Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Bagaimana mungkin dia tahu?


__ADS_3

Ruang istirahat di toko Alia


Lita yang baru saja selesai memeriksa Alia, lantas terlihat mulai membereskan peralatannya kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Fabian.


"Kamu tidak perlu khawatir... dia pingsan karena terlalu terkejut akan sesuatu hal yang ia terima, aku rasa dia menyimpan trauma yang cukup besar dalam dirinya, sehingga begitu rasa trauma itu meluap itu akan membuat fisiknya lemah karena tidak sanggup menahan beban yang terlalu berat, aku sudah menuliskan resep yang harus kamu tebus nantinya. Usahakan agar tidak memberikannya tekanan yang terlalu berlebihan Bi, berilah di kebahagian agar perlahan lahan rasa trauma yang sudah terpendam cukup lama di hatinya bisa terangkat dengan perlahan." ucap Lita menjelaskan keadaan Alia saat ini kepada Fabian.


"Baiklah aku mengerti penjelasan mu, terima kasih banyak karena sudah mau datang ketika aku memanggil mu." ucap Fabian kemudian.


"Tidak perlu sungkan, jika ada apa apa hubungi saja aku.. aku permisi dulu ya..." ucap Lita kemudian berpamitan kepada Fabian.


"Iya hati hati di jalan." ucap Fabian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Lita, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana dan kembali ke Rumah Sakit untuk melanjutkan dinas malamnya.


Setelah kepergian Lita dari sana, Fabian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Alia kemudian duduk tepat di sebelahnya.


Di selipkannya anak rambut milik Alia yang berhamburan ke sana ke mari.


"Apakah sangat berat sekali Al? andai saja rasa itu bisa di bagi... aku pasti akan dengan sukarela menanggungnya untuk mu Al..." ucap Fabian dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Alia dengan tatapan yang intens.


Fabian menghela nafasnya dengan berat, kemudian pandangannya lantas terhenti pada sebuah foto yang masih lengkap dengan bingkainya dan sudah berserakan di lantai. Saking fokusnya dengan Alia, Fabian bahkan sampai lupa membereskan serpihan kaca dari bingkai foto yang pecah tadi entah karena apa.


"Ah aku sampai melupakannya.." ucap Fabian sambil bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pecahan kaca tersebut.


Fabian mengambil posisi berjongkok kemudian mengambil foto tersebut dan membersihkannya dari beberapa serpihan yang masih menutupi foto tersebut.


"Bahkan hanya dengan melihat foto keluarga ini saja aku sudah bisa menebak... jika kehadiran Alia di keluarga ini sama sekali tidak di inginkan." ucap Fabian pada diri sendiri sambil memunguti satu persatu serpihan bingkai foto tersebut dan membersihkan serpihan kecil yang berserakan di lantai.


***


Apartment Ardan


Ardan yang baru saja selesai mandi, lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi sambil menggosok gosokkan handuk pada rambutnya yang basah.


Allea yang melihat Ardan baru keluar dari kamar mandi, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan.

__ADS_1


"Po... ponsel mu sedari tadi berbunyi... aku... tidak be.. berani mengangkatnya." ucap Allea sambil menyodorkan ponsel ke arah Ardan.


"Terima kasih banyak" ucap Ardan kemudian sambil mengacak acak puncak kepala Allea kemudian berlalu pergi dari sana.


Allea yang rambutnya di acak acak lantas tersenyum dengan bahagia, entah mengapa sentuhan sentuhan kecil dari Ardan membuat moodnya sangat bahagia, rasanya seperti langsung melayang dan terbang sampai langit ke tujuh.


***


Ruang pribadi Ardan


Ardan yang baru saja mendudukkan bokongnya pada kursi kebesarannya, lantas di buat sedikit terkejut ketika melihat panggilan tidak terjawab dari Fabian sebanyak 10 kali.


"Fabian? tumben... apakah sedang terjadi sesuatu padanya?" ucap Ardan bertanya tanya pada diri sendiri.


