
Keesokan harinya
Di sebuah ruangan yang di desain untuk ruang tunggu keluarga di acara pertunangan Fabian dan juga Shila, terlihat Shila tak henti hentinya mengumbar senyum di setiap tamu undangan yang masuk dan meminta berfoto di ruang tunggu tersebut.
Di ruangan tunggu itu juga Shiren tengah menatap putrinya dengan lekat, ia sungguh tidak rela kehilangan senyuman di wajah Shila, hanya saja Shiren lebih tidak menginginkan jika putrinya hidup dalam ke pura puraan seumur hidupnya. Yang Shiren lakukan hanya mendidik sang putri agar bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Meski apa yang di lakukan oleh Shiren terkesan jahat, namun bagi Shiren ini adalah caranya dalam mendidik sang putri.
"Permisi, mempelai dan keluarga inti di mohon untuk memasuki aula." ucap seorang pria yang lantas membuyarkan lamunan Shiren.
**
Shila berjalan dengan anggunnya menaiki panggung dekorasi, di mana Fabian tengah berdiri dengan gagah memakai setelan baju layaknya Prince Eric pada kartun Cinderella menanti kedatangan Shila di sini.
Seorang MC lantas memberikan mic kepada Fabian untuk memberikan sepatah dua patah kata sebelum acara tukar cincin di mulai.
Seulas senyum dengan sinis tergambar di bibir Fabian, ketika melihat wajah bahagia Shila yang tanpa dosa tersenyum seperti orang gila menatap ke arah tamu undangan.
"Benar benar wanita ular." ucap Fabian dalam hati sambil menatap ke arah Shila dengan intens.
"Mohon perhatiannya sebentar, cek cek cek... selamat siang dan terima kasih bagi para tamu undangan sekalian yang sudah hadir di acara pertunangan saya. Saya tidak tahu kata kata apa yang bisa menggambarkan perasaan saya pada saat ini." ucap Fabian kemudian menghela nafasnya panjang, membuat para tamu undangan yang mengira Fabian sedang gugup lantas mulai bersorak dan menyemangati Fabian.
Cuit....
Cuwiwit...
Bunyi siulan dari beberapa tamu undangan membuat Fabian lantas tersenyum ke arah para tamu yang hadir di sana.
"Jujur saya juga tidak tahu mengapa saya dan Shila bisa selanggeng ini, hanya saja rasa percaya saya padanya mungkin sangat besar hingga saya bisa sampai di detik ini dan masih bersamanya." ucap Fabian lagi yang lantas semakin membuat wajah Shila bersemu merah ketika mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Fabian.
__ADS_1
"Baiklah saya tidak akan bertele tele lagi, berikut adalah vidio perjalanan cinta kami." ucap Fabian kemudian yang menunjuk ke arah layar monitor yang terletak tidak jauh dari panggung dekorasi.
Semua mata lantas tertuju pada layar monitor hendak menyaksikan bagaimana perjalanan cinta seorang Fabian dan juga Shila terjadi.
Semua orang nampak bersorak ketika awal vidio memperlihatkan foto foto jaman kuliah Fabian dan juga Shila terlihat mulai bermunculan. Hingga di menit ke 3 vidio, lantas berubah menjadi rekaman kamera pengawas yang menunjukkan detik detik kejadian di mana Rima dan juga Shila cekcok dan berakhir dengan Shila yang terjatuh dan tewas di tangga darurat.
Shiren yang melihat rekaman itu di putar lantas mulai memejamkan matanya, ia tahu Fabian pasti akan melakukan hal ini namun entah mengapa rasanya tetap saja sakit bagi Shiren ketika melihat putrinya mulai tersudut.
"Maafkan mama Shila..." ucapnya dalam hati secara terus menerus.
Pramono yang melihat rekaman itu di putar lantas langsung menyuruh beberapa anak buahnya untuk menghentikan vidio tersebut. Semua tamu undangan mulai geger dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi.
Beberapa orang nampak berdiri ketika mereka menyadari sosok yang meninggal dalam vidio tersebut adalah kakak ipar Fabian.
Semua orang benar benar di buat terkejut oleh vidio yang di putar secara tiba tiba itu.
"Ma kamu tidak apa apa?" tanya Zayan yang melihat wajah pucat istrinya.
Zayan yang melihat istrinya terkejut akan berita yang baru saja ia terima, lantas langsung membawa Arsa berjalan keluar dari kerumunan beberapa orang yang mulai ricuh dan saling bertanya tanya.
"Bi... aku.. aku..." ucap Shila bingung harus menjelaskannya bagaimana lagi pada Fabian.
"Apa lagi yang mau kau jelaskan ha?" ucap Fabian dengan nada yang sinis.
"Kau benar benar wanita ular!" teriak seseorang dari arah pintu masuk dengan kesetanan berlarian menuju ke arah panggung dekorasi.
Semua orang yang mendengar teriakan tersebut lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan mulai kembali bergunjing. Mereka benar benar tidak mengira bahwa kehadiran mereka di pesta pertunangan malah membuat mereka mengetahui tabir rahasia dua keluarga atas sekaligus. Bukankah ini akan menjadi hot news selanjutnya?
**
__ADS_1
Fabian yang melihat kakaknya berlarian menuju ke arah Shila, lantas langsung melompat dari panggung dan berusaha mencegah kakaknya.
"Pergi Bi! jangan tahan aku... pergi..." teriak Ardan dengan kesetanan sambil berusaha menyingkirkan tubuh Fabian yang menghalangi langkah kakinya menuju ke arah di mana Shila berada.
Shila yang merasa takut akan Ardan, lantas mulai perlahan mundur ke belakang dan menuruni panggung. Beberapa anak buah Pramono lantas terlihat mulai berdatangan dan mengamankan Shila.
"Pergilah Bi.. lihatlah pembunuh itu kini akan melarikan diri.. jangan halangi langkah ku saat ini..." teriak Ardan ketika melihat Shila hendak di bawa pergi.
"Kak ku mohon tenang, berpikirlah dengan jernih... jangan seperti ini!" ucap Fabian mencoba menyadarkan kakaknya dari perasaan yang emosi.
"Jangan menghalangi... ku bilang!" teriak Ardan sambil mendorong tubuh Fabian hingga terjerembab dan membuat tubuh Fabian membentur meja tamu undangan.
Suasana di dalam ruangan tersebut semakin memanas, beberapa orang suruhan Zayan bahkan sudah mulai menggiring beberapa tamu undangan untuk keluar dari ballroom hotel tersebut.
Ardan yang melihat Fabian terjatuh sudah tidak lagi perduli dan memilih meneruskan langkahnya menuju ke arah di mana Shila berada.
Di saat Ardan melangkah ke arah Shila dengan kesetanan tanpa mereka sadari Shiren mendadak muncul dan langsung menghadang langkah Ardan.
"Minggir tan" ucap Ardan dengan nada bicara yang serak.
Mendengar ucapan Ardan barusan Shiren lantas mengatupkan kedua tangannya dan menatap Ardan dengan tatapan yang memohon.
"Tante mohon Ar... tante tidak akan meminta untuk mu memaafkan Shila, hanya saja biarkan Shila pergi kali ini saja..." ucap Shiren dengan nada yang memohon.
"Aku benar benar tidak bisa tan, aku harap tante bisa mengerti." ucap Ardan seakan menolak permohonan Shiren barusan.
Shiren yang mendengar hal tersebut tidak pantang menyerah dan pasrah begitu saja. Shiren yang lahir dari keluarga terpandang lantas mulai menurunkan egonya. Dengan perlahan seorang Shiren Atmaja bersimpuh sambil mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Ardan untuk mengampuni putrinya, membuat beberapa orang yang masih tersisa di sana menatap dengan iba pemandangan yang ada di hadapannya.
Bersambung
__ADS_1