Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Menyibukkan diri


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu


Pagi itu Ardan sengaja bangun lebih awal, untuk memberikan kejutan kepada Rima dengan memasakannya makanan kesukaannya yaitu steak dengan kematangan tingkat medium.


"Rima pasti menyukainya..." ucap Ardan sambil mulai menata steak yang sudah matang ke atas piring.


Dengan senyum yang mengembang Ardan mulai menatap piring berisi steak yang ia bawa ke atas meja makan, disertai dengan jus jeruk sebagai pendampingnya.


"Sempurna" ucap Ardan sambil menatap ke arah masakannya dengan senyuman yang mengembang seakan puas akan hasil masakannya.


Ketika Ardan tengah bangga akan hasil masakannya, sebuah tangan terasa melingkar di perut Ardan membuat Ardan lantas langsung tersenyum ketika mengetahui bahwa itu adalah Rima.


"Morning" ucap Rima sambil mengecup pipi Ardan cukup lama setelah itu melepaskan pelukannya.


"Morning" ucap Ardan yang juga membalas Rima dengan kecupan di pipi juga, membuat Rima lantas tersenyum dengan senang akan respon dari Ardan.


Setelah mendapat kecupan balasan dari Ardan, Rima kemudian lantas duduk di meja makan sambil menatap dua piring steak yang sudah tertata rapi di meja makan dengan tatapan yang bingung.


"Kamu yang masak?" tanya Rima seakan terkejut akan apa yang tersaji di hadapannya, ini adalah pertama kalinya Ardan memasak menu favoritnya karena biasanya Rima yang selalu memasakkan Ardan menu kesukaannya. Bukankah ini sesuatu momen yang langka?


"Of course" jawab Ardan dengan bangga sambil membusungkan dadanya menunggu pujian dari sang istri.


"Oh wow, bukankah ini sesuatu? katakan padaku... apa yang kau pinta kali ini?" ucap Rima dengan nada yang menyindir sambil menatap ke arah Ardan siap untuk mendengarkan permintaan dari Ardan.


"Come on baby... aku hanya ingin memberi mu sebuah kejutan, apa itu salah?" ucap Ardan sambil mengangkat kedua bahunya bertanya letak kesalahannya.


"Aku tahu kamu ya Ar... pasti akan ada sesuatu nantinya..." ucap Rima masih belum percaya dengan ucapan Ardan barusan sambil mulai menyingkirkan beberapa potongan bawang putih dari piringnya.


Ardan yang melihat Rima mulai menyingkirkan bawang putih, membuat Ardan lantas mengernyit dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Ardan dengan nada yang penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak menyukainya" ucap Rima sambil menunjuk ke arah potongan bawang putih di piringnya.


"Bukankah kamu kalau memasak selalu memakai bawang putih?" tanya Ardan dengan menatap bingung ke arah Rima.


"Aku biasanya akan menghaluskannya atau memakai bubuk bawang putih, apa kamu baru menyadarinya? bukankah aku selalu memasak untuk mu, apa iya tidak terasa?" ucap Rima menjelaskan.


"Kenapa aku baru sadar?" ucap Ardan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar kau itu!" ucap Rima dengan senyum yang mengembang ke arah Ardan.


**


"Rima.." ucap Ardan tanpa sadar ketika bayangan tentang Rima kembali terlintas di benaknya ketika mendengar ucapan Allea yang mengatakan tidak menyukai bawang putih.


"Apa?" tanya Allea ketika tidak mendengar dengan jelas gumaman dari Ardan barusan.


Ardan yang tersadar ketika mendengar ucapan Allea barusan, lantas langsung menggeleng dengan kuat.


"Terima kasih banyak..." ucap Allea sambil tersenyum menatapi Ardan yang tengah sibuk memilih bawang putih dari nasi gorengnya.


"Sudah selesai kamu bisa makan sekarang." ucap Ardan kemudian sambil menyodorkan piring nasi goreng tersebut pada Allea.


