Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Aku masih waras


__ADS_3

Di sebuah ruang perawatan, terlihat Alia tengah tertidur dengan wajah yang pucat di ranjang pasien.


Diusapnya dengan perlahan rambut Alia yang masih setengah kering itu dengan pelan dan hati hati. Ada perasaan yang menyesal di dalam diri Fabian ketika melihat Alia saat ini, membuat helaan nafas yang panjang dan kasar terdengar berulang keluar dari mulut Fabian.


"Aku minta maaf Al... harusnya aku tidak meninggalkan mu tadi.." ucap Fabian dengan lirih sambil mengecup punggung tangan Alia dengan tatapan yang sendu.


Sebuah langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah Fabian dan berhenti tepat di belakangnya. Fabian yang tahu betul siapa orang itu hanya terdiam sambil masih fokus menatap ke arah Alia yang kini masih memejamkan matanya.


"Aku harap ini akan membuka mata kakak bahwa Shila sedang butuh perawatan saat ini kak, sebelumnya aku minta maaf kalau mungkin kakak tersinggung akan kata kata ku, tapi jujur aku juga menginginkan Shila sembuh kak." ucap Fabian sambil bangkit dan langsung berbalik badan menatap ke arah Setya.


"Kakak minta maaf Bi, aku sendiri juga tidak menyangka Shila bisa melakukan hal sekejam itu padanya." ucap Setya dengan nada yang sendu.


Cklek...


Suara pintu terbuka membuat Fabian dan juga Setya terdiam seketika dan langsung fokus menatap ke arah pintu masuk.


Ardan dan juga Allea yang baru saja datang dan hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Alia nampak sedikit bingung ketika melihat wajah tegang Fabian dan juga Setya, Ardan yang melihat situasi sedang tidak baik baik saja lantas menuntun Allea untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Alia dan menyuruhnya duduk di sana.


"Jangan membuat keributan di sini Bi..." bisik Ardan tepat di telinga Fabian.


"Aku tahu... mangkanya aku sedang berusaha untuk menahannya agar tidak keluar saat ini." ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Ardan dan juga Setya.


"Sebaiknya kau pergi dulu dari sini Set, suasananya sedang tidak baik saat ini." ucap Ardan kemudian dengan nada yang dingin.


"Ya, kau memang benar akan hal itu... aku pergi dulu... kabari aku jika terjadi sesuatu, sekali lagi aku minta maaf atas kejadian ini." ucap Setya dengan tulus kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang perawatan Alia.


**


Kantin


Setelah kepergian Setya dari ruang perawatan Alia tadi, Ardan lantas langsung mengajak Fabian menuju ke kantin Rumah Sakit. Walau tadinya Fabian sempat menolak ajakan dari Ardan, namun pada akhirnya Fabian mengiyakan ajakan tersebut dan mau tidak mau di giring oleh Ardan menuju ke arah kantin.

__ADS_1


"Bagaimana kata dokter?" tanya Ardan sambil menatap ke arah Fabian yang sedari tadi hanya terlihat lesu sambil terus mengaduk aduk bubur ayam di hadapannya.


Mendapat pertanyaan tersebut, Fabian lantas menghela nafasnya panjang sambil menaruh sendok yang sedari tadi ia mainkan.


"Alia mengalami hipotermia dan gegar otak ringan, beruntung aku dapat membawanya tepat waktu... jika tidak mungkin nyawanya tidak akan bisa tertolong lagi." ucap Fabian dengan nada yang sendu.


"Jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini Bi, semua pasti memang sudah jalannya. Yang terpenting sekarang adalah Alia sudah selamat dari maut." ucap Ardan mencoba menenangkan Fabian.


"Lagi pula jika kau terus terusan seperti ini, apa akan membuat segalanya lebih baik? tentu tidak bukan?" imbuh Ardan lagi.


"Ya, ucapan kakak benar..." ucap Fabian kemudian menyendok bubur ayam tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.


