
Rendra yang baru saja keluar dari ruangan tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya menjauh dari sana dan pergi menuju ke arah pusat informasi untuk melihat persiapan pemberangkatan pesawat pribadinya.
Rendra melirik ke arah kanan dan ke kiri memastikan semuanya aman, sambil terus melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah terminal bandar udara. Hingga langkah kakinya yang sedari tadi terlihat lempeng, mendadak terhenti seketika di saat sebuah tubuh yang tak asing di penglihatannya lantas berdiri menghadangnya.
Rendra yang melihat Valdi tengah mencoba menghentikannya, lantas langsung melangkahkan kakinya mundur hendak kembali kabur namun gagal karena dua orang pria berjas hitam ikut menghentikan langkah kakinya, sehingga membuat Rendra tidak lagi bisa kabur dari sana karena ia tengah terkepung saat ini.
"Sialan!" ucap Rendra ketika tidak lagi bisa bergerak untuk kabur dan pergi dari sana.
Beberapa orang berjas hitam yang mencegah kepergian Rendra agar tidak bisa kabur, lantas langsung meringkus Rendra dan langsung membekuknya dengan seketika.
"Lepaskan aku!" teriak Rendra dengan nada setengah berteriak ketika beberapa pria berjas hitam memegangi tubuhnya dengan erat, membuat beberapa penumpang yang sedang berlalu lalang di sana, lantas langsung menatap ke arah Rendra ketika mendengar teriakan dari Rendra barusan.
"Ayo jalan sekarang!" ucap Valdi kemudian memberikan perintah.
***
Di sebuah ruangan yang masih terletak di bandara, terlihat Fabian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mendekat ke arah di mana Rendra tengah terduduk saat ini sedangkan kedua kaki dan tangannya di tali dengan eratnya.
Fabian terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rendra, kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapan Rendra yang tersenyum dengan sinisnya menatap ke arah Fabian.
"Katakan di mana Alia saat ini?" ucap Fabian pada akhirnya.
Sebenarnya hingga saat ini Fabian bahkan masih belum bisa percaya bahwa Rendra adalah orang yang menculik Alia dan membawanya pergi dari sisinya, padahal ketika pertemuannya dengan Rendra pertama kali di Rumah Sakit sejak beberapa tahun lamanya, sama sekali tidak membuat Fabian menaruh rasa curiga kepada Rendra.
__ADS_1
Hingga ketika Fabian mengetahui fakta bahwa dalang di balik hilangnya Alia adalah Rendra, tentu saja membuat Fabian terkejut bukan main sekaligus masih tidak percaya bahwa Rendra lah yang melakukannya.
"Ku katakan pun kau tidak akan tahu karena aku tidak akan membiarkan Alia kembali kepadamu!" ucap Rendra dengan tatapan yang tajam ke arah Fabian.
"Kau!" pekik Fabian yang mulai tersulut emosi karena Rendra sama sekali tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya barusan.
Melihat Fabian yang seakan menahan amarahnya, lantas membuat Rendra tertawa dengan senang karena berhasil mengerjai Fabian kali ini.
"Apa kau tahu Bi? dari dulu hingga sekarang kau selalu saja merebut sesuatu yang aku suka dan bodohnya aku selalu saja mengalah padamu, apakah kau pernah memikirkannya sedikit saja? tentu tidak bukan?" ucap Rendra dengan tersenyum garing seakan tengah mengejek keadaannya sendiri.
Fabian yang mendengar kata kata dari Rendra barusan, lantas hanya terdiam dan menyimak tanpa menanggapi ataupun menyanggah ucapan dari Rendra barusan.
"Aku benar benar kesal padamu karena selalu saja mendapatkan semuanya, sedangkan aku? sejak dulu hingga sekarang selalu saja aku yang mengalah dengan mu, tidak hanya soal pelajaran, jabatan ketua BEM di kampus, Shila dan segala hal, semuanya selalu saja berada di pihak mu, lalu akau? aku hanya menjadi bayangan mu sejak dulu dan selalu menjadi yang kedua! apa kau pikir menjadi yang kedua itu sangat menyenangkan? tentu saja tidak!" ucap Rendra kemudian dengan nada yang berteriak kencang sekan tengah melampiaskan kekesalan hatinya yang selalu saja ia tahan hingga saat ini.
"Kau salah! aku sama sekali tidak pernah merasa merebutnya darimu, semua itu sudah ada porsi dan jatahnya, jika kamu menyalahkan ku atas segalanya kamu tentu saja salah besar Ren." ucap Fabian dengan nada yang datar membuat Rendra semakin di buat kesal ketika mendengar ucapan dari Elbara barusan.
Sedangkan Fabian yang sudah terlanjur kesal, lantas langsung mencengkram dengan erat kerah kemeja Rendra bagian depan, membuat tubuh Rendra lantas langsung tertarik mengikuti arah cengkraman tangan Fabian.
"Katakan padaku sekarang di mana Alia berada saat ini?" ucap Fabian lagi yang lantas malah membuat Rendra tersenyum ketika mendengarnya kembali.
Di saat Fabian mulai terpancing emosi ketika mendengar setiap kata kata yang keluar dari mulut Rendra, sosok Valdi nampak melangkahkan kakinya dengan langkah yang bergegas mendekat ke arah Fabian untuk membisikkannya sesuatu.
Fabian yang mendengar bisikan tersebut, tentu saja langsung tersenyum dan dengan spontan melepas cengkeraman tangannya pada kerah baju milik Rendra.
__ADS_1
"Apa kau yakin dia ada di sana?" tanya Fabian kemudian ketika mendengar bisikkan dari Valdi barusan.
"Tentu saja bos" ucap Valdi dengan nada bicara yang yakin ketika menjawab pertanyaan dari Fabian barusan.
Fabian yang sudah mulai lega, lantas langsung melangkahkan kakinya hendak pergi dari sini menuju ke tempat yang di bicarakan oleh Valdi barusan, hanya saja baru beberapa kali melangkah sebuah perkataan yang keluar dari mulut Rendra, lantas langsung menghentikan langkah kaki Fabian yang hendak berlalu pergi.
"Kau kira akan semudah itu menemukan Alia? tentu saja tidak! jika Alia tidak bisa menjadi milik ku maka tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya." ucap Rendra.
"Cuih jangan berharap!" ucap Fabian dengan lirih kemudian berlalu pergi meninggalkan Rendra di ruangan tersebut.
***
Sementara itu di sebuah ruangan staf tempat di mana Alia kini tengah di sekap.
Alia yang benar benar takut akan ancaman dari Rendra yang akan meledakkan tempat ini beserta dirinya, membuat Alia tidak punya pilihan lagi selain duduk dengan tenang dan menanti kedatangan Rendra kembali untuk menjemputnya dari sini.
Bruk
Suara pintu yang di buka dengan kasar membuat Alia yang sedari tadi hanya diam termenung, lantas langsung terkejut ketika mendengar suara pintu tersebut.
"Al!" pekik sebuah suara yang lantas membuat Alia kembali terkejut ketika mendengarnya.
Alia yang melihat Fabian datang dengan langkah kaki yang bergegas, lantas langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat seakan menyuruh kepada Fabian untuk tidak datang mendekat ke arahnya. Namun Fabian yang melihat gelengan tersebut seakan acuh dan tetap datang kemudian membuka lakban yang menutup rapat mulut Alia, membuat Alia langsung meringis seketika di saat Fabian membuka lakban tersebut dari mulutnya.
__ADS_1
"Pergi dari sini Bi! jangan mendekat!" teriak Alia yang lantas membuat Fabian terkejut ketika mendengarnya.
Bersambung