
Sembari menunggu Rendra mengambil minuman, Alia mulai melangkahkan kakinya berkeliling melihat beberapa lukisan yang terpajang di Galeri Seni milik Rendra.
Alia yang sempat beberapa kali melangkahkan kakinya, lantas tertarik pada sebuah papan kayu yang bertuliskan judul "my heart", membuat Alia lantas penasaran akan lukisan apa saja yang terdapat dalam judul tersebut.
Alia yang semula menikmati satu persatu karya lukisan dari Rendra, lantas sedikit di buat terkejut akan begitu banyak lukisan yang tidak asing dengannya.
"Jangan bercanda Al, aku dan Rendra bahkan baru beberapa kali bertemu, tidak mungkin secara tiba tiba aku menjadi model lukisannya dan tanpa seijin ku, sepertinya aku hanya berhalusinasi saja." ucap Alia dalam hati sambil meraba area lengannya karena perasaan merinding yang tiba tiba ia rasakan ketika melihat lukisan tersebut.
Akila yang tidak ingin semakin di buat over thinking, lantas meneruskan langkah kakinya berharap lukisan Rendra kali ini akan menyelamatkan pikirannya dari hal hal buruk yang kini mulai memenuhi kepalanya. Hanya saja bukannya sebuah ketenangan yang Alia dapatkan, di saat ia berpindah tempat dan melihat ke sebelah, sebuah lukisan yang menampilkan bangunan toko bunga dengan seorang gadis tengah berdiri di depan toko bunga tersebut dengan senyum yang mengembang, lantas membuat Alia semakin di buat takut akan fakta yang mungkin saja adalah sebuah kebenarannya.
"Lukisan itu?" ucap Alia dengan suara lirih sambil memutar ingatannya tentang hari itu.
Sebuah bayangan tentang apa yang ia lakukan beberapa hari belakangan ini mendadak terlintas begitu saja di benaknya, membuat Alia terkejut bukan main ketika ia kembali menatap satu persatu lukisan berjudul my heart dan menemukan satu kesamaan dengan dirinya.
"Aku pasti sudah benar benar gila... hahaha... aku benar benar gila sepertinya..." ucap Alia pada diri sendiri dengan nada yang lirih sambil melangkahkan kakinya mundur secara perlahan.
"Apa ada sesuatu Al?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alia terkejut dan menabrak tiang pembatas jarak antara lukisan dan juga penikmat lukisan.
Prang....
"Ma... maaf aku tidak sengaja menyenggolnya..." ucap Alia sambil berjongkok dan membenarkan tiang pembatas tersebut.
"Santai saja Al, sini biar aku bantu." ucap Rendra sambil melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah Alia.
__ADS_1
"Tidak perlu!" pekik Alia dengan tiba tiba, membuat Rendra lantas terkejut ketika mendengarnya.
"Ada apa Al?" tanya Rendra dengan tatapan yang bingung.
"Bukan begitu Ren, aku hanya... hanya bisa melakukannya sendiri, jadi kamu tidak perlu repot repot." ucap Alia sambil tertawa garing yang semakin membuat terlihat dengan jelas bahwa Alia kini tengah gugup, seperti ada sesuatu yang ia ketahui dan Alia tutupi saat ini.
Alia kemudian dengan gerakan yang cepat membenarkan tiang pembatas dan mengembalikannya ke posisi semula, sedangkan yang di lakukan Rendra hanya diam dan menatap tingkah aneh Alia saat ini, yang terlihat sangat jelas di mata Rendra.
"Sepertinya sudah sore, kak Allea pasti akan mencari ku... terima kasih banyak atas hari ini, aku... aku permisi dulu." ucap Alia hendak berlalu pergi.
"Biar aku mengantar mu pulang." tawar Rendra kemudian yang lantas membuat Alia langsung berbalik badan dengan seketika.
"Tidak perlu repot repot, aku bisa pulang sendiri..." ucap Alia kemudian dengan senyum yang di paksakan dan langsung melangkahkan kakinya kembali.
"Kau sudah mengetahuinya bukan Al?" ucap Rendra kemudian yang lantas membuat Alia langsung menghentikan langkah kakinya dengan spontan.
