Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Aku seperti pernah melihatnya


__ADS_3

Alia melangkahkan kakinya keluar dari Apartment Ardan dengan langkah yang terburu buru. Alia benar benar tidak lagi bisa berakting dan berpura pura seakan semua baik baik saja, ucapan memanglah gampang tapi kenyataannya bahkan lebih sulit hanya untuk sekedar mencobanya.


Alia memasuki lift dengan langkah yang gontai, disandarkannya sebentar tubuh Alia sambil berusaha untuk meluapkan segala hal yang ada pada dirinya saat ini.


"Aku benar benar tidak bisa berpura pura tidak terjadi apa apa, apa aku ini bodoh? meski Fabian menyakitiku berkali kali, tapi mengapa aku selalu saja luluh jika menatap manik mata pria itu? apa aku segampang itu?" ucap Alia pada diri sendiri sambil memejamkan matanya menetralkan segala hal yang saat ini berkecamuk di hatinya, hingga suara dentingan pintu lift membuyarkan segalanya.


Dengan langkah perlahan Alia mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, Alia terus melangkahkan kakinya melewati lobi Apartment sambil menundukkan wajahnya yang kini seperti hendak menangis itu, hingga tanpa sadar ia malah menabrak seseorang yang juga sedang berjalan di lobi Apartment.


Bruk


Alia yang memang dalam posisi menunduk lantas langsung sedikit terhuyung ketika tabrakan itu tanpa sengaja terjadi.


"Ah maaf... saya tidak sengaja..." ucap Alia sambil membungkukkan tubuhnya.


"Tak apa, saya juga minta maaf..." ucap pria tersebut.


Setelah mengatakan permintaan maaf, Alia lantas melangkahkan kakinya meninggalkan pria tersebut tanpa ingin kembali melanjutkan obrolan mereka.


Melihat Alia pergi, pria tersebut lantas melirik sekilas ke arah belakang sambil terus memperhatikan kepergian Alia dari sana.


"Aku seperti pernah melihat gadis itu tapi di mana ya?" ucap pria tersebut yang ternyata adalah Setya.


Setya yang tak ingat kapan pernah bertemu dengan Alia lantas kembali melanjutkan langkah kakinya, hingga kemudian langkah kaki Setya kembali terhenti ketika bayangan di mana mobil Fabian terparkir di bahu jalan dekat sebuah toko bunga kemarin tiba tiba kembali terlintas di benaknya.


"Bukankah dia gadis penjual bunga kemarin?" ucap Setya sambil mengingat ingat dan berbalik badan hendak kembali menatapi Alia namun sayangnya Alia sudah menghilang dari sana.


Setya yang sudah tidak lagi melihat Alia di belakangnya, lantas membiarkannya begitu saja kemudian kembali meneruskan langkah kakinya menuju ke arah tujuan awalnya yaitu ke Apartment Ardan.


Sambil melangkahkan kakinya memasuki lift, Setya lantas mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor seseorang di sana.

__ADS_1


"Halo" ucap Setya ketika sambungan telponnya terhubung.


"Halo bos" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Aku ingin kau mencari tahu tentang sesuatu, aku akan mengirimkan detailnya padamu sebentar lagi." ucap Setya dengan nada yang datar.


"Tentu saja bos." ucap sebuah sarang di seberang sana dengan senyum yang mengembang walau tentu saja tidak akan terlihat oleh Setya saat ini.


"Bagus" ucap Setya kemudian memutus sambungan telponnya begitu saja.


***


Di rumah Sakit


Di ruang perawatannya, Shila nampak duduk termenung sambil menatap kosong ke arah depan, setelah Shila sadar beberapa waktu yang lalu kondisinya masih sama dan terus saja melamun seperti itu.


Shila bahkan tidak merespon ketika di ajak bicara ataupun di tanyai, untuk makan pun Shila seperti enggan dan hanya membiarkan makanannya begitu saja tanpa ia sentuh sedikitpun, Shiren yang melihat kondisi putrinya seperti itu tentu saja tidak tega dan terus terusan menyalahkan dirinya sendiri karena ia adalah penyebab keadaan putrinya menjadi seperti ini.


