
Beberapa tahun yang lalu
Siang itu setelah pulang sekolah Alia datang dan langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah yang di tekuk. Alia melempar tas sekolahnya ke sembarang arah kemudian duduk dengan meringkuk di bawah. Alia sudah benar benar tidak bisa menanggungnya lagi, tekanan yang di berikan semua orang padanya terlalu besar. Alia selalu mendapatkan pembulian di sekolah karena kakaknya yang mengidap autis, jujur saja Alia tidak pernah mengeluh akan hal itu karena ia tidak pernah sekalipun malu mempunyai kakak yang mengidap autis, namun yang jadi masalahnya pembulian yang semula hanya mengolok ngolok kakaknya yang autis lama kelamaan berubah menjadi ke arah mental dan juga fisiknya.
Pulang dengan keadaan yang basah kuyup atau bau amis dari tong sampah nampaknya sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Alia sudah benar benar lelah menghadapi semua itu, keluarga yang semula Alia anggap sebagai tempatnya bercurah, nyatanya juga menjadi tempat paling tidak ingin Alia menginjakkan kakinya di sana.
Alia benar benar tidak bisa berbicara atau meminta tolong pada siapapun, Mamanya selalu saja mengutamakan Allea di setiap situasi dan kondisi apapun, membuat kondisi Alia semakin terpuruk. Alia menangis tanpa suara, ia benar benar tidak tahu harus bagaimana lagi menahan gejolak yang ada di hatinya. Sampai kemudian sebuah suara benda jatuh ke air terdengar begitu keras, membuat Alia yang posisi kamarnya memang berada di sebelah kolam renang lantas langsung berlari keluar untuk mengecek suara apa barusan.
Alia yang semula berlari ingin melihat bunyi apa barusan, lantas menghentikan langkah kakinya ketika melihat Allea terjatuh ke dalam kolam renang.
"Kak Lea!" ucapnya dalam hati tepat ketika melihat Allea yang kesulitan untuk naik ke permukaan.
Langkah kaki Alia terhenti tepat di ambang pintu, entah mengapa ketika Alia melihat Allea hampir tenggelam seperti itu, perasaannya benar benar penuh dengan doa doa buruk yang berisi agar Allea tidak selamat setelah tenggelam.
Bayangan demi bayangan bagaimana pembulian yang ia dapat di sekolahan dan juga siksaan demi siksaan yang di dapatkannya dari Tiara, perlahan mulai berputar di kepalanya membuat telinga Alia lantas berdenging dengan tiba tiba. Alia terlihat mulai melangkah mundur perlahan ketika seluruh hatinya di penuhi dengan rasa benci akan kehadiran Allea sebelum dirinya. Sampai kemudian suara Allea yang meminta tolong padanya mendadak terdengar di pendengarannya, membuat Alia lantas menghentikan langkah kakinya yang hendak meninggalkan Allea di sana.
"Al tolong..." teriak Allea sambil berusaha naik ke permukaan namun terus saja gagal.
Mendengar teriakan Allea barusan, membuat Alia lantas menghentikan langkahnya. Alia benar benar bingung jalan apa yang akan ia ambil saat ini ketika melihat kakaknya sendiri tenggelam di kolam.
Alia benar benar bimbang, setengah hatinya mengatakan untuk membiarkan Allea tenggelam namun setengahnya lagi mengatakan untuk menolong Allea.
"Arg" teriaknya dengan frustasi sambil menjambak rambutnya dengan kesal.
__ADS_1
Hingga kemudian ketika Alia tidak lagi mendengar suara kepakan tangan yang beradu dengan air, membuat Alia tanpa pikir panjang lantas berlarian dan masuk ke dalam air untuk menolong Allea.
Alia berenang dengan tergesa sambil berusaha mengangkat tubuh Allea naik ke permukaan sekuat mungkin.
