
Hening sesaat sampai kemudian...
"Al... apa pendapat mu tentang pertunangan?" ucap Fabian tiba tiba yang lantas membuat Alia tersedak sampai terbatuk batuk karena terkejut setelah mendengar ucapan Fabian barusan.
Uhuk uhuk uhuk...
Fabian yang melihat Alia tersedak lantas menepuk pundak Alia perlahan, berharap itu dapat membantu Alia mengurangi batuk akibat tersedak air minum barusan.
"Minumlah dengan pelan dan jangan terburu buru." ucap Fabian sambil terus menepuk pundak Alia dengan pelan.
Alia saat ini benar benar merasa panas dingin, dalam hatinya Alia benar benar tidak menyangka bahwa Fabian akan mengajaknya bertunangan, padahal semalam ia mengira Fabian hanya akan menyatakan cinta padanya. Entah mengapa mendengarnya saja membuat jantung Alie berdetak dengan sangat kencang.
Wajah Alia kini nampak bersemu merah hingga Fabian yang mengira itu adalah efek dari Alia tersedak barusan lantas mulai terlihat khawatir kepada Alia.
"Apa kamu baik baik saja Al?" tanya Fabian dengan nada yang khawatir.
"Aku... aku baik baik saja.. tenanglah hahaha" ucapnya dengan tawa yang garing. "Tak perlu khawatir kamu bisa melanjutkan ucapan mu barusan." ucap Alia kemudian sambil terus mengatur ritme jantungnya yang sudah tidak beraturan.
Fabian yang mendengar ucapan Alia barusan lantas menghela nafasnya panjang. Entah mengapa ia seperti ragu akan kalimat yang akan ia ucapkan kepada Alia.
"Aku... aku hanya ingin bertanya apa pendapat mu dengan pertunangan?" ulang Fabian lagi kali ini dengan nada yang lirih.
Alia yang mendengar hal itu lantas merasa sangat bahagia karena kenyataannya melebihi ekspetasi dan angannya kemarin.
"Em pertunangan ya? aku rasa tidaklah buruk... bukankah kita sudah sama sama dewasa untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius?" ucap Alia dengan senyum yang mengembang mengira bahwa Fabian akan mengajaknya bertunangan.
__ADS_1
Fabian yang mendengar hal itu lagi lagi menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya dengan perlahan.
"Oh my Good!" ucap Alia dalam hati berteriak kegirangan ketika melihat Fabian membuka sebuah kotak cincin yang berisi cincin berlian cantik yang terlihat berkilauan di matanya.
Alia bahkan kini sudah nampak sangat gugup sekali, tanpa sepengetahuan Fabian sedari tadi Alia mulai merenggangkan jari jari tangannya bersiap untuk menerima cincin tersebut melingkar di jarinya.
"Apakah menurut mu cincin ini cocok untuk Shila?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuat senyuman di wajah Alia perlahan lahan terlihat mulai surut dan berganti dengan tatapan kebingungan menatap ke arah Fabian.
"Aku dan Shila sudah berteman cukup lama, aku rasa kini saat yang tepat untuk aku melamarnya." ucap Fabian dengan senyum yang di paksakan agar terlihat bahagia di depan Alia.
Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan bagai di sambar petir di siang bolong, impiannya benar benar harus berakhir sampai di sini. Pertunangan yang di bicarakan oleh Fabian nyatanya bukanlah untuk dirinya melainkan untuk Shila. Lalu mengapa rasanya sangatlah sakit?
"Emm bagus..." ucap Alia dengan nada yang bergetar, namun sebisa mungkin Alia tahan agar Fabian tidak mengetahuinya.
Fabian yang tahu Alia kecewa akan ucapannya, lantas mencoba untuk bersikap biasa saja. Dengan senyuman yang palsu Fabian lantas memasang wajah yang ceria tepat ketika mendengar jawaban dari Alia barusan.
