
"Bukankah nomor plat tersebut.... nomer plat mobil milik ku beberapa tahun yang lalu? ba... bagaimana bisa ada pada Alia?" ucap Fabian dalam hati ketika melihat foto nomor plat mobil di rak dekat meja kasir.
Bayangan tentang kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terlintas di benak Fabian, trauma itu kembali menghampirinya setelah beberapa bulan belakangan ini sembuh karena kedekatannya dengan Alia.
Bersama dengan Alia membuat Fabian merasa seperti tengah menebus kesalahan yang telah ia perbuat walau tidak akan terhapus sepenuhnya.
Fabian terdiam seketika, keringat dingin kini bahkan sudah mulai membasahi dahinya ketika kenangan buruk itu kembali menyapanya setelah sekian lama hampir pulih dan kembali seperti semula.
"Bi..." panggil Alia tiba tiba yang lantas membuat Fabian terkejut ketika mendengar panggilan dari Alia.
Fabian menatap ke arah Alia dengan pandangan yang terkejut disertai keringat dingin yang mengalir membasahi dahi dan juga area lehernya, membuat Alia yang melihat hal tersebut lantas menatap dengan tatapan yang bingung ke arah Fabian.
"Ada apa dengan mu Bi? apa kau sedang tidak enak badan?" tanya Alia yang melihat wajah pucat Fabian saat ini.
Fabian yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa menggeleng sambil mulai mengatur nafasnya, mencoba untuk menenangkan perasaannya yang tengah kacau saat ini.
"Sebaiknya kita bergegas pulang saja, aku sedang tidak enak badan saat ini." ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia.
"Kita sebaiknya naik taksi saja, mobil mu biar di parkir di sini saja." ucap Alia memberikan saran.
"Tidak perlu Al aku masih bisa menyetir..." ucap Fabian namun tercekat tidak bisa di teruskan lagi ketika bayangan tentang kecelakaan kala itu kembali terlintas di benaknya, membuat kepala Fabian mendadak berdenyut dengan pandangannya yang sedikit buram.
"Bi... sepertinya kita memang harus pulang naik taksi saja. Jangan protes dan ikuti saja, mengerti?" ucap Alia kemudian sambil menuntun Fabian keluar dari tokonya secara perlahan.
Pada akhirnya Alia dan juga Fabian memilih untuk pulang mengendarai taksi, Alia memang tidak mengijinkan Fabian untuk menyetir karena melihat kondisi Fabian yang tidak memungkinkan untuk menyetir.
Sepanjang perjalanan yang di lakukan keduanya hanya saling diam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, membuat suasana semakin canggung dan agak terasa sedikit aneh.
__ADS_1
Hingga beberapa menit berkendara, taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di Apartment Fabian. Alia dan Fabian kemudian melangkahkan kakinya turun dan langsung masuk ke lobi masih dengan suasana yang canggung dan saling diam.
"Apa aku telah berbuat salah? sepertinya tidak ada?" ucap Alia dalam hati sambil terus membuntuti langkah kaki Fabian yang menuju ke arah Apartemennya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka yang mulai terdengar di pendengaran Alia, lantas membuatnya tidak tahan lagi akan suasana canggung yang terus terusan terjadi di antara keduanya padahal jelas jelas sebelumnya masih baik baik saja.
"Bi kamu...." ucap Alia hendak bertanya namun keburu di potong oleh Fabian yang tahu Alia pasti akan bertanya tentang tingkah anehnya saat ini.
"Aku akan pergi istirahat terlebih dahulu..." ucap Fabian yang lantas membuat Alia langsung menatap ke arahnya.
"Apa kamu sakit Bi? haruskah aku memanggil dokter?" tanya Alia ketika mendengar nada lesu dari Fabian.
"Tidak perlu khawatir, aku hanya lelah saja." ucap Fabian kemudian berlalu pergi meninggalkan Alia seorang diri yang masih dengan senantiasa menatap kepergiannya hingga punggung Fabian tidak lagi terlihat pada pandangannya.
