
Shila yang berhasil kabur dari ruang perawatannya, lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dengan tenang agar tidak ada yang curiga bahwa dirinya hendak kabur dari Rumah sakit.
"Jangan lupa untuk mengecek pasien di kamar melati ya sus dan laporkan perkembangannya kepada saya." ucap Lita yang terlihat melangkahkan kakinya melewati lorong Rumah Sakit.
Shila yang melihat kedatangan Lita, lantas langsung menengok ke arah kanan dan kiri mencoba mencari tempat untuk persembunyian agar Lita tidak melihatnya.
"Kenapa harus sekarang sih?" ucap Shila dalam hati sambil berdecak kesal ketika melihat kehadiran Lita dari arah yang berlawanan dengannya.
Shila yang tidak tahu harus bersembunyi di mana lagi, lantas langsung berlarian menuju bangku taman dan memposisikan dirinya duduk di sana sambil memunggungi lorong.
Tak tak tak...
Lita melewati bangku taman Rumah Sakit dengan langkah yang lebar, ada sedikit perasaan aneh yang menyelimuti dirinya karena ia seperti melihat bayangan Shila namun secara sekilas, hanya saja ketika ia menoleh ke arah belakang tidak ada Shila di sana. Hanya seorang pasien yang duduk sambil menikmati suasana taman.
"Apa aku salah lihat tadi? lagipula tidak mungkin juga Shila keluar dari kamarnya." ucap Lita dalam hati sambil sesekali menoleh ke arah belakang mencoba memastikan sesuatu.
"Apakah ada sesuatu dok?" tanya seorang suster yang sedari tadi berjalan bersama dengan Lita di sana.
"Tidak ada, ayo kita lanjut saja..." ucap Lita kemudian keduanya melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruang perawatan pasien.
***
Ruang perawatan Alia
"Ayo Al makan sedikit saja.. aaa..." ucap Allea dengan memperagakan mulutnya terbuka dengan lebar.
"Sudah kak, aku sudah kenyang... nanti lagi saja kak.." tolak Alia secara halus.
Fabian dan juga Ardan yabg baru saja kembali dari kantin, lantas langsung mendekat ke arah ranjang Alia ketika melihat Alia hanya memakan beberapa suap saja.
"Biar aku saja kak." ucap Fabian meminta bubur tersebut dari tangan Allea.
Allea yang mendengar permintaan tersebut, lantas langsung memberikannya tanpa protes kepada Fabian.
"Kamu yakin bisa menjaga Alia seorang diri Bi?" tanya Ardan kemudian.
"Tentu saja kakak tidak perlu khawatir." ucap Fabian menenangkan.
"Baiklah, kakak pergi dulu... mungkin nanti malam kakak baru bisa ke sini, kalian berdua tidak apa kan ditinggal?" ucap Ardan lagi.
__ADS_1
"Iya kak tenang saja" ucap Fabian dengan tersenyum lebar.
Sedangkan Alia yang mendengar ucapan dari Ardan barusan, lantas langsung tersenyum dengan kecut. Jika Ardan dan Allea pergi tentu saja itu artinya ia akan berduaan dengan Fabian sampai nanti Ardan kembali.
Membayangkannya saja sudah membuat kecanggungan di otaknya, apalagi kenyataannya?
"Baiklah kami pergi dulu..." ucap Ardan berpamitan kemudian berlalu pergi bersama dengan Allea meninggalkan Fabian dan juga Alia di sana.
"Sekarang kita lanjutkan makannya, buka mulut mu..." ucap Fabian setelah kepergian Ardan dan juga Allea dari sana.
"Tidak mau, rasanya tidak enak Bi bahkan sangat pahit... tidakkah kamu kasihan padaku?" ucap Alia dengan nada yang memelas, membuat Fabian lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Fabian kemudian dengan nada yang lembut.
Alia yang tadinya cemberut, lantas langsung tersenyum ketika mendengar ucapan dari Fabian barusan.