"Heem.." ucap Alia sambil mengangguk seakan mengiyakan ucapan Fabian barusan.
Alia menggenggam erat dress miliknya berharap itu mampu untuk sedikit meringankan gejolak di hatinya. Namun nyatanya sekuat apapun genggaman tangannya tetap tidak bisa mengurangi rasa sakit di hatinya.
Keduanya kembali hening seakan akan mereka kesepian di tengah ramainya pengunjung di area Bazar tersebut. Baik Alia maupun Fabian seakan hanyut menanggung rasa kekecewaan masing masing yang kini tengah menggerogoti hati mereka.
Alia menggigit bibir bawahnya agar tidak sampai terisak sehingga terdengar oleh Fabian, sedangkan Fabian menatap ke arah kotak cincin yang berada di tangannya dengan manik mata yang berkaca kaca namun tanpa suara.
"Maaf... maaf..." ucap Fabian dalam hati ketika melihat wajah sedih milik Alia.
__ADS_1
Hingga kemudian Alia yang sudah tidak sanggup lagi untuk berakting terlihat mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Emm Bi... sepertinya aku harus pulang duluan... ada yang perlu aku beli untuk kak Lea... kita berpisah sampai di sini saja, terima kasih untuk hari ini." ucap Alia dengan nada yang menahan isak tangisnya.
"Biar aku yang mengantar mu." ucap Fabian hendak bangkit berdiri namun di cegah oleh Alia.
"Tidak usah... tidak perlu Bi... bukankah ini weekend? hari ini tentu akan sangat cocok untuk melamar Shila? pergilah aku mendukung mu..." ucap Alia dengan senyum yang di paksakan.
"Tapi Al..." ucap Fabian namun tercekat ketika melihat wajah tersenyum Alia namun dengan mata yang berkaca kaca.
"Tak apa... pergilah... semangat! kabari aku jika Shila sudah menerima lamarannya." ucap Alia. "Sampai jumpa lagi Bi..." ucap Alia lagi sambil melambaikan tangannya ke arah Fabian kemudian berlalu pergi.
Air mata Alia yang sudah tidak bisa di tahan lagi, lantas langsung terjun bebas tepat ketika ia berbalik badan. Bibirnya bergetar menahan isak tangisnya agar tidak keluar. Di tengah keramaian orang orang yang berlalu lalang, Alia menumpahkan air matanya dengan deras sambil terus berjalan menjauh dari Fabian yang hingga kini masih menatap punggung Alia hingga menghilang dari pandangannya.
Dua orang yang saling mencintai berpisah tanpa sebuah kata cinta yang mereka ucapkan sebelum kata perpisahan. Tidak ada yang berani meneriakkan luka mereka ketika keadaan lah yang memaksa mereka untuk tidak lagi bersama.
Alia pergi dengan sejuta cinta untuk Fabian, hem kata itu bahkan belum sempat Alia ucapkan untuk Fabian tadi, namun ia sudah terlanjur mendapat sebuah fakta yang menghancurkan hatinya hingga berkeping keping.
**
Kepergian Alia membuat Fabian menyadari begitu bodohnya ia yang selalu saja mengutamakan orang lain ketimbang perasaannya sendiri.
Fabian bahkan kini merutuki kebodohannya berkali kali, namun sayangnya hanya dengan merutuki kebodohannya saja tidak akan membawa Alia kembali kepadanya.
Punggung Alia kini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya, membuat Fabian lantas melempar dengan kesal air mineral yang ada di tangannya dengan begitu saja.
__ADS_1
"Bencilah aku Al... bencilah aku hingga rasa cinta yang ada di hatimu tidak lagi terasa menyakitkan. Aku adalah pria bodoh yang tidak bisa mengedepankan ego dan lebih memilih kepentingan orang lain di atas kepentingan ku. Bencilah aku Al... bencilah aku..." ucap Fabian dalam hati dengan air mata yang menetes membasahi pipinya tanpa suara.
Bersambung