Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kemeja abu abu


__ADS_3

Apartemen Ardan


Ardan yang sudah menjanjikan Allea akan memberinya baju ganti, lantas sibuk mengobrak abrik lemari miliknya untuk mencari baju apa yang cocok untuk di pakai Allea.


Ardan mencari ke sana ke mari namun tetap tak kunjung menemukan sesuatu yang pas, hingga kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kemeja dengan warna abu abu dengan ukuran yang cukup panjang. Ardan yang melihat kemeja itu lantas langsung mengambilnya dan berpikir sebentar sebelum benar benar membawanya untuk Allea.


"Apa ini tidak terlalu pendek untuknya? mungkin tidak, jika untuk ukuran ku saja cukup panjang seharusnya jika di kenakan oleh perempuan pasti akan berubah seperti tunik atau mini dress bukan?" ucap Ardan mencoba menerka nerka ukuran kemeja tersebut.


Ardan yang yakin pasti muat dan dalam batas aman, lantas mulai membawanya ke arah kamar mandi di mana Allea tengah mandi di dalamnya.


Tok tok tok


Ketuk Ardan perlahan pada pintu kamar mandi.


"Lea aku membawakan mu baju, bagaimana aku memberikannya padamu?" ucap Ardan di depan pintu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Kriet....


Suara pintu kamar mandi yang mendadak di buka secara lebar, lantas mengejutkan Ardan yang tengah berdiri di depannya. Secara spontan Ardan yang mengetahui Allea membuka pintu kamar mandi tanpa pemberitahuan sebelumnya, lantas langsung berputar dan memejamkan matanya.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Ardan sambil berbalik memunggungi Allea karena ia pikir Allea sedang tidak mengenakan apapun dan langsung ke luar.


"Apa... apa yang salah?" ucap Allea dengan bingung ketika melihat kelakuan Ardan barusan.


"Baju mu itu pakai dulu!" ucap Ardan dengan nada kesal.


Allea yang mendengar hal itu semakin bingung, bukan karena tidak mengerti akan ucapan Ardan barusan melainkan karena Ardan yang menyuruhnya pakai baju sementara Allea saat ini masih memakai baju yang lengkap.


"Aku sudah mengenakannya!" teriak Allea seakan marah dan tak suka dengan ucapan Ardan barusan.

__ADS_1


Sedangkan Ardan yang mendengar teriakan itu lantas langsung berbalik badan dan menatap ke arah Allea yang ternyata memang masih mengenakan pakaiannya yang sebelumnya dengan lengkap. Ardan yang melihat hal itu lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya bersemu merah seakan malu akan responnya barusan yang berlebihan.


"Aku minta maaf, ini baju gantinya... aku tidak yakin apakah cocok untukmu. Hanya saja pakai dulu ini sementara waktu." ucap Ardan sambil memberikan baju itu pada Allea.


Allea menerima baju itu dan langsung kembali masuk ke dalam tanpa protes, ia juga sudah risih karena bekas tumpahan jus di bajunya mulai terasa lengket walau sudah ia beri air dan malah berakhir dengan basah kuyup.


Seulas senyum terbit dari wajah Ardan setelah melihat Allea masuk ke dalam. Ardan merutuki kebodohannya berulang kali, bagaimana bisa pikirannya begitu kotor dan membayangkan yang tidak tidak.


"Dia bukan Rima! mengapa aku malah berpikiran yang tidak tidak?" ucapnya pada diri sendiri sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa.


***


Resto


Di ruang kontrol Fabian dan juga Alia nampak terlihat serius menatap ke arah layar monitor untuk mencari keberadaan Allea di sana. Alia tidak tahu apakah ini akan berhasil, namun tidak ada salahnya bukan jika kita mencobanya terlebih dahulu?


"Setidaknya kakak mu aman bersama dengan kakak ku." ucap Fabian sambil menatap sekilas ke arah Alia yang masih terlihat khawatir.


"Apa kau yakin? bagaimana kalau kakak mu melakukan sesuatu pada kak Lea?" ucap Alia dengan nada yang menyindir.


"Kau pikir kakak ku apaan? jangan aneh aneh deh..." ucap Fabian dengan nada yang tersenyum.


"Tidak ada yang mustahil bukan? mereka adalah laki laki dan perempuan dewasa, jika mereka hanya berduaan tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi." ucap Alia kembali protes.


"Tidak akan..." ucap Fabian namun terhenti ketika sebuah pikiran yang jelek tiba tiba melintas di benaknya. "Bagaimana kalau kak Ardan menganggap Allea adalah kak Rima? bukankah itu akan menimbulkan masalah yang besar?" ucapnya dalam hati sambil terdiam dan berpikir segala kemungkinannya.


Alia yang melihat Fabian terdiam lantas tersenyum. "Kenapa kamu diam? baru terpikir bukan? meski kakak ku tidaklah normal tapi ia juga seorang wanita dewasa. Sebaiknya telpon kakak mu dan tanyakan di mana keberadaannya." ucap Alia kemudian yang di balas Fabian dengan anggukan.


Tanpa menunggu waktu lama lagi sesuai dengan permintaan Alia barusan, Fabian lantas merogoh saku jasnya mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Ardan di sana.

__ADS_1


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Apakah kakak bersama dengan kak Allea?" tanya Fabian secara langsung.


"Iya Allea ada di apartment ku." ucapnya dengan santai tanpa berpikir dulu sebelumnya.


"Apa kakak sudah gila? mengapa kakak membawanya ke sana?" ucap Fabian dengan cukup terkejut karena ini pertama kalinya Ardan membawa seorang wanita di apartemennya selain Rima mantan istrinya yang telah lama meninggal. Membuat Alia yang mendengar nada terkejut Fabian lantas di buat penasaran akan percakapan kedua kakak beradik itu.


"Ceritanya panjang Bi, besok saja aku menceritakan detailnya. Untuk saat ini sebaiknya kamu biarkan Allea di sini dulu dan jemput dia besok." ucap Ardan memberikan saran.


"Apa kakak sudah gila?" pekiknya dengan kesal yang lantas membuat Ardan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya ketikan mendengar suara Fabian yang cukup keras.


"Kakak rasa tak perlu kakak jelaskan kau juga bisa melihatnya dari rekaman kamera pengawas Resto milik mu bukan? Allea tidak ingin pulang dan bertemu dengan Alia, biarkan dulu pikirannya tenang baru kalian bisa kembali membujuknya." ucap Ardan lagi memberi Fabian opsi mengingat bagaimana Allea tadi terlihat down dan berlari ke jalan raya.


Mendengar pendapat Ardan barusan Fabian nampak terdiam dan berpikir, hingga kemudian terdengar helaan nafas yang keluar dari mulutnya.


"Baiklah kak aku akan menerima saran mu ini, tapi ingat jangan pernah berbuat yang macam macam." ucap Fabian memperingatkan Ardan agar tidak berbuat sesuatu yang tidak tidak.


"Ayolah Bi aku bukan akan anak kecil lagi, apa yang sedang kau takutkan?" ucap Ardan tidak terima dengan tuduhan Fabian barusan.


"Terserah apa kata kakak" ucap Fabian kemudian sambil menutup panggilan telponnya dengan spontan.


Setelah Fabian mengakhiri panggilan ponselnya, Alia lantas langsung menatap ke arah Fabian dengan tatapan yang menunggu penjelasan.


"Kakak mu ada di apartment kakak ku.." ucap Fabian kemudian dengan nada yang tidak enak.


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2