
"Apa yang sedang aku pikirkan?" ucap Alia sambil menggelengkan kepalanya dengan kencang.
Alia yang sudah terlanjur malu, kemudian lantas bangkit dan mengambil selimut lalu memakaikannya pada Fabian yang tengah tertidur di sofa saat ini. Setelah memastikan Fabian sudah tidur dengan nyaman, ia lantas mengusap dengan lembut rambut milik Fabian lalu tersenyum.
"Aku tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu, aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak? tapi aku biasanya menggunakan cara ini untuk menenangkan kak Allea." ucapnya sambil terus mengusap rambut Fabian. "Lupakan semua masalah mu, kamu sudah berusaha dengan keras hari ini, kamu hebat Bi..." ucapnya lagi sambil mengelus rambut Fabian kemudian mengecup kening Fabian dengan spontan.
Alia yang baru sadar akan apa yang baru saja ia lakukan, lantas mundur secara perlahan dan menepuk jidatnya merutuki kebodohan dirinya yang menyamakan Fabian dengan Allea. Tentu saja keduanya adalah dua hal yang berbeda bukan?
"Apa yang aku lakukan? dasar bodoh! dia bukan kak Lea harusnya aku cukup mengusap rambutnya saja tak perlu sampai mengecup keningnya segala... dasar bodoh kau Al!" gerutunya dengan lirih merutuki kebodohannya.
Alia kemudian lantas bangkit dan berlari menuju kamarnya dengan terus merutuki kebodohannya dan meninggalkan Fabian sendirian di sana.
Hanya saja, tanpa Alia sadari tepat ketika dirinya masuk ke dalam kamar. Perlahan mata Fabian yang semula tertutup lantas mulai terbuka, Fabian bangkit dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Seulas senyum terbit pada wajah tampannya ketika ia membayangkan kembali Alia mengecup keningnya dengan singkat.
"Aku rasa cara yang satu ini tidaklah buruk." ucap Fabian dengan senyum sumringah sambil mengusap pelan keningnya bekas Alia menciumnya tadi.
Yang sebenarnya terjadi sebelum Fabian bertemu dengan Alia di depan Restonya...
Di ruangannya Fabian tengah terlihat mondar mandir sambil memikirkan cara agar Alia tidak pulang malam ini. Valdi benar benar pusing melihat tingkah Fabian yang terus terus mondar mandir tidak jelas seperti setrikaan itu.
"Apakah anda tidak lelah terus seperti itu bos?" tanya Valdi yang pusing melihat tingkah bosnya itu.
"Diam lah aku sedang berpikir saat ini, harusnya kau itu memberi ku sebuah ide bukan malah protes!" ucap Fabian dengan kesal karena mendengar protesan Valdi barusan.
__ADS_1
"Bukankah itu mudah bos, biasanya tokoh utama pria selalu saja mabuk dan menghampiri kekasihnya lalu ia pasti tidak akan tega untuk pulang dan mengantar kekasihnya pulang. Sepertinya cara itu cukup ampuh untuk menahan Alia malam ini." ucap Valdi kemudian dengan nada yang enteng membuat Fabian lantas menatap ke arahnya sambil berpikir dan mencerna ucapan Valdi barusan.
"Tapi itu akan sangat sulit, kau tahu sendiri bagaimana aku jika mabuk? yang ada Alia akan ilfil melihat ku." ucap Fabian menolak dengan keras ide dari Valdi barusan.
Valdi yang mendengar hal itu tentu saja langsung melayang jauh dan kembali teringat ketika malam itu bosnya mabuk berat, benar benar menyusahkan karena Fabian malah bertingkah dan berubah menjadi sosok anak kecil yang merepotkan, Valdi benar benar ingat ketika Fabian menangis tersedu sedu sambil meminta balon helium berbentuk Spiderman. Membuatnya kapok dan menjaga dengan betul agar Fabian tidak lagi mabuk dan merepotkannya lagi.
