
Ruangan Ardan yang terletak di bengkelnya.
Dari arah pantry terlihat Allea tengah membawa secangkir teh dengan perlahan menuju ke arah sofa.
Allea melangkahkan kakinya perlahan sambil terus fokus agar teh tersebut tidak tumpah dari gelasnya. Setelah sampai tepat di sebelah meja, barulah Allea menaruhnya secara perlahan dan mendekatkannya ke arah Arsa.
"Terima kasih" ucap Arsa sambil tersenyum dengan cerah ke arah Allea.
Allea yang melihat senyuman tersebut, lantas langsung dengan spontan menunduk seakan takut dengan Arsa.
"Kamu boleh pergi ke kamar dulu Lea, nanti aku akan menyusul mu..." ucap Ardan sambil tersenyum ke arah Allea dan mengusap punggung Allea secara perlahan.
"Apa kamu yakin?" tanya Allea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Allea barusan.
Ardan yang mendengar pertanyaan dari Allea barusan, lantas langsung mengangguk dengan cepat sambil tersenyum ke arah Allea, membuat Allea mau tidak mau harus setuju dan meninggalkan keduanya untuk berbicara berdua.
"Ada apa mama lakukan dengan datang kemari?" tanya Ardan kemudian setelah kepergian Allea dari sana.
"Mama hanya merindukan mu Ar... bukankah kamu sudah terlalu lama meninggalkan rumah?" ucap Arsa kemudian dengan nada yang lembut sambil menatap ke arah putranya tersebut.
"Jika mama kemari untuk membujuk ku meninggalkan Allea, aku minta maaf ma aku benar benar tidak bisa..." ucap Ardan langsung menebak maksud kedatangan dari Arsa kemari.
Arsa yang mendengar ucapan dari Ardan barusan, lantas langsung berpindah tempat ke sebelah Ardan kemudian menggenggam erat tangan Ardan, membuat Ardan sedikit bingung akan apa yang kini tengah di lakukan oleh Arsa.
"Apa kamu mencintainya nak?" tanya Arsa kemudian.
"Apakah itu penting bagi mama? bukankah kehidupan rumah tangga itu bukan selalu karena cinta ma? jadi tidak ada alasan bagi mama menanyakan hal tersebut pada Ardan." jawab Ardan dengan nada yang datar.
"Mama tahu kamu tidak mencintainya, pasti ada sesuatu yang terjadi bukan Ar? kamu bisa menceritakan semuanya pada mama, jangan memendamnya Ar.." ucap Arsa lagi, membuat Ardan lantas langsung menatap ke arah Arsa dengan spontan.
Ardan yang mendengar ucapan Arsa barusan lantas dengan spontan langsung bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ma aku mohon hargai keputusan ku, dengan mama terus menanyakan akan hal itu.. bukankah itu sama saja dengan mama yang mempertanyakan pernikahan ku dan juga Allea? aku rasa sebaiknya mama pulang saja, aku hendak melanjutkan kembali pekerjaan ku." ucap Ardan kemudian dengan nada yang mencoba untuk menahan perkataannya yang kesal agar tidak keluar dan menyakiti Arsa.
"Tapi Ar mama..." ucap Arsa namun keburu di potong oleh Ardan barusan.
"Ma ku mohon..." ucap Ardan dengan nada yang memohon kepada Arsa.
Arsa yang mendengar ucapan Ardan barusan, pada akhirnya mau tidak mau melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Kembali ke Rumah sakit
"Tidak, aku hanya datang untuk membesuk Shila, bukankah kau juga mengenalnya?" ucap Fabian kemudian.
Lita yang tadinya berwajah sumringah lantas perlahan lahan terlihat mulai berubah, membuat Fabian lantas kebingungan akan ekspresi wajah Lita yang langsung berubah drastis ketika ia menyebutkan nama Shila barusan.
"Sebenarnya ada sesuatu tentang Shila, em bagaimana aku mengatakannya ya?" ucap Lita dengan nada yang ragu ragu.
