
Setelah dari toko milik Alia tadi, Shila yang kesal lantas melajukan mobilnya kembali menuju ke arah mansion milik orang tuanya.
Setelah mengemudi beberapa menit dan sampai di halaman mansion milik orang tuanya, dengan langkah yang kesal Shila mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.
Shiren yang melihat putrinya pulang, lantas langsung menghampiri Shila hendak bertanya tentang kesibukannya hari ini, namun ketika jarak keduanya semakin dekat yang Shiren lihat Shila malah terlihat seperti tengah kesal dan berwajah muram, terus melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di meja makan begitu saja.
Shiren yang melihat putrinya sedang kesal, lantas menuang segelas jus jeruk kemudian memberikannya kepada Shila agar bisa langsung di minum oleh putrinya.
"Ada apa mukanya kok di tekuk gitu? apa ada sesuatu yang salah hem?" tanya Shiren dengan nada yang lembut sambil menatap dengan wajah yang penasaran ke arah Shila.
Shila yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas menatap Shiren dengan tatapan yang bete kemudian menghela nafasnya panjang.
"Aku bete banget ma, padahal aku dan Fabian baru bertemu kembali beberapa hari yang lalu, tapi Fabian malah asyik bersama yang lain tanpa memperdulikan aku." gerutu Shila kepada sang ibu, membuat Shila yang mendengar keluhan putrinya lantas menatap dengan bingung ke arah Shila.
"Loh... bukannya kalian selalu keluar bersama? masak iya Fabian tidak mengajak mu sama sekali?" tanya Shiren yang masih tidak mengerti arah pembicaraan putrinya itu.
"Entahlah ma, mengingat hal tersebut membuat ku semakin kesal." ucap Shila dengan mencebikkan bibirnya.
"Jangan gitu dong sayang, gimana kalau kita ke salon saja sekalian melepas penat?" ajak Shiren mencoba untuk membujuk Shila agar tidak terus kepikiran tentang Fabian.
"Gak mau lagi malas ah ma.." tolak Shila yang lantas membuat Shiren menatap tak percaya ke arah Shila karena ini pertama kalinya Shila menolak ajakan dari Shiren. Biasanya jika Shiren mengajaknya ke salon Shila pasti akan langsung semangat, namun ini malah sebaliknya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin ke salon bagaimana kalau kita belanja saja? pasti menyenangkan bukan?" ajak Shiren lagi masih belum mau menyerah dan terus berusaha membujuk Shila agar mau menerima tawarannya dan kembali ceria seperti biasanya, namun di luar dugaan. Shila yang biasanya akan semangat ketika di iming imingi belanja dan ke salon lagi lagi malah menggeleng dengan keras ketika Shiren menawarkan hal tersebut kepadanya.
"Lain kali saja ya ma, Shila mau ke kamar dulu." ucap Shila bangkit berdiri dan meninggalkan Shiren di sana begitu saja, dengan berjuta tanda tanya besar yang menyelimuti pikirannya ketika melihat tingkah sang putri yang tidak seperti biasanya.
"Apakah sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan ku?" ucap Shiren bertanya tanya pada diri sendiri, sambil masih terus menatap kepergian putrinya hingga menghilang dari pandangannya. "Sudahlah mungkin ini hanya firasat ku saja." ucap Shiren lagi kemudian melangkahkan kakinya kembali ke arah dapur untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena kepulangan Shila tadi.
****
Sementara itu di toko bunga milik Alia
Ardan yang mendengar jawaban dari Fabian barusan, lantas tersenyum. "Kau janganlah pura pura seperti itu Bi, aku ini kakak mu tentu saja aku tahu. Jangan berakting seperti itu..." ucap Ardan lagi tak ingin kalah dan terus menggoda Fabian karena ia yakin kini Fabian tengah terpikat akan sosok Alia, terlepas dari segala tujuan awalnya dalam mendekati Alia beberapa waktu ini.
"Kesalahan apa?" tanya sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas mengejutkan keduanya yang tengah berada di sana.
Baik Ardan maupun Fabian lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara tepat ketika mendengar pertanyaan barusan.
"Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" tanya Alia lagi yang lantas membuat Fabian dan juga Ardan diam seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan tersebut. Keduanya benar benar bingung harus menjelaskannya seperti apa? karena ia yakin Alia pasti akan sangat marah bila mengetahui tentang kejadian waktu itu.
Alia yang tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya barusan, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan dan juga Fabian yang tengah bersandar pada dinding toko saat ini untuk meminta jawaban pada keduanya.
"Sejak kapan kamu ada di sana Al?" tanya Ardan mencoba mencairkan suasana namun malah mendapat tatapan tajam ke arahnya, sepertinya Alia tidak akan menyerah begitu saja jika Fabian atau Ardan tidak memberitahunya sesuatu tentang obrolan keduanya barusan.
__ADS_1
Alia yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung menatap ke arah Ardan dengan kesal, membuat Ardan lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat tatapan tersebut.
Alia yang sadar keduanya tidak akan bisa jujur padanya lantas mulai berkaca pinggang sambil menatap ke arah keduanya secara bergantian.
Sedangkan Ardan yang paham akan kondisi tegang yang terjadi antara ketiganya, lantas mengambil langkah seribu dan pergi dari sana secepat mungkin.
"Aku akan ke dalam dulu untuk mengecek Allea, kalian lanjutkan saja ngobrolnya." ucap Ardan kemudian dengan senyum yang garing lalu pergi dari sana secepat kilat masuk ke dalam toko, membuat Fabian hanya bisa menatap kepergian Ardan dengan tatapan yang tidak percaya.
"Kakak benar benar menyebalkan! harus bagaimana aku menjelaskannya kepada Alia coba?" ucap Fabian dalam hati sambil masih menatap ke arah kepergian Ardan hingga menghilang dari pandangannya.
"Kenapa kau diam Bi? apakah ada sesuatu yang salah?" tanya Alia ketika melihat gelagat aneh dari Fabian. "Jadi... kesalahan apa yang kamu maksud tadi Bi?" tanya Alia lagi karena jujur saja Alia masih penasaran dengan apa yang tadi menjadi topik pembicaraan keduanya.
Fabian yang mendapat pertanyaan tersebut nampak terdiam sebentar, "Aku hanya... hanya merasa bersalah padamu karena tidak bisa menjaga rekan kerja ku dengan baik dan benar." ucap Fabian mencoba memutar jawaban agar terlihat meyakinkan bagi Alia.
"Maksudnya?" tanya Alia yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Fabian barusan.
"Begini Al... aku merasa bersalah karena kamu mengalami alergi waktu itu ketika berada di Resto ku, tidak hanya itu insiden yang menimpa kakak mu juga masih bersangkutan dengan keluarga ku sehingga aku merasa memiliki tanggung jawab yang lebih kepada dirimu." ucap Fabian menjelaskan, entah kenapa ide ini tiba tiba terlintas di benaknya membuat Alia lantas terdiam dengan seribu bahasa.
"Apakah dia seorang pahlawan? mengapa hanya karena masalah sepele Bian jadi terikat dengan seseorang?" ucap Alia dalam hati ketika mendengar jawaban dari Fabian barusan.
Bersambung
__ADS_1