Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Mereka harus tahu


__ADS_3

"Jangan bilang Rendra menyukai Alia?" ucap Shila yang seakan terkejut akan kata kata yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.


"Kenapa kau berdiri di sana? apa kau tertarik dengan lukisan itu?" tanya Rendra.


"Tertarik? dengan lukisan itu? tentu saja tidak!" ucap Shila secara spontan.


"Baguslah, lagi pula yang itu aku tidak menjualnya." ucap Rendra dengan nada yang datar sambil menyodorkan sekaleng soda kepada Shila.


"Apa kau menyukainya?" tanya Shila kemudian dengan raut wajah yang penasaran sambil meneguk minuman soda yang di berikan oleh Rendra barusan.


Sedangkan Rendra yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas langsung tersenyum seakan mengiyakan ucapan Shila barusan.


"Ya... aku menyukainya." ucap Rendra dengan manik mata yang berbinar.


"Oh ya? apa kau mengenalnya?" tanya Shila lagi.


"Tidak"


Uhuk uhuk


Mendengar jawaban dari Rendra membuat Shila langsung terbatuk seketika.


"Bagaimana ceritanya? kamu menyukainya tapi kamu tidak mengenalnya? jangan gila deh..." ucap Shila kemudian sambil mengusap air soda yang membasahi dagunya karena terbatuk barusan.


"Jangan mengejek ku karena cinta itu tak akan pernah tahu kapan ia akan berlabuh." ucap Rendra dengan kesal kepada Shila.


"Ya ya ya, kalau memang seperti itu bergabunglah dengan ku dan kejar cinta mu itu." ucap Shila yang lantas membuat Rendra langsung menatap ke arah Shila dengan tatapan yang bertanya tanya.


"Maksud mu?" tanya Rendra kemudian.


"Ya seperti katamu barusan, Fabian yang selama ini mencintai ku dan selalu memandang ku... perlahan lahan mulai berubah dan menatap ke arah wanita lain, bukankah itu sangat menyedihkan?" ucap Shila dengan nada yang sendu.


"Lalu apa hubungannya dengan ku?" tanya Rendra dengan tatapan yang bingung ke arah Shila.

__ADS_1


"Ya ada hubungannya lah karena aku menyukai Fabian dan kau menyukai wanita itu, bukankah itu menyebalkan?" ucap Shila sambil menunjuk ke arah lukisan Alia yang terpampang dengan cantiknya di sana.


Rendra yang mendengar hal tersebut, lantas langsung menatap ke dalam lukisan itu cukup lama, ditatapnya potret Alia yang sedang tersenyum sambil membawa seikat bunga di tangannya.


"Sudahlah biarkan saja dia bahagia, jika memang keduanya bahagia lalu aku bisa apa?" ucap Rendra lagi, membuat Shila lantas langsung melotot ketika mendengar jawaban dari Rendra barusan.


Shila yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan yang datang padanya, lantas langsung mendorong tubuh Rendra dan menatap ke arah manik mata itu secara dalam dalam.


"Kau itu bodoh ya? Fabian itu hanya memanfaatkannya saja dan tidak tulus kepadanya, apa kau mau wanita mu selalu hidup dalam siksaan cinta Fabian yang tidak pernah tulus itu?" ucap Shila berusaha untuk mengompori Rendra agar mau bergabung bersamanya.


"Jangan bercanda kau, aku bahkan mengenal Fabian dengan baik... mana mungkin Fabian melakukan hal tersebut." ucap Rendra masih tidak percaya akan ucapan dari Shila barusan.


"Ah... mengapa sulit sekali membujuknya sih?" ucap Shila dalam hati dengan kesal karena ternyata tidak semudah itu untuk membujuk seorang Rendra.


"Yah sudah jika kau tidak percaya yang jelas aku sudah memperingatkan mu!" ucap Shila kemudian.


Rendra yang mendengar kembali ucapan Shila barusan, lantas langsung terdiam seketika sambil berpikir apakah ucapan dari Shila adalah sebuah kebenaran atau hanya sebuah manipulasi semata. Hanya saja semakin Rendra memikirkannya, rasanya seakan semakin membuat pikiran dan otaknya terbelah menjadi dua.