"Ya, kamu tahu? kesehatan mental Shila sedang terguncang kali ini, aku sudah menyarankan agar Shila di bawa ke psikiater sebelum mentalnya semakin terganggu, namun ketika aku menyarankannya kedua orang tua Shila seakan menolak saran ku untuk merujuk Shila pada dokter psikiater." ucap Shila menjelaskan.
"Seberapa parah Lit?" tanya Fabian kemudian dengan raut wajah yang khawatir ketika mendengar berita tersebut.
"Aku tidak terlalu yakin akan hal itu karena aku bukan dokter spesialis yang menangani masalah kejiwaan, hanya saja jika melihat secara kasar akan kondisi Shila saat ini dia sedang tidak baik baik saja. Emosinya benar benar naik turun dan mudah terganggu, sudah beberapa kali Shila mengamuk atau bahkan berusaha mengakhiri hidupnya sendiri, membuat kami para dokter sedikit memperketat beberapa barang yang masuk ke kamarnya khususnya benda tajam, itupun atas permintaan secara langsung dari Direktur Utama Rumah Sakit ini." ucap Lita lagi.
Fabian yang mendengar ucapan dari Lita barusan, lantas terdiam sejenak. Beberapa ingatan tentang peristiwa sebelum Shila menyuruh Fabian ke kantin dan mencari ibunya mendadak terlintas di benaknya, membuat Fabian mulai merasa khawatir akan keadaan Alia saat ini.
"Alia!" pekik Fabian sambil langsung berlari meninggalkan Lita di sana yang menatap ke arah Fabian dengan tatapan yang bingung akan apa yang baru saja terjadi.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Lita sambil menatap kepergian Fabian dengan tatapan yang bingung.
**
__ADS_1
Ruangan perawatan Shila
Fabian yang sudah berlarian dari arah kantin, lantas langsung membuka pintu ruang perawatan tersebut dengan spontan, hingga membuat pintu tersebut menatap tembok dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Fabian yang baru saja membuka pintu ruangan tersebut, lantas sedikit di buat terkejut karena ada beberapa perawat yang tengah memasangkan kembali selang infus ke tangan Shila.
"Maafkan aku, tapi bisakah kalian keluar sebentar?" ucap Fabian kemudian pada dua orang perawat yang terlihat tengah berdiri di samping kanan dan kiri Shila.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya salah satu suster tersebut.
"Tidak perlu, saya hanya perlu berbicara berdua dengan Shila." ucap Fabian kemudian sambil berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.
"Baiklah, hanya saja saya harap anda tidak menimbulkan keributan dan menganggu ketenangan pasien." ucap suster tersebut yang di balas Fabian dengan anggukan kepala.
"Bi..." panggil Shila dengan nada yang lirih.
"Di mana Alia?" tanya Fabian secara to the point sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Entah, tadi dia keluar setelah kamu pergi dari sini." ucap Shila dengan nada yang santai, membuat Fabian lantas langsung menoleh menatap ke arahnya.
"Jangan bohong Shila, aku tahu bahwa Alia masih ada di sini, di mana Alia?" ucap Fabian lagi yang tidak langsung mempercayai ucapan dari Shila barusan.
"Sungguh, apa aku terlihat seperti sedang berbohong?" tanya Shila kemudian yang langsung membuat Fabian termenung seketika.
Fabian yang tidak menemukan tatapan ragu ragu pada manik mata Shila, lantas mengusap rambutnya dengan kasar. Fabian yakin ada sesuatu yang terjadi pada Alia, namun Fabian tidak tahu apa itu.
Fabian yang merasa pembicaraannya dengan Shila hanya sia sia semata, lantas hendak berlalu pergi dari ruangan perawatan Shila bermaksud untuk mencari Alia di luar. Hanya saja ketika baru beberapa kali melangkah, sepatu yang ia kenakan menginjak sesuatu benda yang lantas membuat Fabian langsung menunduk dan bersimpuh untuk melihat benda tersebut.
"Bukankah ini kancing baju Alia?"
Bersambung
__ADS_1