
"Tentu saja ada, kau kira aku tidak tahu bahwa kau tengah berusaha memanfaatkan ku saat ini? aku diam bukan berarti aku tidak mengetahui segalanya?" ucap Rendra sambil menunjuk ke arah kepalanya secara berulang kali setelah itu melenggang pergi dari hadapan Shila begitu saja dengan langkah kaki yang lebar.
Shila yang mendengar ucapan Rendra barusan, tentu saja terkejut karena tidak menyangka Rendra mengetahui niatannya yang memanfaatkan Rendra untuk mendapatkan Fabian kembali dengan mengiming imingi Alia sebagai imbalannya.
Shila yang tidak terima akan ucapan dari Rendra barusan, lantas langsung melangkahkan kakinya berusaha untuk mengejar Rendra dan menarik tangan Rendra, hingga membuat Rendra menghentikan langkah kakinya.
"Apa maksud dari ucapan mu barusan?" ucap Shila sambil berusaha mengejar langkah kaki Rendra.
Rendra yang mendengar pertanyaan dari Shila lantas tersenyum dengan sinis menatap ke arah Shila.
"Bukankah ucapan ku tadi cukup jelas? aku rasa kamu tidaklah sebodoh itu hingga tidak mengerti maksud dari perkataan ku barusan." ucap Rendra dengan nada yang menyindir membuat Shila langsung terdiam seketika.
Shila yang mendengar hal tersebut pada akhirnya mau tidak mau harus mengaku karena ucapan Rendra terus saja menyudutkannya sedari tadi.
"Baiklah baiklah... aku akan mengakuinya. Aku memang sedang memanfaatkan mu, hanya saja bukankah kita sama sama di untungkan? aku menginginkan Fabian dan kau menginginkan Alia, bukankah keduanya adalah dua hal yang sama?" ucap Shila sama sekali tidak merasa bersalah akan maksud lain dari keberadaannya di sini.
"Kau gila, aku memang menginginkan Alia tapi tidak merenggut kebahagiannya... jalan mu dan jalan ku itu adalah dua hal yang berbeda!" ucap Rendra dengan nada yang tegas.
"Oh ya? persetan dengan perbedaan itu! yang jelas kita sama sama mempunyai satu tujuan, jadi jika aku memanfaatkan mu untuk mendapatkan Fabian... bukankah kita akan impas dan saling mendapat keuntungan?" teriak Shila lagi dengan kekeh bahwa tujuannya bukanlah sebuah kesalahan.
"Kau benar benar sudah tidak waras... lebih baik kau kemasi barang barang mu dan pergi dari tempat ku secepatnya." ucap Rendra kemudian sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Shila begitu saja.
"Jika kau tidak menyetujui opsi ku, maka aku akan melakukannya dengan cara lain. Jangan salahkan aku jika suatu hal buruk terjadi pada Alia ketika aku berusaha menggapai Fabian." ucap Shila dengan penekanan di setiap kata katanya.
Mendengar ucapan Shila barusan, membuat langkah kaki Rendra lantas terhenti seketika. Ancaman Shila tidaklah pernah main main, Rendra tahu betul bagaimana karakter dari seorang Shila.
Pada akhirnya dengan raut wajah yang kesal bercampur frustasi, Rendra kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Shila berada.
"Ok fine... aku ikuti rencana mu asalkan jangan kau sentuh Alia, kita pakai cara kita masing masing karena aku sama sekali tidak pernah percaya akan taktik bulus mu itu." ucap Rendra pada akhirnya dengan nada yang kesal, namun malah membuat seulas senyum merekah di wajah Shila saat ini.
__ADS_1
"Setuju" ucap Shila dengan raut wajah yang berbinar membuat Rendra hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar jawaban dari Shila.
****
Malam harinya di kediaman Pramono
Setya yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, lantas langsung melipir ke arah dapur begitu melihat Shiren tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam.
"Ma..." panggil Setya yang lantas membuat Shiren langsung menghentikan gerakannya begitu mendengar panggilan dari putranya tersebut.