Di ambilnya piring berisi makanan tersebut ke pangkuannya.


"Shila makan yuk biar mama yang suapi... bukankah kamu sangat suka jika di suapi oleh mama?" ucap Shiren dengan nada yang lembut sambil menyendokkan makanan di piring kemudian mendekatkannya ke mulut Shila.


Shila yang melihat sesendok makanan datang mendekat ke arahnya tidak menanggapi ataupun menolak suapan tersebut, yang di lakukan Shila hanyalah diam dan terus saja diam.


"Ayo buka mulut mu nak..." ucap Shiren lagi sambil menggantung tangannya di udara tepat di depan mulut Shila.


Shila yang kembali mendengar ucapan Shiren lantas menoleh ke arahnya sekilas kemudian kembali menoleh ke depan.


"Ayolah nak makan sedikit saja hem?" ucap Shiren lagi.

__ADS_1


Shila yang terus terusan mendengar ucapan Shiren barusan, lantas tanpa di duga malah menepis sendok tersebut hingga lepas dari genggaman tangan Shiren dan jatuh ke lantai menimbulkan suara yang nyaring.


Shiren yang melihat kelakuan putrinya itu lantas langsung bangkit dan menatap tajam ke arah Shila.


"Shila! sudah cukup ya kamu melakukan hal ini.... kamu kira mama gak shock ha? mama bahkan lebih terluka ketika melihat kamu seperti ini! tidakkah kamu memikirkan mama sedikit saja?" ucap Shiren dengan nada yang meninggi karena sudah kesal dan tidak tahu lagi harus membujuk Shila seperti apa.


Shila yang mendengar teriakan mamanya lantas mulai mengamuk sambil melempar selimut dan juga bantal di ranjang pasiennya.


Aaaaaaaaa


Teriak Shila sambil memukul mukulkan tangannya ke udara secara acak, membuat selang infus yang menancap di tangannya bergerak gerak hingga kemudian tiang penyangganya jatuh dan membuat tangan Shila berdarah karena selang infus yang menancap di tangannya tertarik akibat tiang penyangga yang jatuh.


Shiren yang melihat Shila mulai mengamuk lantas langsung berusaha menenangkan putrinya dengan memeluknya erat.


"Pa... papa tolong...." teriak Shireen memanggil Pramono yang memang sedang ada di luar.


Pramono yang tadinya hendak mencari udara segar, lantas harus terburu buru masuk ke dalam ketika mendengar suara teriakan istrinya.


Ketika Pramono masuk, ia sedikit terkejut dengan kondisi yang terjadi di dalam. Melihat keadaan sudah semakin kacau Pramono lantas memencet tombol darurat di dekat ranjang pasien Shila. Hingga tak beberapa lama dokter nampak mulai berdatangan dengan langkah yang tergesa ke ruangan Shila.


Beberapa perawat nampak mulai memegangi Shila yang mengamuk seperti orang yang kesetanan dan berusaha menidurkannya sambil memegang kaki dan tangan Shila.


Setelah Shila di tidurkan barulah seorang dokter mendekat dan menyuntikkannya obat penenang, setelah obat penenang tersebut masuk ke tubuh Shila secara perlahan gerakan Shila mulai mereda hingga kemudian tertidur dan tidak lagi meronta.


Beberapa perawat yang tadinya memegangi tangan dan kaki Shila, lantas mulai melepaskannya perlahan setelah melihat Shila tertidur. Dengan perlahan mereka kemudian membereskan satu persatu barang yang berantakan di ruangan itu sekaligus memasangkan kembali selang infus yang tercabut dari tangan Shila tadi.


Seorang dokter nampak datang mendekat ke arah Shiren dan juga Pramono yang masih ada di ruangan tersebut dan melihat segala tindakan pertolongan yang di lakukan oleh dokter kepada anaknya itu.


"Bapak dan ibu bisa ikut saya sebentar? ada yang hendak saya bicarakan pada kalian berdua." ucap dokter tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2