
Alia yang melihat Fabian datang dengan langkah kaki yang bergegas, lantas langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat seakan menyuruh kepada Fabian untuk tidak datang mendekat ke arahnya. Namun Fabian yang melihat gelengan tersebut seakan acuh dan tetap datang kemudian membuka lakban yang menutup rapat mulut Alia, membuat Alia langsung meringis seketika di saat Fabian membuka lakban tersebut dari mulutnya.
"Pergi dari sini Bi! jangan mendekat!" teriak Alia yang lantas membuat Fabian terkejut ketika mendengarnya.
"Ada apa Al? aku datang ke sini untuk menolong mu, jika kamu memang masih marah akan perbuatan ku tapi setidaknya biarkan aku membebaskan mu terlebih dahulu, baru setelah itu kamu boleh marah kepadaku sepuas mu!" ucap Fabian sambil masih berusaha mendekat ke arah Alia dan mulai membuka ikatannya.
Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan, lantas langsung berusaha mendorong tubuh Fabian yang berada di dekatnya kemudian melesot mundur beberapa kali, membuat Fabian yang tidak siap akan gerakan Alia yang tiba tiba lantas langsung terhuyung dan hampir saja terjatuh jika Fabian tidak memiliki keseimbangan.
"Bukan karena itu Bi! ku bilang pergi ya pergi... aku aku tidak mau Rendra menggila dan meledakkan tempat ini!" ucap Alia dengan nada yang menahan tangisnya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa di saat saat seperti ini.
Fabian yang tidak mengerti akan arah pembicaraan Alia, hanya menatap Alia dengan tatapan yang bingung dan berpikir bahwa Alia masih marah kepadanya.
"Ada apa sebenarnya Al? jika kamu masih marah padaku nanti..." ucap Fabian namun langsung di potong oleh Alia karena Fabian yang tidak kunjung mengerti juga ucapannya.
"Ku bilang pergi! Rendra memasang bom di tubuh ku! tidakkah kamu mengerti juga?" ucap Alia pada akhirnya yang lantas membuat Fabian dan juga beberapa orang yang juga berdiri di sana, lantas langsung terkejut dan berwajah panik ketika mendengar kata "Bom" keluar dari mulut Alia barusan.
"Al..." panggil Fabian dengan nada yang lirih.
Membuat Alia lantas langsung kembali menggeleng secara perlahan dan menyuruh Fabian untuk pergi menjauh dari dirinya. Sedangkan Fabian yang melihat penolakan Alia kembali, lantas langsung bangkit berdiri dari tempatnya dan mendekat ke arah beberapa orang laki laki berjas hitam di belakangnya.
__ADS_1
"Berikan pengumuman pada pusat informasi dan katakan untuk segera mengosongkan tempat ini sekarang juga, telpon bagian penjinakan bom dan katakan padanya untuk segera sampai di sini secepatnya!" ucap Fabian memberikan perintah yang langsung di balas anggukan kepala oleh beberapa pria berjas hitam tersebut.
Beberapa orang yang mendapat perintah dari Fabian, lantas terlihat mulai bergerak melaksanakan tugas dari Fabian dan meninggalkan tempat tersebut yang kini hanya menyisakan Fabian dan juga Alia di sana.
Alia yang tidak tahu harus bagaimana lagi, lantas hanya bisa menangis meratapi nasibnya sendiri. Sedangkan Fabian yang melihat Alia terus terusan menangis mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alia dan langsung melepas ikatan Alia satu persatu.
Alia yang melihat Fabian mendekat awalnya terus menolak dan melesot mundur, namun pada akhirnya Fabian berhasil membujuk Alia dan mengatakan bahwa semuanya baik baik saja.
"Tidak apa Al... kau percaya padaku bukan? mereka sudah ku perintahkan untuk melakukan evakuasi jadi semua akan baik baik saja, kemarilah biar aku lihat." ucap Fabian dengan nada yang lembut karena ia tahu Alia pasti tengah ketakutan saat ini mengingat jika bom yang ada pada dirinya meledak pasti akan melukai banyak orang yang tidak bersalah di sini.
Alia yang sudah sesenggukan lantas hanya diam dan membiarkan Fabian memeriksa segalanya, dengan perlahan Fabian mulai membuka resleting jaket Alia untuk melihat komponen bom rakitan tersebut.
"Sialan!" ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia yang langsung menangis dengan tersedu ketika melihat ekspresi raut wajah Fabian yang sudah bisa Alia tebak.
Alia menggigit bibir bagian bawahnya menahan tangisannya agar tidak keluar dan terdengar oleh Fabian, yang malah membuat Fabian semakin panik dan kebingungan harus berbuat apa di saat saat seperti ini.
Alia yang sudah tidak bisa lagi berpikir, lantas langsung mendorong tubuh Fabian hingga membuat Fabian tersungkur karena terkejut akan gerakan Alia yang tiba tiba itu.
"Sudah ku bilang untuk pergi dan menjauh Bi! kenapa kau ngotot sekali? pergi ku bilang!" teriak Alia kemudian yang lantas membuat Fabian terkejut seketika.
__ADS_1
Fabian yang mendengar teriakan Alia, lantas segera bangkit dari posisinya dan kembali mendekat ke arah Alia.
"Tenanglah Al! aku bisa melakukannya... jika pun aku gagal biarkan aku mati bersama mu, mungkin itu akan lebih baik untuk menebus segala kesalahan ku padamu selama ini, jadi ku mohon padamu biarkan aku di sini bersama mu Al!" ucap Fabian sambil berusaha kembali mendekat ke arah Alia.
"Ku bilang berhenti Bi! jangan mendekat, apa kau tidak lihat setiap angka yang semakin mendekati angka nol? aku bisa gila jika kau terus saja seperti ini Bi, ku bilang pergi dan selamatkan dirimu!" teriak Alia lagi sambil berusaha memundurkan dirinya dan menjauh dari posisi Fabian berada saat ini.
Fabian yang melihat Alia semakin melangkah menjauh, lantas langsung mengusap rambutnya dengan kasar sambil melirik sekilas ke arah angka pada rakitan bom tersebut yang terus berkurang dan mendekati waktu meledak.
Fabian sendiri benar benar frustasi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa di saat saat seperti ini, hingga Fabian yang todak tahu lagi harus melakukan apa langsung dengan spontan mengambil langkah dengan cepat mendekat ke arah di mana Alia berada.
"Jika kamu mati maka aku juga akan ikut mati bersama mu, jadi ku harap kamu bisa mengerti akan hal itu dan menerimanya!" ucap Fabian pada akhirnya tanpa ingin di bantah lagi, membuat Alia langsung terdiam seketika.
Fabian kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mencari benda tajam seperti gunting atau semacamnya yang bisa ia gunakan untuk membantu Alia. Fabian yang melihat sebuah gunting berada tidak jauh dari tempatnya lantas langsung melangkahkan kakinya ke sana dan mengambil gunting tersebut.
Fabian kemudian mendekat ke arah Alia dan melihat struktur jaket yang Alia gunakan untuk mencari bagian mana yang tidak tersambung dengan kabel pada bom tesebut.
Fabian mencoba dan terus mencoba hingga pada akhirnya....
Boom
__ADS_1
Bersambung