Alia menolehkan kepalanya secara perlahan dengan gerakan yang kaku.
"Mengetahui tentang apa ya Ren? aku tidak mengerti ucapan mu." ucap Alia dengan nada yang aneh, membuat Rendra lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alia, namun Alia langsung mundur secara perlahan membuat Rendra lagi lagi tersenyum ketika melihat gerakan Alia.
"Semua yang kamu pikirkan itu adalah kebenarannya? kamu bisa menanyakan segalanya Al.. aku akan menjawabnya." ucap Rendra kemudian yang lantas membuat Alia terkejut bukan main ketika mendengar ucapan itu lolos dari mulut Rendra barusan.
"Aku... aku..."
__ADS_1
***
Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai oleh Ardan dan juga Fabian.
Keduanya bahkan sudah melajukan mobilnya hampir memutari ibu kota untuk mencari keberadaan Alia, namun sayangnya Alia tidak kunjung di temukan di mana pun walau di tempat tempat favorit Alia sekalipun.
Fabian yang bingung serta khawatir akan keadaan dari Alia, terlihat memijat pelipisnya secara berulang kali sambil memikirkan keberadaan Alia saat ini.
"Sebaiknya kita istirahat saja dulu Bi, nanti kita baru..." ucap Ardan yang melihat raut wajah pucat milik adiknya itu, namun langsung di potong oleh Fabian yang tidak setuju akan opsi dari Ardan barusan.
"Gak bisa gitu dong kak, apapun yang terjadi kita harus temukan Alia terlebih dahulu baru kita istirahat." ucap Fabian dengan nada yang kekeh, membuat Ardan langsung menghentikan laju mobilnya begitu saja, kemudian menatap ke arah Fabian dengan tatapan yang tajam.
"Kau itu kenapa Bi? jika kau ingin menemukan Alia... gunakan kepala yang dingin bukan seperti ini, kemana sifat kalem dan juga kepala dingin seorang Fabian dalam mengatasi sebuah masalah? mengapa kau berubah seperti ini Bi? tidak sabaran dan suka sekali emosi!" ucap Ardan dengan tatapan yang tajam membuat Fabian tentu saja langsung diam sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Sekarang bukan saatnya untuk berdebat kak, tinggal lanjut aja apa susahnya sih?" ucap Fabian dengan nada yang kesal.
"Kau itu selalu saja keras kepala, tidak dulu bahkan juga sekarang! itu lah sebabnya kecelakaan lima tahun lalu terjadi dan menewaskan kedua orang tua Alia dan juga Allea!" ucap Ardan dengan nada yang kesal, hingga tanpa sadar malah mengucapkan kata kata yang menyakitkan dan memancing emosi Fabian saat itu.
"Jadi kakak menyalahkan ku? bukankah kecelakaan itu karena kakak yang terus saja mengatakan bahwa aku hanya pura pura tidak menginginkan perusahaan karena papa yang terus saja menyebut nama ku, bukankah kakak yang menyetirnya? lalu di mana letak kesalahan ku? aku bahkan tidak pernah mengatakan bahwa aku menginginkannya tapi kak Ardan selalu saja memojokkan ku!" pekik Fabian pada akhirnya yang ikut terbawa emosi akan ucapan dari Ardan barusan.
"Jelas kau yang salah, jika saja kau menjadi anak yang biasa biasa saja pasti papa tidak akan terus membanding bandingkan aku dengan dirimu!" ucap Ardan tidak mau kalah, membuat Fabian langsung melotot tidak percaya ketika mendengar ucapan dari Ardan barusan.
"Jika papa membelaku sekali saja lalu kenapa kak? aku bahkan tidak pernah protes jika mama lebih memanjakan mu, aku tidak pernah protes jika mama memperlakukan ku secara berbeda dengan mu, aku bahkan juga memilih pergi dari rumah karena mama meminta ku untuk mengalah dengan mu dan menerima tuduhan bahwa akulah yang menyetir malam itu, dan kau masih saja menyalahkan ku? apa pemikiran mu sejak dulu selalu seperti ini pada ku kak?" teriak Fabian kemudian yang lantas membuat Ardan tidak lagi bisa berkata kata ketika mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung