
Resto
Di halaman depan Resto milik Fabian, Alia terlihat tengah duduk dengan gelisah menanti kedatangan Allea yang pergi bersama Ardan sejak pagi tadi.
Sebenarnya rencana Alia pagi ini ia akan pulang ke rumah dan memulai hidup normal kembali seperti kehidupannya yang dulu, hanya saja karena kedatangan Ardan yang tiba tiba dan meminta ijin membawa Allea untuk bertemu orang tuanya lantas membuat rencana kepulangan Alia harus gagal.
Helaan nafas terus terdengar dari Alia, ia benar benar tidak menyangka Ardan akan benar benar menepati ucapannya beberapa waktu yang lalu, tadinya Alia berpikir bahwa Ardan hanya main main dan tidak akan menepati ucapannya, mengingat Ardan adalah termasuk ke dalam golongan atas yang biasanya terkenal menyelesaikan sebuah masalah dengan uang yang mereka miliki. Jadi Alia tidak terlalu yakin bahwa Ardan akan menepati ucapannya.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Alia langsung menoleh ke arah belakang.
"Kau..." ucap Alia ketika melihat Fabian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alia lalu mengambil duduk di depannya.
"Aku lihat sedari tadi kamu hanya diam dan melamun, apa ada yang salah Al?" tanya Fabian lagi setelah duduk di hadapan Alia.
Sedangkan Alia yang mendapat pertanyaan itu hanya terdiam dan malah teringat kejadian semalam di mana Fabian mabuk dan menciumnya begitu saja lalu tepar tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepadanya.
"Ya kau yang salah... benar benar menyebalkan! apakah dia tidak mengingat kelakuannya semalam?" ucap Alia dalam hati sambil menatap ke arah Fabian ketika bayangan Fabian yang menciumnya mendadak terlintas kembali di pikirannya.
"Al..." panggil Fabian sedikit meninggi ketika Alia sama sekali tidak merespon pertanyaannya sedari tadi.
"Eh iya.. ada apa?" tanya Alia yang terkejut akan suara Fabian yang tiba tiba menukik tinggi, sehingga membuyarkan lamunan Alia barusan tentang kejadian semalam.
"Sudahlah, lagi pula tidak terlalu penting juga." ucap Fabian pada akhirnya karena kesal Alia tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi.
__ADS_1
Keduanya kemudian lantas terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing masing. Baik Alia maupun Fabian hanya saling diam seakan canggung ketika bayangan tentang kejadian semalam kembali melintas di benak keduanya masing masing.
"Kamu..." ucap Fabian dan juga Alia secara bersamaan, membuat keduanya lantas kembali terdiam ketika tanpa sengaja mengucapkan kata yang sama barusan.
"Kamu dulu..." ucap Fabian kemudian membiarkan Alia untuk berbicara terlebih dahulu.
"Gak usah kamu dulu aja." ucap Alia lagi karena sebenarnya ia sendiri juga bingung harus berkata apa selanjutnya.
Kecanggungan kembali terjadi antara keduanya hingga kemudian Fabian kembali membuka pembicaraan.
"Apakah semalam aku..." ucap Fabian hendak mengatakan sesuatu, namun urung karena sebuah tangan yang tiba tiba melingkar di lehernya, membuat Fabian langsung terkejut dan dengan spontan mendongak ke atas.
"Hai Bi..." ucap Shila sambil menempelkan pipinya begitu saja dengan pipi Fabian, membuat Fabian risih ketika melihat bagaimana ekspresi Alia yang seakan menatap tak suka ketika melihatnya.
Fabian lantas melepas lingkaran tangan Shila perlahan dan sedikit menggeser tubuh Shila agar tidak terlalu dekat dengannya. Hanya saja sikap Fabian yang seperti itu membuat Shila lantas di buat kesal dan cemberut.
"Apakah aku tidak boleh datang ke sini? lagi pula kita sudah lama tidak bertemu, bukankah harusnya kita jalan jalan berkeliling bersama? aku merindukannya Bi..." ucap Shila dengan nada yang manja sambil memegang tangan Fabian dengan erat, membuat Alia lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar ucapan manja dari Shila barusan.
"Ehem... ada yang harus aku kerjakan di dalam kalian lanjutkan saja berdua." ucap Alia bangkit dan hendak melangkah pergi dari sana karena muak melihat tingkah keduanya.
"Apa yang sedang kamu kerjakan? biar aku membantu mu." ucap Fabian yang lantas membuat langkah kaki Alia terhenti, sedangkan Shila lantas menatap tak percaya ke arah Fabian ketika mendengar ucapannya barusan.
Alia menghela nafasnya panjang ketika mendengar ucapan Fabian barusan. "Tak perlu Bi, bukankah kamu ada tamu sekarang?" ucap Alia sambil menunjuk ke arah Shila dengan ekor matanya.
__ADS_1
"Tapi..." ucap Fabian hendak menolak namun di potong oleh Shila yang tidak menginginkan hal tersebut.
"Bi.. aku bahkan baru sampai, apa kamu tidak ingin menemaniku?" ucap Shila yang lantas membuat Fabian tidak bisa mengatakan apa apa lagi kecuali melihat kepergian Alia dari sana.
Fabian lagi lagi seperti merasa bersalah ketika melihat Alia kembali pergi dengan raut wajah yang seperti itu. Ada perasaan mengganjal di hati Fabian ketika melihat kepergian Alia begitu saja, Fabian sebenarnya juga tidak tahu mengapa alasannya? hanya saja Fabian berusaha untuk mengikuti kata hatinya saja. Apakah Fabian sudah jatuh akan pesona Alia? entahlah Fabian sendiri bahkan tidak tahu apakah perasaan yang mengganggunya adalah cinta atau perasaan bersalah karena kejadian lima tahun yang lalu?
"Bi! apa kamu mendengar ku?" ucap Shila dengan kesal karena Fabian sama sekali tidak menggubrisnya.
"Aku mendengar mu... tak perlu berteriak seperti itu..." ucap Fabian dengan nada yang kesal karena Shila terus saja bertingkah kekanak kanakan.
"Mengapa Shila setelah pulang menjadi sangat mengesalkan seperti ini? benar benar menyebalkan." ucap Fabian dalam hati sambil menatap dengan malas ke arah Shila yang tengah menatapnya dengan kesal saat ini.
"Aku ingin berkeliling hari ini... ku mohon Bi..." pinta Shila dengan nada yang manja.
Fabian yang mendengar hal itu lantas menghela nafasnya panjang. "Baiklah aku akan mengantar mu." ucap Fabian kemudian pada akhirnya.
Shila yang mendengar ucapan Fabian barusan tentu saja bahagia bukan main, setelah melewati drama panjang pada akhirnya Fabian mau juga pergi dengannya. Rasanya seperti Fabian kembali seperti dulu lagi, tentu saja saat saat di mana keduanya masih bersama dan saling menyayangi.
"Baiklah ayo pergi..." ucap Shila kemudian dengan tersenyum bahagia sambil bangkit berdiri dan menarik tangan Fabian.
Fabian yang di tarik tangannya hanya bisa pasrah bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki perempuan itu tanpa bisa kembali menolak. Ini adalah pertama kalinya Fabian merasa enggan pergi bersama Shila, padahal dulu permintaan Shila adalah prioritas bagi Fabian yang harus selalu di utamakan sesibuk apapun dirinya. Mengapa kali ini terasa berubah?
Sementara itu di sudut Resto Alia yang melihat kepergian Fabian dan juga Shila dari Resto, hanya bisa terdiam sambil terus menatap kepergian keduanya hingga menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Ayolah Al.. kau bahkan bukan siapa siapanya Fabian, untuk apa kau kesal melihat mereka berdua?" ucapnya pada diri sendiri kemudian melenggang pergi dari sana.
Bersambung