Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Sah


__ADS_3

Ardan yang melihat Allea mundur lantas langsung bergerak maju berusaha untuk menjangkau tubuh Allea. Membuat Allea semakin marah dan terus memundurkan tubuhnya hingga tanpa sadar di belakang terdapat sebuah tatakan standing foto yang sudah tinggal penyangganya saja.


Bruk...


Suara keduanya yang terjatuh secara bersamaan lantas terdengar sangat nyaring, Allea yang tadinya hampir jatuh lantas langsung di tarik oleh Ardan yang terkejut karena melihat Allea yang hendak jatuh, sehingga yang terjadi malah keduanya jatuh secara bersamaan namun dengan posisi Allea yang jatuh tepat di atas tubuh Ardan.


Bibir keduanya lantas bertemu dan bersentuhan secara tak sengaja, membuat keduanya langsung terdiam seketika seakan mencoba mencerna adegan intim yang tiba tiba terjadi begitu saja.


"Mungkinkah ini adalah skenario terbaik Tuhan yang mengirimkan sosok pengganti Rima tepat ketika luka di hati ku kembali terbuka, mampukah aku membahagiakannya di saat bayangan Rima masih membekas di hati dan ingatan ku?" ucap Ardan dalam hati.


Allea yang juga terkejut lantas hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali seakan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


"Apa yang terjadi...?" batin Allea bertanya tanya.


Beberapa menit keduanya loading, baik Ardan maupun Allea, lantas langsung bangkit dari posisi mereka kemudian sambil membenarkan baju masing masing dalam keheningan yang menerpa di tengah tengah matahari yang terlihat terbenam.


Ketika keduanya masih saling diam, tak jauh dari keduanya Rafa datang bersama dengan seorang penghulu sehingga membuyarkan keheningan keduanya.


"Pak, penghulunya sudah datang." ucap Rafa ketika sampai di sana.


"Oh ok..." jawab Ardan dengan singkat.


***


Beberapa menit kemudian.


Setelah perundingan yang cukup alot bersama dengan Alia, pada akhirnya pernikahan di langsungkan juga tepat hari itu. Alia yang melihat kakaknya begitu menginginkan pernikahan ini terjadi, mau tidak mau lantas mengijinkannya walau sebenarnya Alia sangat sulit menerimanya, apalagi mengingat kepergian Ardan tadi pagi hingga fakta yang baru saja ia dapat membuat Alia semakin sulit untuk menerimanya.


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu tepat setelah akad nikah di ucapkan.


"Sah" teriak Fabian dan juga Rafa dengan lantang seakan ikut bahagia akan pernikahan keduanya.


Hanya Alia yang terlihat sangat bad mood akan pernikahan tersebut.


Fabian yang melihat wajah bete Alia lantas menyenggol tubuh Alia, membuat Alia lantas dengan spontan langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan yang kesal.


"Tersenyumlah, jangan cemberut seperti itu." ucap Fabian sambil menunjukkan senyum pepsodent di wajahnya.

__ADS_1


Alia yang mendengar hal tersebut hanya bisa memutar bola matanya jengah tanpa ingin membalas ucapan dari Fabian barusan.


"Ayolah Al... bukannya kau ingin kakak mu bahagia bukan?" ucap Fabian lagi mencoba membujuk Alia agar tersenyum.


Alia yang lagi lagi mendengar hal itu lantas menghela nafasnya panjang, kemudian mencoba tersenyum dengan seadanya seakan terlihat seperti tengah terpaksa.


"Sudah kan?" ucap Alia dengan nada yang ketus namun malah membuat Fabian tersenyum ketika mendengarnya.


Ardan dan juga Allea yang sudah menyelesaikan segala prosesinya, lantas mulai melangkahkan kaki mereka mendekat ke arah Fabian dan juga Alia yang tengah duduk tak jauh dari keduanya.


"Al kamu ikut pulang ke bengkel saja bersama kita untuk sementara waktu, setelah aku dapat apartment atau rumah kita akan pindah bersama." ajak Ardan pada Alia.