"Baiklah katakan apa rencana mu?" ucap Rendra kemudian pada akhirnya dengan nada yang terdengar frustasi, membuat Shila lantas tersenyum dengan penuh kemenangan ketika mendengarnya.


****


Bengkel Ardan


Hari ini suasana bengkel terlihat sangat ramai, walau cuaca tidak mendukung karena gerimis yang hampir memakan waktu seharian ini, namun tak menyurutkan niat Ardan dalam memulai harinya.


Ardan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, lantas sedikit di buat bingung ketika ia tidak melihat Allea berada di dekatnya, biasanya jika Ardan sedang bekerja Allea pasti akan dengan setia duduk menunggu di sebelahnya hingga pekerjaan Ardan selesai, namun kali ini hingga Ardan menyelesaikan pekerjaannya Allea sama sekali tidak terlihat.


Ardan yang mulai cemas akan Allea, lantas langsung melangkahkan kakinya mencari keberadaan Allea.


"Raf apa kamu melihat Allea?" tanya Ardan ketika berpapasan dengan Rafa.


"Sepertinya tadi sedang main hujan hujanan di halaman depan, tapi aku tidak tahu pastinya karena itu sudah lama sekali." ucap Rafa mencoba mengingat ingat kapan terakhir kalinya Rafa bertemu dengan Allea.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Rafa barusan, Ardan lantas langsung bergegas menuju ke arah halaman depan sambil membawa payung di tangan kanannya.


Ardan melangkahkan kakinya ke arah depan dengan bergegas, namun ketika ia sampai di sana Ardan malah melihat Allea bermain hujan dengan raut wajah yang gembira dan tersenyum dengan lepas seakan sedang menikmati waktunya kali ini.


"Mengapa wajahnya sesenang itu?" ucap Ardan pada diri sendiri sambil tersenyum ke arah Allea yang kini tengah bermain air di halaman depan.


Ardan yang melihat hal itu kemudian lantas membuka payung miliknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allea berada.


"Jangan terus terusan bermain air hujan, kamu bisa sakit nantinya..." ucap Ardan sambil memayungi tubuh Allea, namun Allea malah menggeleng dengan kerasnya.


"Tidak... ini sangat menyenangkan Ar..." ucap Allea dengan mulut yang bergetar karena kedinginan.


"Lihatlah bibir mu sudah membiru, pasti dingin bukan? ayo kita masuk ke dalam..." ajak Ardan kepada Allea.


Allea yang mendengar hal tersebut bukannya masuk dan mengikuti ucapan Ardan, malah menggeleng dengan keras dan membuang payung di tangan Ardan kemudian menarik tangan Ardan sambil tertawa dengan bahagia di bawah guyuran air hujan sore itu.


"Lea basah hentikan..." teriak Ardan sambil berusaha untuk menjauh, hendak berlarian dan berteduh namun Allea malah terus menariknya ke tengah.


"Hahahahaha... air hujan air hujan... datang datang..." teriak Allea sambil menarik tangan Ardan dan mulai berputar putar.


Ardan yang melihat tingkah istrinya seperti itu, lantas tersenyum sambil terus menatap ke arah Allea yang masih mengajaknya berputar sambil bermain air hujan.


"Allea memang tidak akan bisa menjadi sosok istri dalam hidup ku, tapi ia akan selalu menjadi pelipur lara ku ketika aku merasa tidak lagi bisa bertahan dalam kejamnya dunia ini. Tetap jadilah kebahagian dalam diriku Allea... aku mencintaimu dengan segala kekurangan mu..." ucap Ardan dalam hati sambil menatap wajah Allea yang tengah bergembira dan berlarian di bawah air hujan yang membasahi tubuhnya sedari tadi.


**


Sementara itu tanpa Allea dan juga Ardan ketahui, Rafa dan juga beberapa karyawan lainnya yang melihat kemesraan bosnya itu, lantas di buat baper oleh tingkah keduanya.


Rafa yang tidak ingin menyianyiakan momen ini langka ini malah langsung mengabadikannya.


"Tuan dan nyonya besar harus tahu bahwa pak Ardan sangatlah bahagia bersama dengan bu Allea."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2