****
Galeri seni Rendra
Sore itu seperti biasa lagi lagi Rendra terlihat tengah sibuk menyelesaikan lukisannya. Membuat Shila yang kembali melihat rutinitas dari Rendra tersebut menjadi bosan karena obyek yang di lukis oleh Rendra kebanyakan adalah Alia.
"Alia Alia dan Alia... bosen aku lihatnya.." gerutu Shila dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Rendra tengah berada saat ini.
Shila yang melihat Rendra terus sibuk membuat coretan di kanvas lantas mulai terpikirkan satu ide.
"Apa kau tidak bosan terus terusan duduk dan membuat obyek yang sama yaitu Alia?" tanya Shila dengan raut wajah yang penasaran, membuat Rendra yang mendengarnya lantas langsung menoleh sekilas ke arah Shila kemudian kembali fokus menatap ke arah lukisannya.
__ADS_1
"Itu tidak ada hubungannya dengan mu, lebih baik kau pergi saja sana dan jangan mengganggu ku!" ucap Rendra dengan nada yang kesal karena Shila telah memecah konsentrasinya saat ini.
"Yee gitu aja marah, aku kan cuma tanya gak mau jawab juga gak papa kali." ucap Shila dengan nada yang kesal karena jawaban ketus dari Rendra barusan.
"Sudah sana pergi!" sentak Rendra yang lantas membuat Shila langsung melengos kesal ketika mendengarnya.
"Dari pada terus membuat lukisannya tanpa di ketahui orangnya, apa enggak lebih baik kamu maju dan mendekati orangnya secara langsung?" ucap Shila kemudian yang lantas membuat Rendra menghentikan gerakan tangannya.
Rendra yang mulai terpancing akan perkataan dari Shila barusan, lantas menaruh kuas di atas palet kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Shila.
Shila yang melihat Rendra bangkit tentu saja langsung terkejut.
"Jangan pernah memancing ku Shila, kau tahu sendiri bukan? apa yang akan kau dapatkan jika melakukan hal tersebut?" ucap Rendra sambil melangkahkan kakinya terus mendekat ke arah Shila dan menyudutkannya di tembok.
Shila yang melihat Rendra terus maju lantas berusaha untuk menghindar dan mengambil gerakan mundur, hingga pada akhirnya saat ia tidak lagi mendapat tempat untuk mundur tubuhnya kini benar benar tersudut dan terkunci dengan tubuh Rendra dengan jarak yang cukup dekat.
"Apa yang kau lakukan ha?" ucap Shila yang tidak lagi bisa berkutik karena ia sudah tersudut saat ini.
Rendra yang melihat wajah kebingungan dari Shila, lantas tersenyum dengan sinis sambil terus menatap ke arah Shila.
"Kau terus saja membicarakan ini dan itu, tapi kau sendiri bahkan tidak bisa bertindak apapun dan hanya melihat Fabian lepas dari genggaman tangan mu, bukankah kau lebih bodoh dari ku nona Shila?" ucap Rendra dengan nada yang menyindir membuat Shila lantas terkejut ketika mendengar penuturan tersebut keluar dari mulut Rendra.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Fabian, jadi kau tidak ada hak untuk menyudutkan ku seperti ini!" ucap Shila sambil berusaha meronta dan sedikit mendorong tubuh Rendra agar menjauh darinya, namun tidak semudah itu karena postur tubuh Rendra yang lebih besar darinya, membuat semua usaha Shila hanyalah sia sia saja.
"Tentu saja ada, kau kira aku tidak tahu bahwa kau tengah berusaha memanfaatkan ku saat ini? aku diam bukan berarti aku tidak mengetahui segalanya?" ucap Rendra sambil menunjuk kepalanya secara berulang kali setelah itu melenggang pergi dari hadapan Shila begitu saja.
Bersambung
__ADS_1