Fabian harus mengisi tenaganya untuk menjaga Alia, jika ia tidak makan saat ini dan sakit, lalu siapa yang akan menjaga Alia?


Sedangkan Ardan yang melihat Fabian seperti itu, lantas seakan merasa iba kepada adiknya. Ardan memanglah membenci Fabian karena sikap ayahnya yang selalu saja membanding bandingkan dirinya dengan Fabian.


Hanya saja ketika Ardan ikut terjun langsung ke luar dari zona nyamannya dan menyelami kejamnya dunia, Ardan mempelajari satu hal bahwa semua tidak akan bisa di gapai dengan cara yang mudah tanpa usaha dan kerja keras.


"Meski aku membenci Fabian, entah mengapa jika melihatnya dalam keadaan seperti ini hati ku merasa seakan sakit dan tidak tega melihatnya menderita." ucap Ardan dalam hati ketika melihat ke arah Fabian.


***


Ruang perawatan Shila


Setya masuk ke dalam ruang perawatan Shila dengan langkah yang bergegas.


"Ma kita harus bicara berdua." ucap Setya kemudian tepat ketika langkahnya terhenti di hadapan Shiren.


"Apa yang terjadi Set? dan bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Shiren dengan nada bicara yang bingung.


"Sebentar saja ma ku mohon..." ucap Setya sambil menarik tangan ibunya untuk beranjak menuju ke ruang peristirahatan.

__ADS_1


Setelah ia dan Shiren masuk ke dalam ruang peristirahatan, Setya langsung menutup pintu pembatas ke dua ruangan tersebut dengan rapat. Membuat Shila lantas langsung dengan spontan menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup dengan rapat itu.


**


Di ruang peristirahatan


"Kita harus segera membawa Shila ke psikiater ma, apa yang dia lakukan sudah membahayakan keselamatan orang lain ma. Ini tidak hanya sekali dua kali ma, aku bahkan kini yakin bahwa kejadian beberapa tahun yang lalu memanglah kesalahan dari Shila hingga membuat Rima meninggal." ucap Setya mencoba meyakinkan ibunya.


"Shila gak gila Set.. apa kamu tidak mengerti juga ucapan mama?" ucap Shiren yang dengan kekeh menolak opsi dari Setya.


"Ma... ke psikiater bukan berarti mereka gila ma, aku merujuk Shila ke sana agar dia mendapat bimbingan dan menyembuhkan mentalnya." ucap Setya tak mau kalah.


"Mama tahu itu, tapi mama tetap tidak menginginkannya." ucap Shiren lagi berusaha untuk membuat Setya mengerti akan keinginannya.


Sedangkan tanpa keduanya sadari, walau pintu ruang peristirahatan di tutup namun sama sekali tidak dapat meredam suara keduanya yang kini tengah berselisih paham.


"Jika mereka membawa ku ke psikiater pasti para dokter itu akan menyuruh ku untuk rehabilitasi, tentu saja jawabannya tidak!" ucap Shila pada diri sendiri sambil bergidik ngeri menutup kedua telinganya.


"Aku masih waras... masih waras!" ucap Shila berulang kali sambil menatap ke arah sekeliling dengan tatapan yang ketakutan.


Shila yang sudah memikirkan yang tidak tidak, lantas langsung bangkit dari ranjangnya dan menarik selang infus di tangannya dengan gerakan yang kasar. Dilemparnya selang infus ke sembarang arah, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangannya begitu saja dengan mengambil langkah seribu.


Klontang...


Suara tiang penyanggah infus yang jatuh, lantas mengejutkan Setya dan juga Shiren yang tengah berada di ruang peristirahatan.


Baik Setya maupun Shiren, langsung keluar dari sana ketika mendengar suara benda jatuh dari ruang perawatan Shila.


"Shila!" pekik Setya dan juga Shiren yang tidak menjumpai Shila di manapun.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2