********


Sementara itu Alia yang memilih untuk bersikap biasa saja dan menganggap tidak terjadi sesuatu, lantas memutuskan untuk membuka tokonya dan memulai aktifitasnya seperti biasa.


Alia akan berusaha sebisa mungkin untuk melupakan Fabian, Alia berharap dengan kesibukannya ia akan bisa melupakan apa yang terjadi dan melanjutkan hidupnya.


Hari ini toko lumayan ramai dan Alia bersyukur walau rangkaian bunganya tak seindah milik Allea, tapi beberapa pelanggan masih tetap puas akan pekerjaannya.


Seharian penuh Alia sibuk di toko bunga miliknya, Alia tidak pernah sedikitpun berhenti dan terus menyibukkan dirinya dengan kesibukan agar ia benar benar bisa melupakan Fabian dari pikirannya.

__ADS_1


Setelah melayani beberapa pelanggan, Alia melanjutkan aktifitasnya dengan memindahkan beberapa tanaman dan merombaknya agar tampak lebih cantik. Dengan semangat empat lima Alia berusaha mengangkat pot bunga dengan ukuran yang cukup besar, hanya saja ketika Alia sudah bersiap untuk mengangkatnya, Alia malah terjatuh karena pegangannya terlepas pada pot tersebut, sedangkan isinya berhamburan keluar dari tempatnya, membuat Alia lantas dengan spontan melempar beberapa tanah yang menggumpal dari dalam pot.


"Argggg kenapa tidak ada yang berjalan sesuai kehendak ku sih? hiks... hiks..." ucap Alia sambil menangis tersedu.


Nyatanya dengan menyibukkan dirinya sama sekali tidak membuat hatinya tenang atau bahkan melupakan sosok Fabian di kepalanya. Semakin Alia sibuk rasanya semakin pikirannya frustasi dan terjebak dalam bayangan laki laki itu.


"Aku membencinya... membencinya..." pekik Alia dengan kesal.


**


Sementara itu tak jauh dari toko Alia, terlihat mobil Fabian tengah terparkir di sana sejak dari tadi.


Dari dalam mobilnya, Fabian terus memperhatikan gerak gerik Alia. Fabian benar benar tidak punya keberanian untuk turun menghampiri Alia dan hanya sekedar meminta maaf padanya.


Fabian melihat Alia yang tengah sibuk dari pagi mengatur tokonya dan melayani pembeli. Hanya saja ketika Alia hendak mengangkat pot bunga yang berukuran cukup besar, tubuh Alia tiba tiba jatuh ke bawah membuat Fabian dengan spontan lantas langsung membuka pintu mobilnya, namun urung karena ia mengingat perkataan Alia semalam yang mengatakan bahwa Alia sudah lelah dan bosan di perlakukan seperti itu.


Fabian yang kembali teringat, lantas langsung menutup mobilnya kembali dengan wajah yang sendu.


"Aku minta maaf Al... maafkan aku yang tidak berguna ini..." ucap Fabian dengan nada yang sendu sambil terus memperhatikan Alia dari balik kaca mobilnya.


***


Masih di jalanan yang berada di sekitaran toko bunga Alia, sebuah mobil sport yang semula melintas di daerah sana lantas mendadak berhenti dan langsung memarkirkan mobilnya, ketika melihat mobil Fabian terparkir di sana.


"Apa yang dilakukan Fabian di sini? bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit dan merawat Shila?" ucap seorang laki laki dari dalam mobil sport yang berhenti tiba tiba di bahu jalan ketika melihat mobil Fabian yang terparkir di sana.


Karena rasa penasaran yang tinggi laki laki tersebut lantas terus melihat ke arah mobil Fabian, jika dia tidak salah tebak Fabian kini tengah menatap ke arah toko bunga yang letaknya tak jauh dari sana.


"Pasti ada sesuatu yang aku lewatkan, awas saja jika kau sampai menyakiti Shila Bi..." ucapnya dengan senyum menyeringai menatap ke arah mobil milik Fabian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2