Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Alia!


__ADS_3

Sore itu, Alia terlihat tengah bersiap siap hendak menutup tokonya. Alia membereskan segala barang barangnya sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk menunggu kedatangan Fabian untuk menjemputnya.


"Tumben banget Fabian belum datang, apa dia sibuk ya?" ucap Alia dalam hati.


Sambil menunggu kedatangan Fabian untuk menjemputnya, Alia mulai memasang tulisan close di pintu utama dan membereskan beberapa barang barang yang masih berantakan di sana.


Hingga sebuah deringan notifikasi mendadak terdengar pada ponsel miliknya, membuat Alia lantas langsung menghentikan aktifitasnya dan mengecek pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


"Nomor asing?" ucap Alia dengan spontan ketika melihat pesan tersebut berasal dari nomor asing di kontaknya.


Alia yang penasaran akan isi dari pesan tersebut lantas langsung membukanya, sebuah vidio berdurasi sekitar 15 menitan mulai tampak muncul di layar ponselnya, membuat Alia langsung mengerutkan keningnya karena bingung akan maksud dari pesan singkat tersebut.


Alia yang tidak menaruh curiga sama sekali mulai menekan play di layar ponselnya dan memutar vidio tersebut.


Sebuah rekaman kamera pengawas terlihat muncul secara perlahan pada vidio tersebut, tak selang beberapa lama mobil yang tak asing di ingatannya terlihat mulai muncul dan itu adalah mobil kedua orang tuanya tepat sebelum kecelakaan naas itu terjadi.


Ketika mobil orang tuanya berhenti di lampu merah, sebuah mobil berwarna hitam metalik lantas terlihat berjalan dengan oleng dari arah belakang dan langsung menabrak mobil kedua orang tuanya tanpa peringatan sebelumnya.


Tabrakan tidak lagi bisa di hindarkan, keadaan di sana begitu kacau dan tidak lagi terkondisikan. Di saat semua hening dan keadaan mobil yang sudah tidak lagi beraturan. Seseorang terlihat mulai muncul dan bangkit dengan langkah yang tertatih keluar dari mobil. Dia nampak memutari bagian mobil dan mulai merangkak mengeluarkan seseorang lagi dari sana.


Alia terdiam di tempat dengan perasaan yang campur aduk, walau rekaman kamera pengawas tersebut tidak men zoom secara keseluruhan, tapi Alia mengenal dengan betul siapa sosok pria yang keluar dengan langkah tertatih tersebut sebelum akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri.


Klinting klinting...


Sebuah bel pintu masuk mulai terdengar di pendengaran Alia, membuat Alia yang tadinya fokus ke arah rekaman tersebut lantas langsung mendongak dan menatap ke arah pintu masuk.

__ADS_1


"Fabian/Alia" ucap Alia dan juga Fabian hampir secara bersamaan ketika pandangan keduanya bertemu dalam keheningan.


Keduanya nampak terdiam di tempatnya masing masing dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Alia yang tersadar akan kehadiran Fabian lantas langsung membuang mukanya dengan spontan, membuat Fabian langsung terdiam seketika di saat melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Alia barusan.


"Apa hadiah yang dimaksud oleh Pramono sudah di terima oleh Alia?" ucap Fabian dalam hati bertanya tanya ketika melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Alia barusan.


"Apa aku ini mainan bagi mu Bi?" ucap Alia kemudian yang lantas membuat Fabian terkejut seketika.


"Bukan begitu Al... aku hanya..." ucap Fabian bingung hendak menjelaskannya seperti apa.


"Hanya apa? apa aku semudah itu untuk mu Bi? kau bahkan tidak hanya sekali atau dua kali melakukan kesalahan, ini sudah berkali kali... oh tidak! apa jangan jangan aku saja yang bodoh karena terus terusan memaafkan mu walau kamu sudah menyakiti ku berulang kali." ucap Alia dengan nada yang hampir terisak, manik matanya kini bahkan sudah berkaca kaca dan bersiap hendak tumpah.


"Tapi gak gini caranya Bi? walau aku sedikit lega karena terbebas akan siksaan dari kedua orang tuaku, tapi mereka adalah orang tua ku Bi, seseorang yang sudah melahirkan dan juga membesarkan ku walau dengan cara yang berbeda. Tidakkah kamu memikirkan hal itu sekali saja?" teriak Alia menumpahkan segala isi hatinya.


Memang jika di tanya tentang Tiara dan juga David, Alia pasti akan lebih memilih kehidupan yang sekarang karena Alia lebih merasa bebas dan lepas dari penderitaan yang selalu saja ia tanggung, tapi bukan berarti Alia bahagia di atas kematian kedua orang tuanya. Meski Tiara dan juga David selalu saja menyiksanya tapi mereka berdua tetaplah orang tua Alia sampai kapan pun.


"Al aku sungguh tidak bermaksud, aku mohon dengarkan aku dulu Al... berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya." pinta Fabian dengan nada yang memohon kepada Alia.


"Apa lagi yang mau kau jelaskan, sudah cukup dan jangan katakan apapun lagi aku sudah mulai lelah dengan semua tingkah laku mu itu. Sekarang kau sebaiknya keluar dari sini!" ucap Alia kemudian sambil menunjuk pintu masuk agar Fabian pergi dari hadapannya.


"Tapi Al..." ucap Fabian namun langsung di potong oleh Alia.


"Kalau ku bilang keluar ya keluar!" teriak Alia kemudian sambil mendorong tubuh Fabian keluar dari tokonya.

__ADS_1


Fabian berusaha sebisa mungkin menahan gerakan Alia yang terus mendorongnya keluar dari dalam toko, sambil terus berusaha sesekali menjelaskan kepada Alia.


Bruk


Pintu toko di tutup dari dalam dan langsung di kunci oleh Alia, tanpa memperdulikan Fabian lagi Alia langsung masuk ke dalam mematikan lampu dan menuju ke ruang istirahat, tanpa menengok ke arah belakang sama sekali.


Fabian yang melihat keadaan toko sudah gelap gulita hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar sambil mengusap wajahnya dengan kesal.


Fabian benar benar tahu jika dirinya salah, hanya saja selama ini ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menebus kesalahannya walau harus kembali berakhir dengan terluka seperti ini.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini?" ucap Fabian pada diri sendiri mencoba memutar otaknya.


"Kak Ardan!" ucap Fabian kemudian seperti mendapat oase di gurun yang gersang ketika nama Ardan mulai terlintas di benaknya saat ini.


Tanpa pikir panjang lagi, Fabian kemudian lantas mendial nomor Ardan di sana berharap Ardan akan datang dan membantunya. Hanya saja sudah berkali kali Fabian mencoba menelpon, Ardan sama sekali tidak menjawabnya, membuat Fabian mulai merasa gelisah karena kakaknya malah tidak bisa di hubungi di saat saat seperti ini.


"Ayolah kak ku mohon...." ucap Fabian dengan lirih sambil menatap ke arah dalam toko dengan tatapan yang cemas dan juga khawatir akan keadaan Alia di dalam sana.


Cetar....


Suara benda yang jatuh mendadak terdengar dengan nyaring dari arah dalam toko, membuat Fabian lantas langsung terkejut seketika di saat mendengar suara tersebut.


"Alia"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2