
"Apa kau cemburu?" ucap Fabian tiba tiba yang lantas membuat Alia terdiam seribu bahasa tak bisa berkata kata lagi.
Deg...
Deg...
Deg...
"Bisa diam gak sih? berisik amat kau jantung!" ucap Alia dalam hati sambil masih terdiam menatap manik mata Fabian dalam dalam.
"Permisi mas... mbak... apakah di toko ini menjual bunga janda bolong?" ucap sebuah suara ibu ibu di depan meja kasir.
Alia yang mendengar suara ibu ibu itu tentu saja terkejut sekaligus malu bercampur jadi satu, hingga tanpa sadar Alia langsung bangkit berdiri dan menubruk kening Fabian yang sedari tadi tengah menunduk ke arahnya.
"Al! awww...." ucap Fabian sambil mengusap keningnya yang terasa sakit ketika bertabrakan dengan kening milik Alia barusan.
"Ada bu, di sebelah sana... mari saya antar." ucap Alia dengan nada yang tertahan, sambil kemudian melangkahkan kakinya untuk menunjukkan bunga yang di maksud oleh ibu ibu tadi, membuat Fabian yang masih mengusap keningnya, lantas menatap tak percaya ke arah Alia yang bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa apa, padahal menurutnya benturan tadi cukup keras.
"Apakah tengkorak kepalanya terbuat dari batu? bisa bisanya dia sesantai itu tanpa merasakan sakit sedikitpun..." ucap Fabian yang menatap bingung ke arah Alia yang pergi begitu saja tanpa bereaksi apa apa.
Padahal yang sebenarnya terjadi...
Alia yang mendengar ucapan dari pelanggan ibu ibu tersebut terkejut bukan main sekaligus malu bercampur menjadi satu. Alia yang tidak berpikir panjang, lantas tiba tiba berdiri tanpa mengetahui dengan cermat bahwa posisi kening Fabian dan juga kening miliknya saling berdekatan, hingga jika Alia berdiri tentu saja akan bertabrakan dengan cukup keras.
"Al! aww..." ucap Fabian sambil meringis kesakitan.
Alia yang juga merasakan hal yang sama, lantas sedikit oleng ketika ia bangkit berdiri karena benturan itu. Alia menggelengkan kepalanya perlahan beberapa kali mencoba menyadarkan pandangannya yang sedikit mengabur.
"Aww" ucap Alia dalam hati hanya bisa meringis tanpa suara. "Ada bu, di sebelah sana... mari saya antar." ucap Alia kemudian pada pelanggan tersebut.
Dengan langkah perlahan dan meraba, Alia mulai berlalu pergi dan menunjukkan tempat bunga yang di maksud oleh pelanggan itu, sambil sesekali merutuki kebodohannya karena melakukan hal tadi secara tiba tiba tanpa berpikir terlebih dahulu.
__ADS_1
"Benar benar memalukan!" ucap Alia dalam hati yang terus merutuki kebodohannya.
***
Kembali ke Fabian
Fabian yang masih menatapi kepergian Alia dengan tatapan tidak percaya, lantas di buat kaget ketika mendengar deringan ponsel miliknya.
"Shila?" ucap Fabian ketika melihat nama Shila tertulis jelas di layar ponsel miliknya.
Fabian yang memang sedang malas mengangkat telpon dari Shila, lantas hanya memasukkannya begitu saja ke dalam daku celananya.
Fabian yang terlihat acuh lantas hendak melangkah mendekat ke arah Alia, namun lagi lagi deringan ponsel miliknya menghentikan langkah kakinya.
Fabian yang terlihat kesal dan menganggap bahwa telepon tersebut kembali berasal dari Shila, lantas tanpa melihat terlebih dahulu nama yang tertera di sana, Fabian langsung main angkat begitu saja.
"Ada apa sih?" ucap Fabian dengan nada yang kesal tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Aduh papa, mati aku..." ucap Fabian dalam hati ketika baru mengetahui bahwa seseorang yang menelponnya barusan adalah Zayan.