Ardan yang tidak ingin membuang waktu lagi, lantas berniat untuk menghubungi balik Fabian. Namun karena ponselnya terlebih dahulu berdering jadilah membuat Ardan harus menunda niatannya untuk menghubungi Fabian barusan.


"Halo" ucap Ardan tepat setelah ia menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Apa kabar mu nak?" tanya sebuah suara di seberang sana yaitu Arsa.


Mendengar pertanyaan dari Ardan suasana menjadi hening sejenak, membuat Ardan bahkan sampai mengecek berkali kali ke arah ponselnya untuk melihat panggilannya apakah sudah terputus barusan.


"Apakah kamu masih marah dengan mama dan papa?" ucap Arsa lagi dengan nada bicara yang lirih, membuat Ardan lantas dengan spontan langsung menghembuskan nafasnya dengan panjang.


"Bukan begitu ma, hanya saja aku sedikit tidak setuju jika ada syarat atas kepulangan ku, aku benar benar tidak bisa jika harus berpisah dengan Allea." ucap Ardan.


"Dasar anak nakal, siapa yang menyuruh mu untuk berpisah dari Allea? papa bahkan juga tidak mengatakannya kemarin bukan?" ucap Arsa lagi sambil tersenyum simpul yang tentu saja tidak akan bisa di lihat oleh Ardan saat ini.


Ardan yang mendengarnya langsung dari mulut Arsa, sedikit merasa lega karena baik Arsa maupun Zayan tidak lagi mempermasalahkan tentang kehadiran Allea di hidupnya.


"Apakah ucapan mama benar benar bisa di percaya?" tanya Ardan lagi mencoba untuk meyakinkan bahwa apa yang ia dengar tadi bukanlah sebuah kesalahan atau hanya halusinasinya semata.


"Maka dari itu pulanglah dan makan malam bersama, mama akan menghubungi Fabian juga agar ikut makan malam bersama kita besok." ucap Arsa dengan nada suara yang terdengar bahagia.

__ADS_1


Sedangkan Ardan yang mendengar nama Fabian disebut, lantas sedikit tersentak karena niat awalnya tadi memang hendak menghubungi Fabian namun urung karena Arsa menghubunginya lebih dulu.


"Kalau begitu sampai ketemu besok ma, untuk masalah Fabian biar Ardan yang menghubunginya untuk makan malam besok." ucap Ardan kemudian.


"Baiklah, selamat malam nak..." ucap Arsa.


"Malam ma" ucap Ardan kemudian terdengar panggilan telpon terputus begitu saja.


Ardan yang sudah kepikiran dengan Fabian, lantas langsung mendial nomor Fabian di sana dan mencoba menghubungi Fabian.


Deringan pertama...


Deringan kedua...


Hingga deringan kelima Fabian tetap saja tidak mengangkat telponnya, hingga entah deringan yang kesekian kalinya barulah terdengar suara Fabian di seberang sana.


"Kau benar benar membuat ku khawatir Bi, kemana saja kau? mengapa lama sekali mengangkat telponnya?" ucap Ardan langsung merepet begitu mendengar suara Fabian di seberang sana.


"....."


Tidak ada tanggapan apapun dari Fabian selain hanya helaan nafasnya yang terdengar di sana, membuat Ardan semakin di buat penasaran akan apa yang sudah terjadi kepada Fabian saat ini.


"Apa sesuatu tengah terjadi padamu Bi?" tanya Ardan kemudian kali ini dengan nada bicara yang lebih lirih dan kalem.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Tidak ada jawaban apapun dari Fabian hingga kemudian...


"Alia sudah mengetahui segalanya kak!" ucap Fabian dengan nada yang lirih namun berhasil membuat Ardan terkejut ketika mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin Alia bisa tahu Bi? apa kau yang memberitahunya?" tanya Ardan.


Bersambung


__ADS_2