"Benarkah kamu akan mengabulkannya?" tanya Alia dengan tatapan yang menelisik.
"Tentu saja, asal tidak yang aneh aneh dan makanan pedas." ucap Fabian yang lantas membuat Alia langsung cemberut ketika mendengarnya.
"Baiklah... aku mau makan gado gado." ucap Alia pada akhirnya sambil mencebikkan mulutnya sedikit tidak terima akan ucapan dari Fabian karena tadi di otaknya berpikir hendak memakan gado gado dengan ekstra pedas, namun setelah mendengar ucapan Fabian barusan lantas membuat Alia menjadi badmood.
"Ayolah Bi, ini tidak ada hubungannya dengan sakit ku kali ini... setidaknya berikan aku kelonggaran." ucap Alia dengan nada yang mengiba.
"Memang tidak ada hubungannya, tapi itu akan menyakiti lambung mu... tidak boleh." ucap Fabian lagi.
"Jadi benar benar tidak boleh?" tanya Alia lagi mencoba memastikan ucapan Fabian barusan.
"Tentu saja." ucap Fabian dengan nada yang yakin, hingga sebuah suara ketukan pintu lantas langsung memutus pembicaraan keduanya.
"Aku akan keluar sebentar.." ucap Fabian kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Alia.
**
Di luar ruang perawatan Alia.
"Sudah ku bilang bukan? agar kak Setya tidak lagi kemari..." ucap Fabian dengan nada yang ketus ketika melihat Setya lah yang mengetuk pintu barusan.
"Bukan begitu Bi, hanya saja kakak ingin bertanya apakah Shila sempat kemari barusan?" tanya Setya dengan nada yang khawatir, membuat Fabian lantas terkejut ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Apa maksud kakak?" tanya Fabian dengan nada yang penasaran.
"Shila kabur dari ruang perawatannya, kami sedang mencarinya saat ini." ucap Setya dengan nada yang panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi kak?" tanya Fabian kemudian.
"Ku rasa Shila mendengar percakapan ku dan mama ketika membahas tentang psikiater, hingga ketika kami berdua lengah Shila lantas pergi kabur dari ruang perawatannya." ucap Setya mencoba mengingat ingat apa yang terjadi.
"Jika begitu, sebaiknya kita cari Shila sekarang kak, aku yakin dia pasti belum jauh dari sini." ucap Fabian sambil menarik tangan Setya.
Setya yang di tarik tangannya, lantas langsung berusaha menghentikan Fabian agar tidak pergi mencari Shila.
"Sebaiknya jangan Bi, kamu cukup menjaga Alia saja di sini. Aku takut dia akan kembali menyakiti Alia nantinya." ucap Setya kemudian.
Fabian yang mendengar hal tersebut lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang.
"Baiklah kak kabari aku jika ada apa apa." ucap Fabian kemudian yang lantas di balas Setya dengan anggukan kepala.
****
Kembali kepada Shila
Setelah kepergian Lita dari sana, Shila langsung kembali menengok ke kanan dan ke kiri memastikan situasi sekitar. Saat di rasa aman dan tidak ada lagi yang mengenalinya, Shila lantas kembali melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit.
Shila terus melangkahkan kakinya menuju ke arah jalan raya, berusaha untuk mencari kendaraan yang bisa ia tumpangi untuk pergi ke suatu tempat, setidaknya untuk menjauh dari Setya yang bersikukuh untuk membawanya pergi ke psikiater.
"Aku harus pergi sejauh mungkin dari kak Setya... aku harus pergi..." ucap Shila sambil terus melangkahkan kakinya ke arah bahu jalan.
Hingga kemudian langkahnya lantas terhenti, ketika tiba tiba sebuah mobil berwarna hitam metalik hampir saja menabraknya.
Ckit...
Suara decitan rem mobil tersebut terdengar begitu memekakkan telinganya, hingga membuat Shila lantas langsung menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Shila?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Shila mendongak menatap ke arah sumber suara barusan.
"Kau!"
Bersambung
__ADS_1