
Sementara itu di Bandara Internasional SH, terlihat seorang wanita dengan penampilan yang modis berjalan dengan anggunnya keluar dari Bandara, di tatapnya ke arah kanan dan ke kiri seperti tengah mencari sesuatu namun tidak terlihat seseorang yang ia kenali selain orang orang yang berlalu lalang di Bandara.
"Hem dasar, dia sama sekali tidak pernah berubah dan selalu saja begitu." ucapnya sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi dan pergi begitu saja karena orang yang di tunggunya tidak akan muncul walau ia sudah menanti cukup lama.
***
Resto
Setelah Ardan membuat keputusan, Alia lantas mengajak Allea untuk kembali ke Resto dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah tertunda cukup lama.
Fabian, Alia serta Allea terlihat turun dari mobil dan hendak melangkah masuk ke dalam Resto. Hanya saja ketika ketiganya hendak masuk, suara panggilan seseorang nampak menghentikan langkah Alia dan juga Fabian, sedangkan Allea sudah terlebih dulu masuk ke dalam dan meninggalkan keduanya.
"Bi..." panggil sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kaki Fabian yang seperti tidak asing dengan pemilik suara barusan.
Deg
"Shila..." ucapnya dalam hati sambil melirik sekilas ke arah Alia yang juga ikut tertegun sekaligus penasaran ketika mendengar panggilan tersebut.
Sementara Shila yang melihat Fabian berhenti, lantas langsung berlarian dan meninggalkan kopernya begitu saja kemudian memeluk Fabian dengan erat lalu mencium pipi Fabian cukup lama sebagai tanda pelepas rindunya selama bertahun tahun ini. Interaksi keduanya memanglah seperti itu, tidak ada batasan antara keduanya walau hubungan mereka berdua hanya persahabatan, ada satu hal yang tidak mereka lakukan dalam hubungan tersebut yaitu s**s, bukan karena tidak berhasrat atau apa? hanya saja Fabian memiliki pendirian bahwa ia tidak akan melakukan hubungan badan kecuali bersama istrinya nanti.
Fabian yang mendapat perlakuan tersebut hanya terdiam sambil sesekali melirik melihat reaksi Alia. Entah mengapa Fabian yang biasanya akan menyambut ciuman pipi dari Shila dengan ciuman pipi balik, kali ini rasanya begitu berat seakan akan Fabian enggan untuk membuat Alia bersedih.
"Mengapa Shila harus datang di saat seperti ini?" ucap Fabian dalam hati.
Alia yang melihat segalanya hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian melenggang pergi masuk ke dalam meninggalkan keduanya. Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Alia tepat sebelum ia masuk ke dalam dan Fabian menyadari akan hal itu.
"Al.." ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Shila yang merasa tidak ada respon sama sekali oleh Fabian, lantas melepaskan pelukannya secara perlahan dan memasang wajah bete menatap ke arah Fabian yang masih menatap ke arah lain.
"Apa kau tidak merindukan ku Bi?" ucap Shila sambil mencebikkan mulutnya.
Tidak ada jawaban, Fabian sama sekali tidak merespon ucapan Shila barusan seakan Fabian tidak mendengar suara Shila dan masih menatap ke arah yang lain.
"Bi..." pekik Shila pada akhirnya karena Fabian sama sekali tidak menatap ke arahnya.
Mendengar panggilan Shila barusan lantas langsung membuyarkan lamunan Fabian yang sedari tadi masih fokus menatap kepergian Alia dari sana.
"Iya..." jawab Fabian dengan singkat, sedangkan Shila yang hanya mendengar kata "Iya" keluar dari mulut Fabian lantas mulai menatap ke arah Fabian dengan kesal.
"Hanya iya? tidak adakah jawaban lain selain itu?" tanya Shila dengan nada yang kesal, membuat Fabian lantas menghela nafasnya dengan panjang.
"Ya sudah kita masuk dan berbicara di dalam oke? bukankah kamu lelah telah melakukan perjalanan yang panjang?" ajak Fabian kemudian sambil menarik tangan Shila untuk mengikutinya.
"Sudahlah biar Valdi yang membereskannya nanti." ucap Fabian dengan entengnya sambil masih menarik tangan Shila untuk masuk ke dalam Resto.
***
Sementara itu Alia yang mood nya sudah kesal sejak dari apartment tadi kini tambah di buat semakin kesal dengan interaksi Shila dan juga Fabian. Entah ini sebuah kebetulan atau memang Fabian tengah mengujinya, Alia yang bergegas keluar dan melanjutkan pekerjaannya dengan tujuan agar tidak melihat interaksi keduanya. Namun nyatanya baik Fabian dan juga Shila malah mengobrol di meja Resto tepat di dekat jendela, sehingga mau tidak mau Alia malah mendengar obrolan yang sedang di lakukan keduanya di sana.
"Apes banget sih aku!" ucapnya dalam hati sambil melirik kesal ke arah Fabian dan juga Shila.
"Aku merindukan mu Bi sungguh... kau tahu selama bertahun tahun ini aku menahan diri untuk tidak menghubungi mu karena aku ingin meneruskan dulu studi ku, rasanya sangat menyesakkan Bi..." ucap Shila dengan nada yang manja.
Sementara Alia yang mendengar ucapan Shila barusan hanya memutar bola matanya jengah karena Shila terlalu lebai dalam berkata kata.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan mu Bi..." ucap Alia dengan nada yang di buat buat sambil memonyong monyongkan bibirnya.
Sedangkan Fabian yang memang sengaja mengambil tempat duduk di sana agar bisa dekat dengan Alia, lantas tersenyum kecil ketika melihat tingkah usil Alia yang bete karena mendengar ucapan Shila barusan.
"Apakah kamu sedang menertawakan ku Bi?" tanya Shila tiba tiba yang malah melihat Fabian tertawa tepat setelah ia mencoba mencurahkan isi hatinya.
"Tidak, lanjutkan saja aku mendengarkan." ucap Fabian dnegan nada yang santai membuat Shila lantas di buat kesal akan tingkah Fabian yang tak lagi sama seperti dahulu.
"Sudahlah aku pulang saja, kamu membuat ku kesal!" ucap Shila kemudian sambil bangkit berdiri dan melenggang pergi dari sana.
"Tunggu..." ucap Fabian hendak mencegah kepergian Shila namun setelah di pikir pikir ia malah mengurungkan niatnya karena nyatanya ia bahkan lebih nyaman ketika bersama dengan Alia dari pada Shila meski Alia lebih cerewet dan ketus, tapi bagi Fabian di situlah letak nyamannya dia. Bukankah Fabian sangat aneh?
Alia yang mendengar Shila pulang karena kesal di acuhkan oleh Fabian, lantas tersenyum dengan puas karena melihat ulet gatel yang hobi menempel itu pulang.
"Apa yang sedang kamu tertawakan?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Alia yang tengah menertawakan Shila barusan.
Alia benar benar terkejut karena kemunculan Fabian tiba tiba, hingga tangannya yang sedang membawa sekaleng cat lepas begitu saja dan terbang mengenai bajunya dan juga Fabian yang sedang berada di belakangnya.
Tak tak tak
Suara kaleng cet kosong yang jatuh terpental ke bawah setelah menumpahkan seluruh isinya terdengar nyaring di pendengaran keduanya.
Hening sesaat, hingga kemudian perlahan lahan Fabian mulai mengelap wajahnya yang terkena tumpahan cat barusan.
"A L I A......" pekiknya dengan nada penuh penekanan membuat Alia lantas tersenyum garing dengan tubuh yang penuh dengan cat.
Bersambung
__ADS_1