
Apartment Ardan
Sejak kepulangan Fabian, Alia dan juga Allea dari apartemennya, Ardan terus terusan mondar mandir layaknya setrikaan sambil terus memijat pelipisnya yang saat ini terasa pusing.
"Apakah keputusan yang aku ambil sudah benar?" ucapnya bertanya tanya pada diri sendiri.
Ardan yang bingung lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah lemari kecil dan membukanya secara perlahan, ditatapnya sebuah foto wanita yang sekilas terlihat mirip dengan Allea yang tengah berpose dengan cantiknya di sana. Ardan menghela nafasnya panjang berulang kali sambil terus menatap potret wanita itu tanpa henti.
"Bisakah aku melakukannya Rima? bagaimana jika aku terus terusan melihat bayangan mu ketika bersama dengan Allea? apakah perasaan yang aku rasakan ketika bersama Allea adalah semu? mengingat caraku memandangnya sama dengan ketika aku sedang bersama mu." ucap Ardan terus menerus bertanya sambil terus menatap potret tersebut.
Ardan mengusap rambutnya dengan kasar, entah mengapa? semakin di tanya rasanya perasaan di dalam dirinya semakin bergejolak. Ardan tidak tahu lagi harus bagaimana? Ardan tahu ia salah mendekati Allea karena wajah Allea mirip dengan istrinya yang sudah meninggal. Perasaan rindu yang teramat membelenggu hatinya, sehingga membuat Ardan melakukan hal tersebut tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Jika Ardan tahu akan begini jadinya, ia tentu tidak akan mendekati Allea. Hanya saja, bukankah sudah terlambat jika Ardan menyesalinya saat ini? semua sudah terjadi dan tidak akan mungkin bisa di ulang kembali.
"Aku harus memberitahu mama terlebih dahulu, ya mama harus tahu." ucapnya kemudian sambil melangkahkan kakinya mengambil kunci mobil dan melenggang pergi dari apartemennya.
****
Resto
Setelah membersihkan dirinya dari tumpahan cat tadi, Alia lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sedangkan di pantry terlihat Allea tengah terduduk sambil memainkan gelas yang ada di hadapannya. Alia yanng melihat hal itu lantas berjalan mendekat ke arah Allea kemudian mengambil duduk di sebelahnya.
"Kak, nanti kita kembali ke rumah kita ya? sudah saatnya kita pulang." ucap Alia yang langsung membuat Allea mendongak menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Bu.. bukankah kau suka.. tinggal di sini? mengapa pulang?" ucap Allea sambil memainkan kuku kuku jarinya.
"Di sini bukan rumah kita kak, lagi pula aku hanya tinggal menyelesaikan pekerjaan ku sebentar lagi. Bukankah toko kita sudah lama tutup? sudah saatnya kita buka kembali." ucap Alia lagi mencoba meyakinkan Allea.
Sebenarnya Alia juga tidak menginginkan hal ini, hanya saja setelah melihat Fabian dan juga Shila tadi, ia menyadari satu hal bahwa di sini bukanlah tempatnya. Setelah Alia menyelesaikan kontraknya semua akan kembali seperti semula, ya semuanya akan kembali pada tempatnya.
Alia menyusuri setiap sudut ruangan tersebut, Alia yakin ia pasti akan merindukan tempat ini nantinya. Helaan nafas terdengar berulang kali dari Alia hingga kemudian ia mulai bangkit dan tersenyum.
"Ayo kak kita selesaikan pekerjaan kita dan pulang." ajak Alia yang lantas di balas anggukan kepala oleh Allea.
Allea yang mendengar ajakan Alia barusan lantas bangkit dan berdiri kemudian melenggang pergi dari ruangan tersebut mengikuti langkah kaki adiknya.
Tanpa keduanya sadari sebenarnya Fabian juga tengah berada di pantry sedari tadi bahkan sebelum kedatangan Alia di sana, hanya saja posisinya yang berada di bagian dapur dan tertutupi oleh dinding pemisah antara dapur dan juga meja makan di pantry lantas membuat Fabian tidak terlihat dari sana.
Fabian melangkahkan kakinya keluar setelah Alia dan Allea pergi dari pantry. Ada perasaan tak rela ketika mencuri dengar obrolan Alia dan juga Allea barusan yang mengatakan bahwa keduanya akan pulang nanti setelah menyelesaikan pekerjaannya.
***
Mansion utama
Setelah memutuskan untuk memberi tahu orang tuanya tentang rencananya untuk menikahi Allea minggu depan. Kini Ardan sudah berdiri di dekat mini bar melihat sekaligus menunggu Arsa memanggang kue di dapur. Ardan yang sedari tadi termenung di sana, bingung harus memulai pembicaraan dari mana, sehingga yang terdengar dari tadi hanyalah helaan nafas saja tanpa berani mengucapkannya pada Arsa niatannya.
Arsa meletakkan loyang berisi kue yang baru saja matang di atas meja dan melepas sarung tangannya. Setelah itu Arsa lantas melangkahkan kakinya ke arah mini bar kemudian menuang segelas air putih untuk Ardan.
__ADS_1
"Minumlah dulu.. kemudian katakan dengan perlahan ada apa?" ucap Arsa yang seakan tahu putranya tengah gelisah saat ini sambil memberikan segelas air tersebut ke depan Ardan.
Sedangkan Ardan yang mendengar ucapan Arsa barusan, lantas hanya bisa menuruti perintah Arsa dan mulai meminumnya dengan perlahan tanpa protes sedikit pun.
"Sekarang katakan pada mama ada apa sebenarnya?" tanya Arsa kemudian yang lantas membuat Ardan kembali menghela nafasnya ketika mendengar pertanyaan dari Arsa barusan.
"Ardan ingin menikah ma" ucap Ardan pada akhirnya yang lantas membuat Arsa terkejut takutnya salah dengar barusan.
"Apa kamu yakin Ar? bukankah kamu mengatakan Rima adalah cinta terakhir mu? lalu ada apa ini Ar?" tanya Arsa yang bingung akan ucapan Ardan yang tiba tiba mengatakan ingin menikah.
"Ardan yakin ma, ada satu hal yang Ardan gak bisa ceritain ke mama. Tapi selain itu Ardan sudah memikirkannya matang matang dan Ardan yakin akan pilihan yang kali ini Ardan ambil." ucap Ardan dengan mantap yang lantas membuat Arsa hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat keyakinan putranya itu.
"Coba pikirkan lagi baik baik Ar, mama tidak mau kamu menyesal nantinya." ucap Arsa lagi berusaha untuk membujuk Ardan.
"Aku sudah memikirkannya berulang kali dan aku yakin dengan pilihan ku kali ini ma." ucap Arsan lagi.
"Baiklah, jika begitu bawa dia besok ke sini mama ingin mengenalnya." ucap Arsa pada akhirnya karena ia yakin akan susah jika membujuk kemauan Ardan kali ini.
"Apa mama sungguh ingin bertemu dengannya?" tanya Ardan dengan tidak yakin mengingat Allea bukanlah wanita biasa.
"Ada apa? bukankah kamu ingin segera menikah? lalu bagaimana mama tahu dengan calon menantu mama kalau kamu tidak ingin mengenalkannya pada mama?" ucap Arsa kemudian.
"Masalahnya dia bukanlah wanita normal pada umumnya, aku hanya takut mama akan kecewa jika bertemu dengannya." ucap Ardan kemudian dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Arsa.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ardan barusan membuat Arsa termenung, bukan wanita normal yang di maksud Ardan itu bagaimana? membuat Arsa lantas bertanya tanya sambil terus menatap ke arah putranya itu.
Bersambung