"Kamu baru pulang Set?" tanya Shiren ketika melihat pakaian rapi putranya yang masih sama dengan yang ia kenakan pagi hari tadi.
"Iya ma, aku benar benar bingung harus mencari keberadaan Shila di mana lagi. Aku bahkan sudah hampir mengelilingi ibu kota namun Shila tidak kunjung di temukan juga." ucap Setya dengan raut wajah yang frustasi.
"Hentikan saja pencarian mu itu Set karena itu akan berakhir dengan sia sia." ucap Shiren yang lantas membuat Setya langsung mendongak menatap ke arahnya karena tidak mengerti akan ucapan dari Shiren barusan.
"Sepertinya papa sudah menemukan keberadaan Shila, hanya saja papa tidak mau memberitahukannya kepada kita berdua." ucap Shiren mengutarakan kecurigaannya kepada suaminya sendiri.
"Bagaimana bisa papa melakukan itu pada kita ma? sedangkan aku bahkan sepanjang hari tanpa henti berusaha mencari keberadaan adik ku. Bukankah papa sangat keterlaluan ma?" ucap Setya dengan raut wajah yang kesal.
"Mungkin ini ada hubungannya dengan rencana mu yang menginginkan Shila untuk di bawa ke psikiater." ucap Shiren sambil mengingat ingat kembali alasan apa yang mendasari tindakan suaminya tersebut.
"Itu kan masih bisa di bicarakan secara baik baik, jika papa mengambil keputusan secara sepihak itu namanya tidak adil ma..." ucap Setya lagi seakan masih tidak terima dengan keputusan Pramono yang menutup dengan rapat keberadaan putrinya.
"Mama akan berusaha untuk membujuk papa mu, untuk sementara ini kamu hentikan saja dulu pencarian mu itu." ucap Shiren kemudian mencoba menjadi penengah dalam masalah keluarganya ini.
****
Apartment Fabian
__ADS_1
Alia menata satu persatu hidangan masakan yang baru saja selesai ia masak untuk makan malam. Sejak sore tadi Fabian sama sekali belum keluar dari kamar, membuat Alia merasa sedikit khawatir akan keadaan Fabian yang sedari tadi berada di kamar.
"Apakah dia sakit?" tanya Alia pada diri sendiri sambil melihat ke arah pintu kamar Fabian.
Dengan langkah yang ragu ragu, Alia lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu kamar Fabian untuk mengecek keadaannya.
Tok tok tok
"Bi... kita makan malam yuk..." ucap Alia dengan nada yang lirih sambil mengetuk kembali pintu kamar Fabian.
Tok tok tok
"Bi... apa kamu sudah tidur?" tanya Alia lagi karena tidak mendapat jawaban apapun dari Fabian.
Hingga tidak berapa lama suara pintu terbuka mulai terdengar di pendengaran Alia, membuat Alia lantas mundur beberapa langkah dari posisinya.
"Bi aku sudah masak kita makan bersama yuk sekarang..." ajak Alia dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aku tidak lapar Al..." ucap Fabian dengan nada yang lirih, membuat Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan lantas langsung mencebikkan mulutnya seakan kecewa akan jawaban dari Fabian.
"Yah.. aku sudah masak banyak, sayang banget kan kalau gak di makam.. kita makan sama sama yuk, sedikit aja gak papa deh yang penting kamu makan." bujuk Alia lagi berharap Fabian mau makan bersama dengannya.
Fabian yang mendengar ajakan itu kembali lantas merasa tidak enak kepada Alia. Namun bayangan tentang foto yang berisi plat mobil miliknya kembali menjadi momok tersendiri bagi Fabian, sehingga membuatnya kembali berwajah masam dengan perasaan bersalah yang memenuhi hatinya ketika melihat wajah Alia.
"Boleh ku tanya sesuatu Al?" ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Alia langsung menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Fabian.
"Katakan ada apa Bi?" tanya Alia dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung
__ADS_1