"Hentikan imajinasi mu itu! aku tahu kamu sedang menertawakan ku saat ini." ucap Fabian memperingati Valdi agar berhenti memutar memorinya kembali dan mengejek dirinya.
"Maaf bos" ucap Valdi sambil berusaha menahan tawanya.
"Menyebalkan" jawab Fabian dengan singkat.
Melihat bosnya cemberut membuat Valdi memutar otaknya dan mencoba mencari ide yang bisa membantu bosnya, sampai kemudian satu ide yang masuk akal terlintas secara tiba tiba di pikirannya.
Fabian menatap kepergian Valdi dari ruangannya dengan tatapan yang bingung, hingga beberapa menit kemudian Valdi kembali ke ruangannya dengan membawa sebotol Tequila, membuat Fabian melotot tak percaya ketika Valdi membawa masuk minuman alkohol berkadar tinggi itu.
"Kau jangan gila Val, alkohol biasa saja aku tepar apalagi ini?" ucap Fabian sambil bangkit berdiri karena kesal akan sikap Valdi yang malah membawa Tequila ke ruangannya.
"Anda salah paham bos, saya tidak menyuruh anda meminumnya." ucap Valdi sambil tersenyum dengan cerahnya.
"Lalu?" tanya Fabian dengan penasaran.
Valdi yang mendapat pertanyaan tersebut bukannya menjawab malah mendekat ke arah Fabian. Valdi menuang sedikit minuman tersebut ke tangannya kemudian mengusapkannya ke kemeja Fabian yang lantas membuat Fabian mundur ketika mengetahui Valdi membuat kotor kemejanya.
"Apa yang kamu lakukan ha?" ucap Fabian dengan kesal sambil mengusap kemejanya yang basah terkena alkohol barusan.
__ADS_1
"Diam lah bos, bukankah anda tidak perlu mabuk sungguhan untuk terlihat mabuk?" ucap Valdi sambil menarik turunkan alisnya menatap ke arah Fabian, sedangkan Fabian malah tersenyum ketika baru menyadari dan ngeh dengan tindakan Valdi barusan.
"Tidak sia sia aku membayar mu mahal Val..." ucap Fabian sambil tersenyum sumringah seakan setuju dengan ide yang di berikan oleh Valdi barusan.
***
Sedangkan Alia yang tadi kelepasan mengecup kening Fabian, lantas masuk ke kamarnya dengan terburu buru kemudian bersandar di pintu kamar dengan nafas yang terengah engah.
"Aku sudah gila, benar benar sudah gila..." ucap Alia pada diri sendiri sambil mengatur ritme jantungnya.
Alia lagi lagi tersenyum ketika membayangkan apa yang terjadi barusan, hingga kemudian Alia yang baru teringat akan kakaknya lantas langsung menatap sekeliling dan mencari keberadaan kakaknya. Alia sedikit bernafas lega ketika mendapati Allea tengah tertidur di ranjang saat ini.
Alia yang melihat hal itu, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allea berada kemudian mengambil duduk di sebelahnya.
"Sebaiknya aku pulang besok saja, kak Lea pasti sudah lelah." ucapnya sambil melirik ke arah Allea yang tengah tertidur.
Alia kemudian lantas bangkit dan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu pergi istirahat.
Setelah kepergian Alia dari sana, Allea nampak bangkit dan duduk di ranjang kamarnya sambil meringkuk membayangkan kembali tentang kejadian di mana ia tanpa sengaja melihat Fabian dan juga Alia berciuman tadi di sofa.
Allea benar benar tidak tahu mengapa? ada perasaan yang tidak suka ketika melihat keduanya berciuman tadi. Alia memainkan kuku kuku jarinya dengan kasar hingga membuat jarinya berdarah karena terkena kukunya yang sedikit memanjang dan belum di potong itu.
"Alia hanya milik ku... hanya milik ku... hanya milik ku..." ucapnya dengan mata yang merah seperti menahan tangisnya agar tidak keluar dan terdengar oleh Alia yang kini sedang berada di kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1