Alia yang mendengar hal itu lantas langsung mendongak kemudian menghela nafasnya panjang.


"Tidak perlu kak, Alia berani kok di rumah seorang diri... yang terpenting saat ini adalah cukup kakak membahagiakan kak Lea saja, itu sudah cukup bagi ku." ucap Alia dengan nada yang lebih lembut pada akhirnya.


"Jangan seperti itu, bukankah kalau kita tinggal bersama suasana akan semakin ramai dan menyenangkan?" ucap Ardan lagi mencoba untuk membujuk Alia agar ikut bersama mereka.


"I... ikutlah be.. bersama kami Al..." ucap Allea pada akhirnya sambil memainkan kuku kuku jarinya.


Alia yang mendengar kembali bujukan keduanya, lantas langsung menggeleng kemudian tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, jika kamu berubah pikiran hubungi saja aku." ucap Ardan pada akhirnya tidak bisa lagi terus memaksa Alia untuk ikut bersama dengan mereka.


"Iya kak tenang saja, tak perlu khawatir..." ucap Alia lagi.


"Kamu antar lah Alia ke rumah hingga sampai dengan selamat Bi, aku dan kakak ipar mu ini mau pulang dulu." ucap Ardan yang lantas membuat muka Allea langsung memerah ketika mendengarnya.


"Oke kak, hati hati di jalan.." ucap Fabian dengan senyum yang mengembang.


Setelah berpamitan keduanya lantas melenggang pergi dari sana dan kini hanya menyisakan Alia dan juga Fabian.


"Aku pulang sendiri saja, jangan ikuti aku!" ucap Alia dengan ketus kemudian berlalu pergi meninggalkan Fabian di sana.


"Al kenapa kau meninggalkan ku... Al tunggu..." teriak Fabian sambil berlarian menyusul langkah kaki Alia yang cukup jauh di depannya.


***

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Pramono


Sejak kepulangannya dari hotel, Shila langsung mengurung dirinya di kamar dan belum keluar hingga saat ini, membuat Shiren yang tak kunjung melihat putrinya lantas menjadi khawatir.


Shiren kemudian lantas memutuskan untuk menyusul putrinya ke kamar. Diketuknya pintu kamar Shila secara perlahan berharap Shila mau membukakan pintu untuknya.


Tok tok tok


"Kita makan dulu yuk... mama sudah masakan makanan kesukaan mu." ucap Shiren mencoba untuk membujuk Shila agar mau keluar dan berbicara dengannya.


Tok tok tok


"Shila keluar yuk... mama mau bicara sebentar..." bujuk Shiren lagi.


Tok tok tok


Tok tok tok


Shiren yang tak kunjung mendengar jawaban dari arah dalam kamar Shila, lantas mulai di buat khawatir hingga ia terus mengetuk pintu Shila tanpa jeda.


Tok tok tok


"Diam!" bentak Shila dari arah dalam kamar disertai dengan bunyi suara benda yang di lempar ke dinding, begitu nyaring terdengar hingga ke luar kamar Shila.


Shiren yang mendengar suara tersebut tentu saja menjadi panik dan khawatir.


"Jangan buat mama takut nak.. keluar yuk kita bicara dengan baik baik..." ucap Shiren mencoba kembali membujuk putrinya untuk keluar.


"Tidak mau ya tidak mau ma! pergi.... jangan ganggu Shila..." teriak Shila dengan nada yang histeris membuat Shila semakin khawatir.


Suasana kamar yang semula tenang mendadak berubah menjadi gaduh ketika Shila membanting satu persatu barang yang ada di kamarnya dengan brutal.


"Aaaaaaaaa kenapa semua jadi begini? Arggggg" teriak Shila dari arah kamar diiringi dengan suara benda pecah di dalam kamar putrinya.


"Shila... Shila buka pintunya... jangan buat mama takut Shila..." ucap Shiren sambil terus mengetuk pintu putrinya.


Hening sesaat...

__ADS_1


"Shila...?" panggil Shiren ketika tidak lagi mendengar suara dari dalam kamar putrinya.


Bersambung


__ADS_2