"Ada apa pa?" tanya Fabian kemudian dengan nada yang sedikit lebih merendah dari pada yang tadi.
"Datanglah ke rumah sekarang, ada yang ingin papa bicarakan penting! jangan coba coba untuk tidak datang Bi..." ucap Zayan memperingati Fabian karena ia paham betul akan kelakuan Fabian.
"Iya... iya... setengah jam lagi Fabian sampai." ucap Fabian dengan malas kemudian mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Apa yang akan papa bicarakan? tidak mungkin tentang Shila bukan?" ucap Fabian mencoba menerka nerka tepat setelah sambungan telpon terputus
*****
Mansion utama
__ADS_1
Dari arah parkiran Fabian nampak melangkahkan kakinya memasuki ruang utama mencari keberadaan Zayan di sana. Namun di saat langkah kakinya baru saja memasuki ruang utama, sebuah suara berat terdengar memanggil namanya, membuat langkah kaki Fabian lantas terhenti seketika.
"Bi kemarilah!" ucap Zayan dari arah sofa ruang utama.
Fabian yang mendengar suara berat ayahnya lantas perlahan mulai berbalik ke arah sumber suara. Fabian yang semula hanya menerka nerka kini langsung di buat yakin ketika ia melihat Shila ternyata juga tengah duduk di sebelah Zayan sambil tersenyum ke arahnya.
"Sudah ku duga..." ucap Fabian dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.
Fabian mendudukkan dirinya di sofa tepat di hadapan Zayan, Shila yang melihat posisi Fabian di sana, lantas langsung bangkit dan berpindah posisi di sebelah Fabian. Tidak ada tanggapan apapun dari Fabian ketika melihat Shila berpindah posisi karena Fabian masih menganggap hal itu sangatlah wajar.
"Kamu pasti tahu apa tujuan papa memanggil mu ke sini, papa sangat senang karena kamu mau melanjutkan perjodohan yang sudah papa buat dengan Om Pramono sejak kalian kecil..." ucap Zayan namun terpotong karena Fabian yang tiba tiba berbicara.
"Tunggu dulu pa... ada yang harus Bian luruskan terlebih dahulu di sini." ucap Fabian tiba tiba memotong pembicaraan dari Zayan barusan.
Baik Zayan maupun Shila yang mendengar hal tersebut tentu saja di buat bingung karena pernyataan dari Fabian yang tiba tiba.
"Ada apa ini Bi?" tanya Shila dengan nada yang berbisik membuat Fabian lantas menoleh sekilas ke arah Shila kemudian menggeleng perlahan.
Shila yang melihat gelengan tersebut, tentu mengetahui dengan jelas apa yang di maksud oleh Fabian. Shila meremas baju dress miliknya dengan kuat menahan kesal akan sikap Fabian yang seperti itu. Shila kini bahkan merasa sangat jauh dengan Fabian, Fabian yang sekarang tidak lagi sama seperti Fabian yang dulu.
"Apa kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Zayan kemudian yang melihat gelagat aneh dari keduanya.
"Begini pa, Bian tidak pernah sedikitpun mengatakan bahwa Bian akan menyambung perjodohan ini. Aku dan juga Shila bahkan baru bertemu kembali beberapa hari ini, tidak mungkin jika aku tiba tiba meminta untuk menyambungnya, sementara aku sendiri jarang pulang ke rumah dan berbicara bersama papa dan mama." ucap Fabian menjelaskan duduk masalahnya terlebih dahulu agar tidak ada kesalahpahaman di sini.
"Ha? tapi tadi Shila mengatakan kalau kamu sudah setuju dengan hal ini, apa kalian berdua sedang mempermainkan papa sekarang?" tanya Zayan dengan tatapan yang bingung ke arah keduanya.
"Bukan seperti itu pa..." ucap Fabian hendak kembali menjelaskan namun terpotong oleh Shila.
"Kita sedang bertengkar om" ucap Shila kemudian yang langsung membuat Zayan dan juga Fabian lantas menoleh ke arah Shila dengan tatapan yang bingung.
Bersambung
__ADS_1