Uhuk uhuk uhuk
Terdengar suara Allea yang terbatuk membuat Alia lantas tersenyum ketika mendengarnya dari dalam air. Alia yang berada di bawah berusaha untuk mendorong tubuh Allea agar naik, namun sayangnya ketika Allea hendak naik ke atas Allea malah menendang Alia cukup keras, hingga membuat Alia tanpa sengaja tersedak dan meminum air.
"Kakak..." panggilnya dalam hati ketika tubuhnya terus turun ke dasar kolam karena kram akibat tendangan kaki Allea tadi ketika hendak naik ke permukaan.
****
Sementara itu kembali ke Resto
"Dia ingin membunuh ku!" teriak Allea lagi sambil menunjuk ke arah Alia.
"Ti... tidak kak tidak..." ucap Alia dengan tergagap.
Alia benar benar shock ketika mendengar hal itu langsung dari mulut Allea. Alia yang mendengar ucapan Allea tidak bisa menyangkal maupun mengiyakan karena memang dulu perasaan ingin membiarkan Allea tenggelam benar benar memenuhi seluruh hatinya. Membuat Alia hanya bisa menatap tak percaya ke arah kakaknya karena ternyata Allea mengetahui segalanya.
Alia nampak mundur perlahan dengan raut wajah yang terkejut, membuat Fabian yang berada di belakang Alia lantas menatap Alia dengan tatapan yang bingung akan ekspresi yang di tunjukkan Alia barusan.
"Dia ingin membunuh ku! kau jahat! aku membenci mu..." teriaknya lagi sambil mendorong Alia dengan cukup keras, hingga membuat Alia terhuyung beberapa langkah dengan raut wajah yang masih terlihat shock.
__ADS_1
Setelah mendorong Alia barusan Allea lantas berlari tanpa arah sambil terus mengatakan dengan lantang bahwa Alia ingin membunuhnya secara berulangkali. Sedangkan Alia hanya terlihat termenung di tempatnya sambil menatap kosong ke arah depan tanpa bergerak sedikit pun.
Fabian yang melihat Alia sangat shock, lantas mendekat ke arah Alia dan menggoyangkan tubuh Alia pelan untuk menyadarkannya.
"Aku tidak berniat membunuhnya... aku benar benar tidak berniat... sungguh... aku..." ucap Alia berulang kali sambil masih menatap kosong ke arah depan, membuat Fabian yang melihat Alia seperti itu lantas memegang dengan erat kepala Alia agar menatap ke arah manik matanya, seakan berusaha untuk menyadarkan Alia yang tengah terkejut saat ini.
"Hentikan Al! aku tahu kamu tidak pernah benar benar ingin melakukan hal itu. Jadi hentikan, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri." ucap Fabian sambil menatap manik mata Alia dalam dalam.
"Aku... aku..." ucap Alia lagi namun tidak bisa karena terasa sangat tercekat dan sam sekali tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Aku tahu itu jadi hentikan oke?" ucap Fabian lagi sambil melepas pegangan tangannya pada kepala Alia.
Alia yang baru saja tersadar setelah mendengar ucapan Fabian barusan, lantas mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menunduk sebentar. Ia benar benar terlalu hanyut barusan hingga kehilangan ketenangan dan lepas kendali.
Alia yang sudah merasa sedikit lebih tenang lantas mulai menatap sekitar mencari keberadaan Allea di sana, namun Alia sama sekali tidak menemukan Allea di manapun juga.
"Bi dimana kak Lea?" tanya Alia dengan lirih sambil masih menatapi sekitar mencari keberadaan Allea di sana.
"Bukankah tadi ada di sini Al?" ucap Fabian yang juga bingung ketika melihat sekitar ternyata tidak ada Allea di manapun.
"Jangan bercanda Bi.... ini mulai tidak lucu!" ucap Alia dengan kesal.
"Aku tidak bercanda Al, kau kira wajah ku akan seperti ini jika sedang bercanda?" ucap Fabian sambil menunjuk ke arah wajahnya.
__ADS_1
Bersambung