendiri Zayan sudah mengetahuinya sejak lama.
Bukan karena Zayan acuh atau apa? hanya saja ia ingin melihat seberapa mampu Ardan dalam menghadapi kehidupan keras di luar sana.
"Aku yakin Ardan mampu melakukannya." ucap Zayan sambil tersenyum simpul.
****
Toko bunga
Alia terlihat memutar bola matanya dengan jengah, ketika melihat para pelanggan wanita di tokonya yang bersikap kecentilan karena adanya Fabian yang membantu melayani pesanan mereka.
__ADS_1
Entah mengapa Alia benar benar kesal ketika melihat hal itu, padahal jika di pikir pikir bukankah itu sangat bagus? semakin Fabian pandai merayu para pelanggan wanita semakin toko bunga milik Alia laris manis, bukankah Alia aneh?
"Jangan menyentuh bunga ku!" pekik Allea kemudian yang lantas mengejutkan Alia yang tengah menatap kesal ke arah Fabian dan juga beberapa pelanggan perempuan yang mengerumuninya.
Alia yang tersadar oleh teriakan Allea barusan, lantas cukup terkejut karena ternyata sedari tadi tanpa Alia sadari ia malah memetik satu persatu bunga segar di tangkai yang akan di rangkai oleh Allea.
"Pergi... kau... pergi dari sini..." ucap Allea dengan kesal sambil melempar tangkai bunga yang sudah gundul tanpa bunga karena ulah Alia barusan.
"Maaf kak aku tidak sengaja." ucap Alia merasa bersalah, namun Allea yang masih kesal terus melemparinya tangkai bunga dan menyuruh Alia pergi dari sana.
Fabian yang melihat Alia dan juga Allea seperti tengah ribut, lantas langsung berpamitan sebentar kepada beberapa pelanggan agar mereka mau menunggu kemudian baru melangkahkan kakinya menuju ke arah Alia dan juga Allea yang tak jauh darinya.
"Ada apa Al?" tanya Fabian sambil menatap dengan penasaran ke arah Alia.
"Ba... bawa pergi dia.. dia mengacaukan pekerjaan ku!" ucap Allea dengan nada yang kesal sambil mendorong tubuh Alia agar menjauh.
"Oke oke kakak tenang ya... biar Alia aku bawa pergi agar kakak bisa meneruskan merangkainya." ucap Fabian kemudian menarik tangan Alia untuk pergi menjauh dari Allea.
"Tapi aku..." ucap Alia hendak menolak namun tangannya sudah terlebih dahulu di tarik oleh Fabian menuju ke arah meja kasir.
Fabian kemudian lantas menyuruh Alia untuk duduk di kursi kasir sambil melayani pelanggan yang ingin membayar rangkaian bungan mereka.
"Terima kasih kak, silahkan datang kembali." ucap Fabian sambil menebar senyum ke arah gadis gadis SMU yang datang untuk membeli bunga mawar di tokonya.
"Terima kasih kak, silahkan datang kembali..." ucap Alia lirih dengan nada yang di buat buat seakan tengah mengejek Fabian yang masih melayani pelanggan.
Fabian yang mendengar suara samar Alia barusan lantas langsung menoleh ke arah Alia.
Posisi kursi kasir yang lebih rendah dari meja kasir, membuat Fabian lantas sedikit menundukkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Alia dengan lekat. Ia tahu ada yang mengganggu pikiran gadis ini hingga sedari tadi Alia terus saja memasang wajah kesal tanpa henti.
"Apa kau cemburu?"
__ADS_1
Deg
Bersambung